Intan Dalam Debu – the web

PUTI – Jakarta Berdharma Sosial

Posted by adminidb February 23, 2014, under Volume 10 | No Comments

PUTI – Jakarta Berdharma Sosial

Oleh : AWI - Jakarta

 

Rombongan pertama berangkat dari Taokwan pukul 09.00

 

Rute pertama yaitu ke Panti Asuhan “PUERA ASIH” Tangerang. Sesampai disana kami disambut ramah oleh ketua panti dan anak-anak panti.

 

Disana ada ± 50 orang anak Yatim Piatu. Diantara mereka ada yang dititipkan oleh paman / kerabat mereka karena orang tua mereka tidak diketahui keberadaannya. Ada juga yang dititipkan oleh Polisi karena ditemukan di tempat-tempat umum seperti di pinggir-pinggir jalan / halte-halte bus dan tidak memiliki identitas.

 

Mereka semua disekolahkan di sekolah-sekolah negri di daerah setempat yang dibiayai oleh Panti Asuhan dimana dana tersebut disalurkan oleh Pemerintah setiap bulannya. Kegiatan mereka setelah pulang sekolah antara lain membuat kerajinan tangan, pengajian dan membersihkan lingkungan Panti.

 

Di setiap kamar disediakan papan tulis untuk menagjar anak-anak yang masih kecil oleh kakak-kakak kelas mereka. Mereka diberi kesempatan tinggal di Panti Asuhan sampai kurang lebih umur 15 tahun / sampai mereka memiliki pekerjaan untuk membiayai hidup mereka sendiri.

 

Panti Asuhan Putera Asih bersedia memberikan sebagian dari persediaan makanan mereka untuk panti asuhan lain yang memerlukan bantuan.

 

Rombongan kami singgah kurang lebih 1 jam, berkeliling disekitar panti dan sempat dibuat terkejut karena mobil yang membawa barang mogok, alhasil sebagian anak-anak panti ikut membantu mendorong mobil box yang mogok. Setelah selesai kami berfoto-foto bersama, kami berpamitan.

 

Perjalanan dilanjutkan ke daerah karawaci Binong Tangerang. Di sana ada pemukiman warga keturunan Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Semua makanan dan pakaian, sepatu ditampung di rumah Ketua RT daerah setempat, sebelumnya kami membagikan kupon untuk ditukar dengan makanan dan pakaian. Suasana menjadi hiruk pikuk saat kami membagikan sepatu sekolah. Anak-anak kecil berteriak meminta nomor sepatu yang sesuai dengan ukuran mereka.

 

Setelah selesai dibagikan, sempat pula kami memfoto seorang ibu tua yang telah puluhan tahun tinggal di gubuk tuanya yang hampir rubuh. Kamipun berpamitan dengan ketua RT dan melanjutkan perjalananke rumah salah seorang Taoyu untuk berkumpul dengan rombongan kedua serta makan siang bersama. Sampailah kami pada akhir perjalanan yang meninggalkan kesan yang mendalam bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang kekurangan dan sangat memerlukan bantuan serta pertolongan dari kita semua yang terkadang tanpa disadari terlupakan. Tak kalah penting, hal ini juga merupakan pelajaran bagi kami untuk menghargai apapun yang sudah kami dapatkan.

 

Hidup akan lebih berarti bila kita saling mengisi dan saling membagi.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*