Intan Dalam Debu – the web

Mendaki Gunung TAO

Posted by IDB April 1, 2002, under Volume 11 | No Comments

 

Mendaki Gunung TAO

Oleh : AHS – Tao Yu Tegal

Semua orang pasti mempunyai pengalaman yang menarik dan pahit dalam hidupnya. Sebagai orang yang pernah mengalami remaja / muda, tentunya kita selalu berusaha mengisi kehidupan kita dengan kegiatan-kegiatan yang akan mendatangkan kebahagian.

Bukan masalah sebaliknya, saat remaja / muda tidak boleh berlalu begitu saja. Sebaiknya diisi dengan kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan serta olah raga atau apa saja asal positif.

Semua itu bila kita jalani dengan baik maka akan mendatangkan pengalaman yang menarik. Berikut ini ada kisah pengalaman muda-mudi yang mendaki gunung, sebagai wujud mencintai alam semesta, muda-mudi yang tergabung dalam club pecinta alam, melakukan pendakian gunung.

Pendakian dilakukan pada tengah malam, sebelum berangkat mereka sibuk memeriksa perbekalan yang akan dibawa, mulai dari makanan sampai pada lampu senter semua dipersiapkan. Setelah perlengkapan dan pengetahuan sudah cukup, dan waktu sudah menunjukan pukul 00.00 (pukul 12 malam) maka berangkatlah mereka bersama-sama.

Sambil berjalan diantara mereka :
1. Ada yang bersenda gurau dan jalannya rileks
2. Ada yang berjalan sendirian dan jalannya rileks
3. Berjalan berkelompok tapi diam menutup mulut

Ad 1. Mereka yang berjalan dengan bersenda gurau, acapkali lupa dan kurang waspada bahwa mereka perlu konsentrasi dalam hal mengatur tenaga serta waspada pada bahaya yang sewaktu-waktu mengancam jiwa mereka. Tapi lain lagi bila orang itu sudah berpengalaman dan menguasai betul cara-cara mendaki gunung. Walaupun berjalan dengan diselingi senda gurau dia akan tetap waspada, sadar selalu pada posisinya saat itu, dimana dia harus menjaga keseimbangan batinnya dengan alam lingkungan dan menjaga diri jangan sampai dirinya melakukan kesalahan. Pastilah akan mencapai puncak gunung yang dituju.

Mendaki Gunung TAOAd. 2 Yang berjalan sendirian dan rileks, ini pastilah orang yang bertekad kuat dan teguh pendiriannya. Disamping dia sudah menguasai cara-cara pendakian, dia juga berani menghadapi segala macam resiko dan biasanya orang seperti ini senantiasa waspada dan menjaga kesadarannya. Sadar berarti “eling” (WU) pada perilakunya dan senantiasa menjaga keseimbangan batinnya dengan alam lingkungannya. Orang seperti ini pastilah dapat mencapai puncak yang dituju.

Ad 3. Orang yang berjalan dengan berkelompok tetapi diam menutup mulut, mereka yang bersama-sama berjalan melintasi malam yang gelap, yang menyadari betapa pentingnya berjalan bersama, yang saling bahu-membahu, saling tolong-menolong sesama rekan kelompok dan patuh pada pimpinan “regu”, yang bersama-sama mengembangkan kewaspadaan dan kesadaran, lalu dengan keseimbangan batinnya masing-masing mereka dapat mengatasi semua rintangan yang ada. Lambat laun mereka pasti akan mencapai puncak yang dituju.

Demikianlah cerita diatas sekedar kisah yang dipaparkan agar dapat di identikkan / di implementasikan dengan keadaan manusia jaman sekarang, yang sadar akan kehidupannya, suka dan sedang menjalani Siu Tao.

Bila kita benar-benar akan menjalani Siu Tao, terlebih dahulu harus tahu cara-cara dan ajarannya. Bila kita sudah tahu cara dan ajarannya maka kita baru akan dapat mendaki “Gunung Tao” dengan baik.

Menjalani Siu Tao bukan cara yang mudah, tanpa kesabaran, kewaspadaan dan kesadaran, rasanya sangat sulit untuk mencapai puncak “Gunung Tao”. Apalagi kalau kita dihinggapi perasaan takut dan kebimbangan. Oleh karena itu mantapkan hati dan percaya diri.

Mulai dari hari ini ; melatih kesabaran, menjaga kesadaran dan keseimbangan batin, mengembangkan cinta kasih dan banyak memberi. Niscaya keberhasilan kita dalam mendaki “Gunung Tao” / Siu Tao akan dapat kita raih.

Sekian, terima kasih semoga bermanfaat bagi Tao Yu sekalian.

Sian Cai………

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*