Intan Dalam Debu – the web

HIKAYAT HUANG TIE ATAU KAN YEN HWANG TIE

Posted by adminidb January 27, 2014, under Volume 10 | No Comments

"

HIKAYAT HUANG TIE ATAU KAN YEN HWANG TIE

Oleh : Siem Sit Cong – Purworejo

 

HIKAYAT HUANG TIE ATAU KAN YEN HWANG TIE

Mengenai hikayat Yen Tie dan Huang Tie mempunyai banyak versi, salah satunya sebagai berikut : Konon Yen Tie dan Huang Tie keduanya adalah putera dari seorang raja bermarga Sao Tien di Yu Siung “(sekarang propinsi Ho Nan, Sin Cen Sien). Ibu Yen Tie bermarga Jiao adalah istri pertama, sedangkan ibu Huang Tie bermarga Fu Pao melahirkan Huang Tie di lembah Kan Yen”.

 

Karena Yen Tie beroman buruk, hingga tidak disukai oleh ayahnya, maka ia tinggal bersama ibunya di Ciang Sue Ho, sedangkan raja Sao Tien sendiri tinggal bersama dengan Huang Tie dan ibunya di Jie Sue Ho. Jie Sue Ho “dahulu asalnya bernama Yin Sue Ho, karena selir raja Sai Tien (ibu Huang Tie) berparas cantik maka diganti nama menjadi Jie Sue Ho, Huang Tie mengambil nama tempat itu yakni Jie sebagai nama marga, sedangkan Yen Tie juga mengambil nama tempat dimana ia tinggal yakni Ciang sebagai nama marga.

 

Menurut catatan sejarah, Huang Tie bersifat jujur dan realistis serta sangat cerdas, setelah dewasapun sikapnya arif bijaksana, maka ia sangat disanjung dan dicintai oleh rakyat sukunya. Setelah ia menjadi pemimpin suku Yu Siung dengan memanfaatkan letak geografi wilayahnya yang strategis dan didukung oleh kesuburan tanah serta hasil alamnya yang melimpah, ia melatih keprajuritan, membuat peralatan perang, menghimbau rakyat untuk menggalakkan pertanian dan meningkatkan produksi, sehingga kekuatan kelompok suku yang dipimpinnya semakin luas semakin tangguh.

 

Lagi pula Huang Tie memang sangat piawai dalam bidang politik dan pertanian, ia menjalankan pemerintahan dengan penuh kebijaksanaan dan pandai menarik simpati orang sehingga banyak kelompok suku kecil yang lemah ikut bergabung dengannya, menjadikan kelompok suku Yu Siung yang dipimpinnya lama-kelamaan menjadi besar dan terkuat di wilayah Cung Yen (Tiongkok Tengah). Demi memperluas daerah kekuasaannya, Huang Tie memimpin kelompok sukunya mengadakan ekspansi ke utara, yaitu ke Cu Lu (Di Propinsi Ho Pei), ketika itu Yen Tie sudah berada disekitar daerah itu, maka timbul bentrokan antara kedua kelompok itu dan terjadilah peperangan di Pan Jien (sekitar Cu Lu), Yen Tie mengalami kekalahan lalu bergabung dengan Huang Tie, sejak saat itu di daerah aliran sungai kuning daratan Cung Yen munculah kelompok suku bernama Hwa Siu dibawah pimpinan Yen Tie dan Huang Tie, yang kian hari kian kuat dan besar, yaitu suku Tiong Hwa. Inilah asal-usul sejarah bangsa Han kita.

 

Konon sebelum Huang Tie berperang melawan Ce Yu di Cu Lu, kekuatan kelompok sukunya sudah sangat besar dan kuat. Disamping melatih prajuritnya dan membuat persenjataan perang, juga telah menciptakan alat sejenis kompas. Demi untuk meraih kemenangan dalam perang melawan Ce Yu, ia mempersiapkan segalanya, baik moral maupun material, bahkan diwaktu perang, Huang Tie memimpin langsung enam kelompok suku yang logo panjinya bergambar binatang-binatang buas, akhirnya dapat mengalahkan Ce Yu dan menumpas kelompok suku Li. Setelah menang, bermarkas di Cin San (di propinsi Ho Pei) dan diangkat menjadi kaisar.

