oleh : Hu Wei Lin

Sering kita mendengar istilah Siu Sin Yang Sin (merevisi yang jelek dan mempertahankan yang sudah baik) dibicarakan dalam acara diskusi dengan para sesiung / secie, tetapi kearah mana kita harus merevisi diri? Apa patokan yang dapat kita pakai dalam merevisi diri ? Bukankah seperti kita mengendarai mobil harus ada tujuan yang jelas, supaya tidak berputar-putar tanpa arah dan tidak sampai kemana-mana?

 

Beberapa tahun yang lalu penulis membaca buku psikologi yang menganjurkan agar kita menuliskan semua tujuan kita (dalam hal pengembangan kepribadian, keuangan, hubungan keluarga, dll) yang kemudian dibaca setiap hari untuk mengingatkan kita agar kegiatan kita sehari-hari mengarah pada tujuan yang sudah ditentukan.

 

Point tujuan dalam pengembangan kepribadian ini berkaitan dengan istilah Siu Sin Yang Sin dalam Siu Tao, karena itu penulis menempelkan dipintu lemari, “8 poimt yang perlu dikurangi dalam Siu Tao”, yaitu :

Iri hati

Kritik menyerang orang lain

Menonjol-nonjolkan diri

Dendam

Perhitungan – perhitungan

Keisengan pada masalah orang lain

Mau menang sendiri

Menganggap diri yang paling benar sendiri.

 

Beberapa minggu kemudian penulis membaca buku psikoligi lain yang mengatakan bahwa guru sekolah banyak yang salah menangani murid. Bila muridnya ada yang nakal disuruh menulis 10 lembar kalimat “Saya tidak akan nakal lagi”, yang mana bukannya murid tersebut menjadi baik, tetapi malah bertambah nakal, karena kata “nakal” justru tertanam makin dalam dipikirannya.

 

Seperti kalau penulis bilang “anda jangan membayangkan kuda putih”, maka yang terbayang dalam pikiran anda justru “kuda putih” bukan ?

 

Seharusnya guru sekolah itu menyuruh muridnya menulis 10 lembar kalimat “saya akan lebih baik”, niscaya murid yang nakal itu akan menjadi lebih baik.

 

Saat itu juga penulis mencopot kertas berisi “8 Point yang perlu dikurangi dalam Siu Tao” tersebut. Lalu apa yang harus ditempelkan disitu? Penulis mencari dalam catatan-catatan Siu Tao, apa point-point yang merupakan kebalikannya, ternyata penulis menemukan 16 point yang harus kita pupuk untuk dapat menjadi umat Tao yang baik, point-point itu adalah :

 

  1. CUNG            = Setia kepada Negara
  2. HAU / SIAU = Berbakti kepada orang tua
  3. HO                  = Selalu bersikap Damai
  4. SUEN             = Mengikuti Arus Yang Benar
  5. REN                = Setia Kawan / Negara
  6. SIN                 = Tanamkan Kepercayaan Satu Sama Lain
  7. CHE                = Sabar / Tidak Gampang Marah
  8. CIEN              = Tidak Boros / Hemat
  9. JEN                 = Tahan Diri / Mengendalikan Emosi
  10. CING              = Saling Menghormati
  11. LIE                  = Sopan Santun
  12. LIEN               = Murah Hati
  13. AI                    = Cinta Kasih
  14. SAN                = Beramal / Berbuat Baik
  15. CE                   = Cerdas / Pandai
  16. CHE                = Welas Asih

 

Lalu penulis membaca buku Condusianisme dan menemukan 13 point yang dianjurkan supaya kita menjadi manusia yang rumah tangganya rukun dan sukses berkarier, yaitu :

           

  • Cinta Kasih Universal
  • Kebenaran Luhur
  • Kesusilaan / Sopan Santun
  • Kebijaksanaan
  • Kejujuran / dapat dipercaya
  • Berbakti
  • Rendah hati / Rasa hormat
  • Setia
  • Suci hati / Sederhana
  • Tahu malu
  • Lapang dada / Berpandangan jauh
  • Giat bekerja
  • Menaruh belas kasihan / berpengertian

 

 

Dalam proses diskusi selanjutnya dengan teman-teman yang beragama Katolik dan Islam, maka semakin jelas bahwa 16 ponit  tersebut berlaku universal, karena dapat menjadi kebalikan positif dari “10 Perintah Tuhan” dalam agama Katolik / Kristen.

 

Demikianlah sedikit pengalaman penulis dan semoga bermanfaat bagi para pembaca.