Intan Dalam Debu – the web

RENUNGAN TAHUN BARU

Posted by IDB April 1, 2002, under Volume 11 | 4 Comments

Menjelang Tahun Baru Kuda Air 2553, terlebih dahulukami ucapkan Sin Cung Kiong Hie kepada Sefu, Semu dan semua Sesiung, Secie diseluruh Indonesia

RENUNGAN TAHUN BARU

Oleh : SSC

 
Menjelang Tahun Baru Kuda Air 2553, terlebih dahulu kami ucapkan Sin Cun Kiong Hie kepada Sefu, Se Mu dan semua Se Siung, Se Cie diseluruh Indonesia, teriring doa dan harapan bukan hanya “Ban Su Ji” (Berlaksa perkara terwujud sesuai harapan) yang lebih utama adalah “Hong Sin Kiong Li” (Hati lapang usaha kuat tekad bulat). Juga semoga tak hanya “Seng Thi Cien Kong” (Badan sehat wal’afiat) namun tentunya bisa beroleh “Cing Sien Ching Liang” (Semangat gairah jiwa dan batin jernih cemerlang), dan tentunya Tahun Baru = “Thiam Hok Thiam Su (Bertambah Rejeki Bertambah Umur Panjang) yang senantiasa disertai “Khiam Kuo Liam Siu” (Kurangi kesalahan jangan berhenti membina diri).

RENUNGAN TAHUN BARUPada tahun 1977, adalah tahun “pahit” bagi umat Kelenteng di Indonesia, gelombang penghapusan dan pelarangan ajaran agama kelenteng terjadi, dan ini berlanjut dengan dilenyapkannya hak sipil umat kelenteng di Indonesia, serta tidak diakuinya agama kelenteng sebagai agama (bahkan dilarang !?). Itu semua terjadi oleh sebab yang tak jelas dasar “hukum”nya bahkan terkesan semena-mena kekuasaan penguasa semata, hal ini bertambah rancu dengan konsep kebijakan tak bijak dalam menangani masalah WNI keturunan orang Tionghoa, yang sarat dengan muatan diskriminasi dan perkeliruan, dilanjut dengan pandangan bahwa agama kelenteng penghambat pembauran ? , makin membuat agama kelenteng dan umatnya di tanah air tercinta mengalami masa sulit yang menyesakkan, bukan saja bagi yang bersangkutan juga nurani setiap manusia yang ber Tuhan, beragama dan menghargai “Hak Asasi Manusia”. Renungan ini bukan suatu ekspos diri, melainkan tetap sebuah renungan saja !. Yang tujuannya Cuma; refleksi diri yang ingin “merenung” dengan harapan renungan ini bisa menjadi “bahan” bagi yang berkepentingan dan bagi umat kelenteng khususnya dalam membina kesatuan dan persatuan.

Tiga puluh tahun lebih sudah berlalu…. Misi dan tugas yang diemban bila ditinjau dari maksud awal memang sudah terwujud, walau tak berani untuk mengatakan telah tercapai tujuannya, bahan rujukan tak sedikit yang terkumpul, dasar/sumber pustaka juga terkoleksi dalam jumlah lumayan; yang menjadi masalah sekarang adalah; bisakah ini berguna dengan tepat dan punya manfaat bagi masyarakat, bisa tersosialisasikan dengan merata bagi semua, teramalkan dalam terapan yang terasakan faedah dalam akidah dan ibadah. Rasanya ….masih jauh…dari semua itu.

…..ada sebuah cerita…..

ketika indra berebut jiwa
mulut bicara dan mengecap rasa
hidung mencium nikmat aroma
mata memandang indah dunia
telinga mendengar merdu suara
badan merespon aneka cita
namun…bisakah satu saja
mengabaikan menghilangkan yang lainnya

sementara bila “hati” tak ada…semua hampa…

Bila…dan kalau saja memang benar dari tersendatnya segala program dan tersumbatnya saluran saran, adalah faktor manusianya,”mengapa tidak diusahakan musyawarah untuk mencari solusinya ?”.
Kalau…dan bila saja memang betul yang menjadi kendala adalah cara “kenapa tidak diupayakan komunikasi dan membangun system yang pas dengan selera bersama ?”.
Jika…dan mungkin saja memang keliru, dana dan sarana jadi masalah, itu sangat relatif dan “bukankah itu kembali kepada niat dan usaha kita ?”
Mungkin…dan jika saja memang tidak salah justru “diri” inilah yang menjadi sentra persoalan…nah, ini baru betul-betul betul “mengapa” dan benar-benar benar “kenapa”, ini memerlukan renungan…mengapa ?? kenapa ??

