Intan Dalam Debu – the web

Pu Cie Ci Mi, Pu Mi Ci Cie, Jang Wen Pu Ju, Pu Se Cen Cie, Pi Men Jien Siu, Suey Cie Hay Mi, Pu Mi Pu Cie, Se Uey Cen Cie

Posted by IDB April 1, 2002, under Volume 11 | No Comments





Pu Cie Ci Mi, Pu Mi Ci Cie, Jang Wen Pu Ju, Pu Se Cen Cie, Pi Men Jien Siu, Suey Cie Hay Mi, Pu Mi Pu Cie, Se Uey Cen Cie

Dari : Siem Sit Cong - Purworejo

 

Yang Artinya :

Tidak nalar adalah fanatik, tidak fanatik berarti nalar,
Menahan diri, bukan kesadaran yang sesungguhnya,
Belajar dengan membabi buta, boleh dibilang sadar tetapi belum sepenuhnya,
Memakai WU, baru disebut kesadaran yang tertinggi.

Pu Cie Ci Mi,  Pu Mi Ci Cie, Jang Wen Pu Ju,  Pu Se Cen Cie, Pi  Men Jien Siu, Suey Cie Hay Mi, Pu Mi Pu Cie, Se Uey Cen CiePelajaran kebatinan bersifat paradox, yaitu bertentangan dengan anggapan umum, karena manusia umumnya senantiasa yang dikejar-kejar adalah uang, nama, kemewahan, kekuasaan dan segala yang dipandang dapat memberikan kesenangan, keenakan dan kepuasan.

Hal ini bsa dibuktikan misalnya, diskotik, gedung pertunjukan dan sebagainya senantiasa mendapat kunjungan penonton, restoran-restoran yang menyediakan makanan dan minuman yang lezat-lezatpun dapat menarik kunjungan banyak pembeli, kerena kesemuanya ini dapat memenuhi keinginan dan memberikan kepuasan bagi manusia.

Sebaliknya pertemuan kebatinan umumnya kurang diperhatikan, kurang laku, walaupun tanpa dipungut bayaran, bahkan orang merasa malas untuk menghadiri dan mendengarkan ceramah-ceramah kebatinan; karena kurang menarik hati, rasanya tawar saja bagaikan masakan kurang garam.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kebatinan itu tawar rasanya, bagaikan masakan kurang garam, ditonton dan didengarkanpun tidak menarik dan merdu, jadi memang tidak dapat memenuhi keinginan ego manusia yang bersifat semu, apalagi di dalam ajaran kebatinan, manusia dianjurkan untuk hidup sederhana tidak menonjol-nonjolkan diri dan harus menolong sesamanya, jadi kebatinan itu bagi umumnya manusia tidak “enak”, maka “makanan kebatinan” banyak orang yang tidak suka “makan”.

Begitu pula pelajaran dari agama Tao tidak terkecuali, apalagi dalam pelajaran tidak disertakan janji-janji hadiah atau ancaman, baik hadiah atau ancaman untuk sekarang maupun untuk kemudian hari. Memang pelajarannya tidak menyanggupi manusia dengan sorga dan juga tidak menakuti orang dengan neraka; pelajarannya hanya berdasarkan atas keinsyafan nalar yang tinggi (WU). Bagi umumnya orang, pelajaran ini terlalu kering dan kurang merangsang, maka tidak dapat menarik kunjungan “chalayak ramai” secara berduyun-duyun. Walau demikian, bagi mereka yang telah maju kebatinannya dan bagi mereka yang berjiwa bebas merdeka / Siao Yaow, justru pelajaran dari Tao Ciaow merupakan daya tarik yang kuat, karena mereka bukan mencari barang yang khayal, melainkan mencari kenyataan dan kebenaran/nalar.

Mereka tidak ada kompromi pula antara baik dan jahat, mereka melakukan kebaikan itu tanpa mengharapkan tiket ke surga, melainkan atas dasar kesadaran, bahwa demi kebaikan, mereka bersedia untuk melakukan dengan tanpa menghiraukan pengorbanan, sebaliknya pada kejahatan mereka pandang begitu menjijikan, hingga tak sudi melakukan walaupun menjanjikan imbalan yang besar, bukannya takut masuk neraka, melainkan dari WU yang tinggi, bahwa kejahatan memang tidak selayaknya dilakukan oleh manusia yang terhormat.

Demikianlah ilmu kebatinan, hanya merupakan daya tarik bagi mereka yang berjiwa merdeka dan bebas, yang jumlahnya tidak banyak. Sebaliknya kebanyakan orang ingin mengejar sesuatu yang sesuai dengan khayalan egonya, maka dari itu dapat kita menarik kesimpulan, bahwa dimana tempat orang datang secara berduyun-duyun, baik digedung pertunjukan, rumah judi, maupun digedung yang dinamakan kebatinan atau keagamaan, orang-orang hanya mengejar pada khayalan belaka, bukan mencari kebenaran.

Misalnya direstoran orang mencari kepuasan lidah, digedung pertunjukan mencari kepuasan mata dan telinga; demikianpun di perkumpulan-perkumpulan yang disebut kebatinan dan keagamaan orang-orang dipuaskan keinginannya dengan janji-janji memperoleh sesuatu. Maka ditempat-tempat dimana orang datang dan berkumpul secara berduyun-duyun itulah tandanya khayal, karena yang mereka cari hanya kepuasan demi memenuhi keinginan egonya.

