Intan Dalam Debu – the web

Upacara Kematian Secara Tao

Posted by adminidb July 13, 2014, under Volume 10 | No Comments

Upacara Kematian Secara Tao

Oleh : Nina – Jakarta

 

Mendengar kata ‘Kematian’ tentu saja tidak mengenakkan semua orang, baik bagi orang yang mendengar, terlebih lagi bagi keluarga yang ditinggalkan. Walaupun demikian, kematian merupakan realita hidup yang memang harus dihadapi, karena memang itulah alamiahnya sebuah kehidupan.

 

Sebagai suatu agama, tentu saja agama Tao mempunyai ritual-ritual ataupun upacara-upacara yang berkenaan dengan kematian.

 

Upacara kematian agama Tao dapat dibagi menjadi 6 bagian penting :

  1. Upacara Pemakaian Baju JEN FUK.
    Sebelum jenasah dimasukkan ke dalam peti, keluarga memakaikan baju untuk yang terakhir kalinya, di dalam agama Tao ada upacara (doa) untuk pemakaian baju ini.
  2. Upacara masuk peti ‘RUK LIEN’.
    Upacara ini dilakukan pada saat jenasah hendak dimasukkan ke dalam peti. Hal ini cukup dilakukan oleh seorang Huang Ie (Tao Yu jubah kuning) sebagai pembaca doa dan tentu saja upacara ini harus dihadiri dan diikuti oleh keluarga yang berduka tersebut. Jika ingin lebih semarak, boleh ditambah dengan 4 (empat) orang Huang Ie untuk berjaga di empat sudut penjuru.
  3. Upacara menhantar arwah ‘JAO TU’.
    Upacara ini biasa dilakukan pada saat malam kembang. Jao Tu ini dimaksudkan untuk menghantarkan arwah tersebut ke ‘Gerbang’ sana dengan tanpa diganggu oleh roh ataupun makhluk lain, acara inipun harus diikuti oleh pihak keluarga. Upacara Jao Tu biasanya dilakukan oleh 12 (dua belas) orang Huang Ie. Satu Huang Ie akan berlaku sebagai pemimpin upacara yang membaca doa, dua orang Huang Ie wanita membawa lentera (Ten Lung) yang dimaksudkan untuk menerangi jalan untuk sampai ke alam sana. Empat orang Huang Ie akan bertugas membawa Siang Fen (bubuk cendana) yang akan dibakar di anglo kecil dibawah peti agar harumnya tembus ke langit tingkat sembilan. Empat orang Huang Ie lain bertugas membawa Siang Sui (minyak wangi), dimaksudkan agar harumnya bisa bertahan sampai ribuan tahun. Sedangkan satu orang Huang Ie lagi akan bertugas menepuk peti mati dengan maksud membangunkan arwah tersebut untuk diantar.
  4. Upacara pemberangkatan jenasah ‘JUK PING’.
    Setelah pihak keluarga mencari hari dan jam yang tepat untuk menguburkan / memperabukan jenasah, maka pada saat pemberangkatannyapun kita bisa mengadakan upacara secara Tao. Upacara ini cukup dilakukan oleh 1 (satu) atau 2 (dua) orang Huang Ie, satu orang akan bertindak sebagai pemimpin upacara sedang yang satu lagi membantu untuk mempersiapkan segala sesuatunya serta bertugas mengatur pihak keluarga. Terakhir kali setelah jenasah siap di dalam mobil, dan mobil siap berangkat, sebuah semangka dipecahkan sambil mengucapkan mantra tertentu mohon kepada Dewa Erl Lang Sen untuk datang melindungi serta menjaga agar semua selamat dan tidak terjadi halangan apapun, tidak lupa kemaron (kuali) bekas membakar kertas uang-uanganpun harus dipecahkan.
  5. Upacara pemakaman LOK CHANG / Pembakaran jenasah HUO CHANG.
    Setelah sampai di tempat pemakaman / perabuan, jenasah langsung disiapkan di atas liang atau di depan pintu tempat pembakaran. Meja sembahyang boleh disiapkan (biasanya kita hanya memakai buah, lilin dan hio saja), upacara dimulai dengan pembacaan doa dan dilanjutkan dengan melepaskan sepasang merpati putih. Upacara ini bisa dilakukan oleh 2 (dua) orang Huang Ie, satu sebagai pembaca doa (memimpin upacara) dan yang satu membantu untuk menyiapkan Hio serta mengatur pihak keluarga yang akan bersembahyang ataupun yang akan menabur bunga agar tidak berdesakan. Jika ingin lebih semarak boleh ditambah dengan 4(empat) orang Huang Ie yang bertugas menjaga di empat penjuru.
  6. Jika jenasah diperabukan (dibakar), masih ada satu upacara lagi yaitu Upacara Penaburan Abu jenasah ke laut. Upacara ini dilakukan oleh 5 (lima) orang Huang Ie (jika terpaksa boleh tiga orang). Laut memang sama, tetapi untuk upacara ini diperlukan sedikit pengertian Hong Sui (biasanya Pemimpin upacara mengetahuinya). Setelah menemukan tempat / lokasi yang tepat, doa mulai dibacakan, kemudian ditabur dul lima macam biji-bijian dengan warna tertentu, baru kemudian abu beserta arang lainnya ditaburkan ke laut oleh anak laki-laki tertua. Setelah selesai baru ditaburkan bunganya.

 

Demikianlah sekilas ulasan mengenai salah satu ritual TAO yang ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hanya perlu diingat bahwa, karena TAO itu Dinamis, upacara adalah tetap upacara mengenai pernak-perniknya tentu saja tidak kaku, boleh disesuaikan dengan keadaan jaman / lingkungan setempat.

 

Yang terpenting adalah :

  1. Beberapa hal yang prinsip memang harus dipengang/dijalankan.
  2. Pada saat melakukan upacara, petugas (Huang Ie) harus benar-benar melakukan dengan seksama, bersatu dalam TAO.
  3. Pihak keluarga walaupun berduka juga mengikutinya dengan hati yang bersih dan bersungguh-sungguh.

 

Salam TAO.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*