 

Huang Tie dalam mempersatukan Cung Hwa sangat besar sekali jasanya, maka oleh generasi selanjutnya ia dan Yen Tie, disanjung dan dipuja sebagai leluhur dari bangsa Han, akan tetapi sesungguhnya pamor Huang Tie lebih menonjol dari Yen Tie.

 

Setelah mempersatukan Cung Hwa, Hwang Tie turun tangan sendiri untuk mencari sisa sisa suku Li (suku dari Ce Yu) yang tercerai berai, membujuk mereka dan suku-suku lainnya yang lemah untuk bergabung dengannya. Dalam menjalankan inspeksinya ke Timur, mencapai Tung Hay (Laut Timur). Ke Selatan sampai Ce Ciang, Huang San (Gunung Huang San), ke barat, hingga Guen Luen (Gunung Kun Lun), ke utara mencapai Mao San (Gunung Mai San). Jejaknya meliputi seluruh wilayah aliran sungai kuning dan sepanjang daerah aliran sungai Tiang Kang.

 

HIKAYAT HUANG TIE ATAU KAN YEN HWANG TIE

Setelah menguasaiseluruh wilayah sungai kuning, ada beberapa kelompok dari sekutunya menyarankan untuk memakai panji Yu Siung (panji dari kelompok Huang Tie) sebagian panji kesatuan, tetapi usul ini divoting/ditolak oleh Huang Tie dengan pertimbangan kalau memakai panji dari sukunya, akan bisa menyinggung dan melukai perasaan kelompok suku lainnya, demi untuk menjaga persatuan dan kesatuan sekutu-sekutunya, maka ia memutuskan memakai badan ular untuk gambar logo panjinya yang baru, sisik ikan sebagai sisiknya, ekor ikan sebagai ekornya, kepala singa sebagai kepalanya, tanduk rusa sbagai tanduknya, dan cakar elang sebagai cakarnya, logo gambar panji yang baru ini, ia beri nama Lung (naga). Maka pada generasi selanjutnya orang-orang Tiong Hwa menyebut dirinya sebagai Lung Te Juan Ren “yang artinya adalah Generasi Keturunan Naga, asal usulnya dari sini”.

 

Dalam sejarah tercatat : Huang Tie menikah pada usia 30 tahun, ia menikahi istri-istrinya berdasarkan pertimbangan jasa, bukan atas dasar kecantikan wajahnya. Huang Tie mempunyai 4 orang istri (ada yang bilang 6 orang), istri pertama Lei Cu dan istri kedua Mo Mu yang paling besar jasanya. Lei Cu menemukan pengetahuan pemeliharaan ulat sutera. Mo Mu menemukan pengetahuan menenun kain, atas koordinasi dan bimbingan mereka, rakyat lambat laun meninggalkan kebiasaan memakai kulit binatang atau dedaunan sebagai penutup tubuh dan beralih ke memakai kain yang lebih halus dan hangat sebagai penggantinya.

 

Huang Tie juga memerintahkan “Jang Ci” untuk menciptakan tulisan, karena pada jaman itu, bila orang ingin mencatat sesuatu, hanya membuat bundelan-bundelan dari tali atau membuat guratan-guratan dipokok kayu atau batu. Mengacu pada pekembangan jaman dan peningkatan dalam bidang produksi, cara-cara primitif diatas sudah tidak efisien dan tidak bisa lagi mencukupi kebutuhan masyarakat. Jasa Jang Ci sangat besar dalam menjembatani perkembangan kemajuan peradaban manusia karena menciptakan tulisan, dengan adanya tulisan dapat mempercepat penyampaian berita, produk dapat meningkat  pesat, pengaturan kemasyarakatan lebih maju dan beradab, kreativitas manusia dapat tersalur dengan maximal. Oleh karena itu beraneka ragam penemuan baru muncul bagai cendawan di musim hujan.