Pu Cie Ci Mi,  Pu Mi Ci Cie, Jang Wen Pu Ju,  Pu Se Cen Cie, Pi  Men Jien Siu, Suey Cie Hay Mi, Pu Mi Pu Cie, Se Uey Cen CieSebaliknya pertemuan-pertemuan kebatinan yang membahas tentang “Tao”, bagi mereka dirasakan begitu “kering” dan “tawar”, maka tidak salah kiranya kalau dikatakan bahwa ajaran kebatinan yang bermutu tinggi itu bersifat paradox, yaitu bertentangan dengan pandangan umum. Karena pada umumnya orang bersifat egois, hanya mengutamakan diri sendiri, dan pada lazimnya menganggap bahwa “umum” itu benar adanya hingga siapa yang tidak sesuai dengan umum dicela dan dikatakan tidak lumrah atau tidak lazim; tetapi “umum” itu sesungguhnya belum baik, belum benar, hanya baru berada dalam tingkat tengah-tengah (medium) , kalau sesuatu hal yang buruk dan dibawah dari tingkat umum pantas untuk dikatakan tidak lumrah. Tetapi prilaku yang sesuai denga kebatinan / Tao, sudah lebih atas dari tingkat umum, jadi dapat dikatakan lebih lumrah dan nalar.

Lalu sekarang apakah adanya “Tao” itu ?

Menurut kata Lao Tse, “Tao” tak dapat dibicarakan, kalau bisa dibicarakan itu bukan “Tao” yang abadi, karena luasnya “Tao” tak ada batasnya, dan meliputi seluruh alam, kalau dapat dibicarakan akan menjadi sifat terbatas. Jadi “Tao” adalah kebenaran dari seluruh jagad raya, oleh karena itu “Tao” boleh juga disebut “kebenaran” atau “aturan”.

Walaupun demikian Tao dapat dirasakan, dengan jalan menentramkan diri dan menuju pada proses mengenali diri sendiri, karena barang siapa kenal diri sendiri, ia akan mengenal pada alam juga, karena diri kita ini adalah jagad kecil (mikrokosmos), yang mempunyai kesamaan dengan jagad besar (makrokosmos), maka dalam ajaran Tao yang terutama dan yang terpenting adalah pelajaran untuk mengenal diri sendiri, barang siapa yang dapat mengenali sifat-sifat dari dirinya tentu lebih mudah belajar untuk menjadi “tuan” atas diri sendiri. Ucapan ini agaknya bersifat filsafat yang sukar untuk ditangkap maksudnya oleh orang awam, karena lazimnya orang menganggap mudah saja mengenali diri dan pegang peran atas diri sendiri. Mustahil pada diri sendiri tidak kenal dan mustahil pula pada diri sendiri tidak berkuasa. Tetapi kenyataan membuktikan, bahwa masih banyak orang yang “tidak tahu diri”. Nyatanya banyak diantara kita ini yang masih dipengaruhi dan diombang-ambing oleh ego hingga tidak dapat menguasai diri sendiri bahkan di perbudak oleh egonya.

Manusia hidup di dunia ini mempunyai kewajiban untuk bekerja mencari keuntungan guna mencukupi kebutuhan hidupnya, karena kita ini mempunyai badan wadah, yang harus diberi makan, pakaian dan tempat tinggal; selain itu juga kita mempunyai keluarga, anak, istri yang menjdi tanggungan kita, jadi kita harus berjuang mencari rejeki untuk membiayai hidup mereka, maka bekerja untuk mencari nafkah dan keuntungan bagi tiap-tiap manusia memang menjadi keharusan yang hakiki, tetapi harus bisa mempunyai rasa puas dan tidak diperbudak oleh ego, hingga hidupnya tentram.

Pu Cie Ci Mi,  Pu Mi Ci Cie, Jang Wen Pu Ju,  Pu Se Cen Cie, Pi  Men Jien Siu, Suey Cie Hay Mi, Pu Mi Pu Cie, Se Uey Cen CieUntuk belajar mengenal diri sendiri dalam ajaran Tao dapat dilakukan dengan meditasi, dimana kita dapat menganalisa segala persoalan yang kita hadapi untuk dicarikan solusinya dan jalan alternatifnya, mengenal sifat diri sendiri beserta segala cacat dan kelemahannya.

Setelah kita dapat mengenali diri sendiri, kita akan sampai pada fase kedua, yaitu menaklukan diri sendiri, untuk dapat berkuasa atas diri sendiri. Selama kita belum mampu menaklukannya, boleh dikata diri kita ini masih dipengaruhi sifat ego, yang lazimnya disebut badan hewani atau sifat hewani. Bila berhasil melalui fase ini, kita telah sampai pada satu tingkat yang tinggi dari kebatinan, dimana kita akan hidup bebas dari hawa nafsu ego kita, untuk mengejar segala sesuatu yang sia-sia, bahkan sebaliknya kita akan mencapai suatu tingkat dimana kebijaksanaan dapat membedakan antara kenyataan dan maya (khayal), dan hidup dengan tentram dan puas sebagai orang yang telah mencapai kesempurnaan hidup didalam Tao.
Salam TAO.

— — — = = = o o o 0 0 0 o o o = = = — — —

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*