Intan Dalam Debu – the web

Sie Si Su Su, Sin Ol Pu Mi. Ciang Hu Ce Se, Pi Te Pao Ing. Su Su Ru Sue, Neng Fu Neng Can. Ci Sang Ol Sie, Ciu Ren Li Ci.

Posted by adminidb July 13, 2014, under Volume 10 | No Comments

Sie Si Su Su, Sin Ol Pu Mi. Ciang Hu Ce Se, Pi Te Pao Ing. Su Su Ru Sue, Neng Fu Neng Can. Ci Sang Ol Sie, Ciu Ren Li Ci

Oleh : Siem Sit Cong – Purworejo

 
Mempelajari Ilmu Kebatinan atau Ilmu Keagamaan, pokok yang utama adalah percaya tetapi tidak kehilangan jati diri, karena pasti akan menimbulkan side efek (akibat sampingan). Segala ilmu bagaikan air, yang bisa mengapungkan atau menenggelamkan, pelajarilah dengan betul, agar supaya bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bisa untuk menolong orang lain.

 

Demikianlah makna dari syair di atas.

 

Jalan untuk merevisi diri yang paling sulit, adalah jalan kebatinan atau keagamaan, mengapa / oleh karena jalan ini menyangkut ego kita sebagai manusia, sehingga orang yang kurang waspada akan tersesat tujuannya. Misalnya, ada orang kebatinan yang bercita-cita untuk memperoleh kegaiban supaya bisa berpengaruh di dalam masyarakat, atau ada pula yang mencari penglaris, kekayaan dan sebagainya, supaya dapat hidup beruntung di alam dunia. Ada pula orang beragama yang memuja-muja pada Tuhan atau Nabi, dengan tujuan supaya kelak kemudian setelah meninggal dapat masuk sorga atau nirwana. Ada juga yang setiap hari bersujud dan memuja pada para Adept, mahatma, Sin Bing dan sebagainya, supaya diberi bimbingan untuk mencapai cita-citanya yang egoistic itu.

 

Kesemuanya ini ternyata jalannya tersasar, oleh karena segala usaha ini hanya memperbesar ‘Sang Aku’, atau menambah egoisme; atau setidak-tidaknya melemahkan kemampuannya sendiri, sebab baik kemajuan dalam taraf kehidupan ataupun mempertinggi jenjang kebatinan semuanya tergantung atas ‘Tekad’ atau ‘Keuletan’ dan ‘Kepercayaan’ diri sendiri, tidak dapat mengandalkan pada pertolongan dari pihak lain.

 

Dari syair ini ternyata bahwa sejak beberapa puluh abad yang lampau LAOTZE sudah memperingatkan bahwa untuk mencapai hasil dengan cara jalan memuja-muja pada makhluk suci. Pada Tuhan, Sin Bing dan sebagainya ternyata sia-sia belaka, bahkan melemahkan kemampuannya sendiri, karena kita sebagai manusia yang oleh alam telah diberi tangan, kami, mata, telinga, pikiran dan segala alat-alat yang serba lengkap dan serba sempurna. Maka kita harus mempunyai kepercayaan atas diri sendiri, bahwa kita mempunyai kemampuan dan mempunyai kekuatan untuk mencapai segala usaha kita atas tenaga sendiri, asal saja kita mempunyai kemauan yang keras dan tekad yang tak kunjung padam dan sungguh hati untuk menempuh jalan ini.

 

Demikian pula cinta kasih dan beramal sebetulnya adalah sifat-sifat yang mulia, tetapi oleh karena didengung-dengungkan atau dipuja-pujakan sehingga sifatnya jadi tidak wajar, hanya polesan belaka, kosmetik, bikinan dari manusia sehingga bertentangan dengan hukum alam, karena banyak ‘kepalsuan’nya. Cinta kasih digunakan sebagai reklame dan kebajikan / beramal sebagai politik. Melakukan cinta kasih dengan perhitungan untung rugi dan melakukan kebajikan/beramal dengan mengharap imbalan berlipat ganda atau dengan pamrih, atau setidak-tidaknya cinta kasih itu hanya dicurahkan dalam kalangan yang terbatas dan yang sempit, misalnya hanya pada golongannya sendiri sajalah yang dicinta, tetapi golongan yang lain dibenci.

 

Maka LAOTZE menganjurkan kita supaya istilah cinta-kasih dan kebajikan itu tidak dipuja-puja secara kelewat batas, agar dapat sewajarnya dalam mencurahkan bakti dan saling mencintai dengan setulus hati.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*