RENUNGAN TAHUN BARUDalam diam melakukan renungan…menyimak diagram dalam Pat Kwa, menelusuri panduan kitab “Ya King” ; tersirat tiga perkara yang bisa menjadi problem besar hidup manusia; sebab musabab berangkai dan beruntai merajut ruwet hidup manusia, yang bila tak teratasi bisa menghabisi waktu yang sedikit dengan menimbun problem sebukit !

* Ketergantungan manusia pada “orang lain” membuat manusia selalu berpamrih dan berharap pada penghargaan, maka ketika itu tak terperoleh, marah dan sedih beriring benci dan kecewa datang menindih dan melanda, membuat yang baik sirna dan yang positif musnah. “Ketulusan untuk disalah pahami” itu kata kuncinya, dengan “sabar” memenangkan waktu tidak membiarkan juga tidak berlawanan, memenangkan waktu itu jalan keluarnya !

* Menuntut orang lain tanpa menuntut diri sendiri. Mengakibatkan manusia lebih bisa menyalahkan orang lain, maka bila ini terus dipelihara, kemajuan muskil terjelma dan kekalahan sesungguhnya di depan mata, kemunduran yang ada dan kemenangan semu belaka. “Ketahanan dalam segala cobaan dan tekanan” ini kiatnya dengan instropeksi dan memacu diri dengan “membangun motivasi” menciptakan keunggulan energi, tidak berhenti berusaha, inilah solusinya.

* Menyalahkan nasib (Tuhan ?) dan menyerah bulat tanpa berdaya. Membikin manusia sering kehilangan nalarnya, berlari dari kenyataan membangun perandaian, melihat dunia dari sisi gelapnya dan lupa Tuhan yang tak pernah meninggalkan umatNya. “Pemahaman / penerimaan akan hasil dan harapan” adalah hukumnya, dengan “belajar mengerti” keterbatasan dari batasan, kesiapan dalam taqwa, keyakinan dalam iman, tidak skeptis dalam kesia-siaan adalah cara mengatasinya. Biarlah tahun-tahun berlalu......toh selalu ada tahun yang baru, ah....tahun baru, apanya yang baru ? “Baru” (Xin) punya dimensi yang bisa berarti “awal” atau “pada mulanya”, bermakna “memperbaiki / memperbaharui”, bermaksud selalu”baharu”. Dengan arti “lebih baik dan lebih baik lagi”. Lalu dimana konteks relevansi akan nilai religi dalam setiap Tahun Baru ? Kalau dihubungkan dengan konsep THIAN, TEE, JIN, maka semestinya ada makna tersirat dari hubungan ini.

* Bukankah “TAO” menjadi “Zhong Shi” semesta dan segala isinya, maka berarti ada awal dan akhir ? Tinggal dalam hidup ini dimana kita mau mengawali atau mengakhiri bisa di “titik” relatiflogi batas garis maya imaji manusia, maka Tahun Baru itu bisa berarti dan senantiasa berarti “kesempatan baru”.

* Bukankah bumi menjadi ibu yang menyediakan semua, hanya mungkin manusia ada yang “salah” dalam mengelolanya? Tinggal dalam hidup ini bagaimana kita mau mencari atau menyiakannya. Bisa menentukan berhasil atau gagal, maka Tahun Baru itu juga merupakan suatu Harapan Baru.

* Bukankah manusia adalah ciptaan-Nya yang ter-“Mulya”, kenapa manusia tak berdaya usaha dan ulet bekerja ? Tinggal dalam hidup ini seberapa kita bisa tidak bikin perkara dan cari masalah, hingga menciptakan bencana, mengundang petaka, dengan iman dan taqwa berupaya dalam “jalan sucinya”. Maka Tahun Baru itu akan selalu tetap merupakan “Perjuangan / Usaha Baru”.