 

Menurut catatan sejarah, pada masa pemerintahan Huang Tie, ilmu teknologi maju dengan pesat, meskipun banyak penemuan-penemuan jaman itu menurut orang jaman sekarang adalah sangat sederhana, akan tetapi pada masa lima ribu tahun yang lalu dimana manusia masih primitif dan baru saja mau masuk masa peralihan, bisa menggunakan semangat dan kreativitas yang tinggi untuk menciptakan sarana kehidupan dan produk yang lebih maju, sungguh hal yang tidak mudah dan patut dihargai. Apalagi diantara penemuan-penemuanitu setelah mengalami masa uji hingga 5000 tahun lamanya, saat ini masih tetap mendukung sarana kehidupan bukan saja hanya untuk keturunannya saja, akan tetapi untuk manusia di jaman super canggih seperti sekarang. Dari hal inisecara kongkrit membuktikan bahwa nenek moyang kita sangat kreatif dan inovatif.

 

Huang tie selain memerintahkan Lei Cu dan Mo Mu untuk memelihara ulat sutra dan menenun kain, memberi perintah pada Jang Ci untuk menciptakan tulisan. Juga masih memerintahkan :

  • Pe Kao untuk mengeksplorasi hasil tambang, membuat peralatan dari logam.
  • Putra dari Ning Fung untuk membuat keramik.
  • Je Ciang sebagai ahli pertukangan dari kayu untuk membuat perabotan dan alat dapur.
  • Pa Ie membuat kereta.
  • Kung Ku membuat perlengkapan kereta.
  • Ie Ho dan Jang Ie untuk mengamati perbintangan.
  • Rung Su untuk membuat kalender.
  • Li Sou untuk menciptakan ilmu berhitung.
  • Ce Pe dan Lei Kung untuk menyusun kitab pengobatan.

 

Pembuatan alat pendukung ini sangat penting untuk memajukan kemakmuran rakyat.

 

HIKAYAT HUANG TIE ATAU KAN YEN HWANG TIE

Dalam bidang ketenangan batin Huang Tie menjalankan pola sistem yang adil dan bijaksana, ia memerintahkan dengan arif dan sabar, sehingga menjadi sangat disanjung dan dicintai oleh rakyatnya, ia sangat menitik beratkan kemajuan bidang pertanian, maka dibawah bimbingan langsung darinya rakyat diajarkan cara-cara bercocok tanam dan peririgrasian serta cara menjaga kelestarian alam, disamping itu ia juga mengajarkan rakyatnya dalam bidang peternakan.

 

Menurut cerita, Huang Tie mempunyai 25 orang anak, diantaranya 14 orang telah dinobatkan menjadi raja dan didirikan kelompok marga sendiri, selanjutnya kelompok-kelompok ini bergabung lagi dengan kelompok lain dan tersebar kemana-mana serta beranak cucu, sehingga terbentuklah suku Tiong Hwa.

 

Huang Tie bertahta selama 100 tahun (± 2697 SM – 2597 SM), hidup mencapai usia 100 tahun lebih, mengenai sebab kematiannya ada dua versi, versi pertama mengisahkan, ia pergi ke gunung “Jiao San” (di San Si Kabupaten Huang Ling, sebelah utara kota), diseberang depan makamnya dibangun sebuah bangunan semacam klenteng besar yang diberi nama Huang Tie Jao, sebelah dalam klenteng banyak ditumbuhi pepohonan yang tinggi dan besar-besar, diantaranya pohon Pek yang tumbuh lebih tinggi dan lebih besar dibanding dengan pohon lainnya, kono katanya pohon itu pohon Pek yang ditanam sendiri oleh Huang Tie. Didalam aula klenteng tergantung sebuah papan besar yang bertuliskan Ren Wen Ce Ju (Cikal Bakal Peradaban Manusia), sampai sekarang pada setiap tahun bulan Ceng Beng, banyak dikunjungi oleh bangsa kita, baik yang dalam negeri maupun yang dirantau untuk berziarah ke makamnya.

 

Versi kedua mengisahkan bahwa Huang Tie dikubur di Yu Siang yakni ditanah kelahirannya sendiri, setelah meninggal, pakaian kebesarannya ditanamkan di Jiao San, sedangkan sepatu dan kaos kakinya dikuburkan di Sing San (Gunung Panjang Usia) sebagai bukti yang konon Huang Tie dimakamkan di tempat itu.

 

Baik bagaimana cara meninggalnya, maupun dimana ia dimakamkan, yang jelas jasa Huang Tie dalam pembentukan jati diri dan peradaban Suku Tiong Hwa sangat besar, jasa-jasanya akan senantiasa dikenang dan terpatri dalam sanubari setiap insan Tiong Hwa.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*