RENUNGAN TAHUN BARUDalam diam melakukan renungan
Tahun berlalu tinggal kenangan
Ah, apa itu penghargaan
Dan apa itu pelecehan
Semua itu hanya bayangan
Sesuai asal cahaya datang
Takkan mampu menggoyah badan...

Renungan bukanlah berarti diam
Kenangan memang aneka ragam
Penghargaan bukan semata dambaan
Pelecehan jangan jadi kenyataan
Bayangan cermin bias kiraan
Datang pergi semua orang
Badan dibina tunai harapan

Kesempatan baru harapan baru, perjuangan baru
Tak layak bila dibiarkan berlalu begitu saja bukan ?
Selamat Tahun Baru Imlek 2553
Selamat menjalani kesempatan baru,
Selamat mensukseskan perjuangan baru
Bagi semuanya..................

Salam TAO.

Tak dapat menangkap bahagia

tapi giat berusaha untuk menuju bahagia

itu adalah bahagia sudah

Share

Currently have 4 Comments

  1. Liong Budiwan says:

    Salam Kebajikan,

    Seharusnya anda malu, menyadur tulisan orang lain untuk hal beginian, anda telah menyadur dari tulisan seorang Guru Besar kami Auwyang Zi Ho almarhum ( seorang Bunsu dari Dewan Rohaniwan Agama Khonghucu ), seharusnya anda layak sembahyang kepada Beliau meminta maaf dan seterusnya jangan mencontoh tulisan Beliau untuk forum seperti ini tanpa seijin tim WIKA SURABAYA.
    Jika anda tidak puas, saya tunggu reply anda di e-mail saya. Liong Budiwan ( Pimred WIKA )

  2. Terima Kasih, Saudara Liong Budiwan telah berani menulis kepada kami.

    Memang tulisan "Renungan Tahun Baru" yang Anda maksud, Anda claim sebagai saduran dari Guru Besar Anda "Auwyang Zi Ho" (Mohon copi aslinya, kirimkan kepada kami).

    Tulisan tersebut pun sebenarnya dari salah satu umat kelenteng di Indonesia. Mestinya kita yang sesama suku Hua, sesama penyembah nenek moyang bangga bahwa kebajikan yang di tuliskan telah juga di sebarkan oleh anak - anak cucu - cucunya yang lain.

    Itulah kebajikan Universal yang kami percaya. Guru Besar anda pun akan berprinsip demikian.

    Kalau Anda memang tidak berkenan kami mohon maaf dan akan kami hapus segera di media kami.

  3. Liong Budiwan says:

    Dear All,

    Okelah, saya bisa memaklumi, memang almarhum guru saya itu meninggalkan seabreg tulisan berkualitas yang memang pada dasarnya menebarkan semangat Ru Jiao dan mengapresiasi kehidupan beragama Tridharma ( Ru, Dao, Buddha ) , namun saya minta dengan sangat jangan memplagiat tulisan ini tanpa mencantumkan sumbernya darimana.
    Beliau adalah salah satu pembela dan rehabilitator para keluarga & perempuan Tiong Hoa tragedi 14 Mei.
    Oke nanti saya kirimkan buletin aslinya, mohon dikirimkan alamatnya dimana ?

  4. Kata - kata mutiara biasanya diambil dari pendahulu2 kita suku Hoa jaman kuno.

    Banyak murid - murid / umat yang tergabung dalam Tridharma jaman dulu saling mengisi saling mengasah tidak masalah.
    Kami menganggap itu bukan satu masalah. Sayang Guru Besar anda sdh almarhum, kalo tidak kamipun ingin anjangsana, agar kerukunan Umat yang tergabung dalam TriDharma ini tetap utuh.

    Terima kasih kalo anda ingin mengirim artikel Guru anda. Kami tunggu.

    Kirimkan ke Redaksi Intan Dalam Debu, jln Sentani Blok M - No.5 . Kemayoran, Jkt Pusat, 10720

    Hormat kami,
    Redaksi.

Leave a Reply








*