Intan Dalam Debu – the web

Ulat Sutera Yang Ceran

Posted by adminidb February 19, 2014, under Volume 11 | No Comments

Ulat Sutera Yang Ceran

Oleh : Felix Rivan – Tangerang

 

Pada jaman dahulu kala, ketika hewan-hewan masih dapat berbicara layaknya manusia, hiduplah sekelompok hewan yang tidak puas akan keadaan sekarang. Ketidak puasan ini bermula ketika seekor kucing hutan, seekor ayam hutan dan seekor celeng sedang melepas dahaga di sebuah sungai kecil.

 

Ketika kucing hutan sedang enak-enaknya minum, ia pun terperanjat ketika melihat wajahnya di air sungai tersebut, lalu ia pun pergi berkata kepada teman-temannya, ‘Kenapa aku ini hanya seekor kucing hutan yang lemah dan tak berdaya? Aku ingin seperti harimau yang kuat dan disegani oleh para hewan, aku ingin menjadi seekor harimau. Celeng pun menyambung “Ya, kau benar kucing hutan, kenapa kita dilahirkan sebagai makhluk yang lemah dan tidak berdaya? Aku pun hanya seekor celeng yang selalu menjadi mangsa para predator yang jauh lebih besar dan kuat dari padaku, aku ingin menjadi seekor gajah yang ditakuti oleh para predator, aku ingin memiliki sepasang gading yang jauh lebih besar dan tajam dari gadingku sekarang agar dapat kujadikan senjata ampuh yang berbahaya”. Ayam hutan melanjutkan “akupun ingin menjadi seekor elang yang perkasa dan lihai dalam memangsa. Namun sekarang aku hanya seekor ayam hutan yang lemah, kecil bahkan tak mampu terbang tinggi seperti elang. Oh, aku ingin sekali terbang”.

 

Pembicaraan ketiga hewan itu didengar oleh seekor katak yang sedang duduk diatas batu. “Hai, teman-teman. Tidakkah kalian lihat aku juga hewan kecil, loyo, dan tidak berdaya. Lihatlah buaya itu, ia begitu kuat dan perkasa dengan badannya yang besar dan penuh duri. Aku ingin menjadi seperti dia”, kata katak. “Tapi bagaimana caranya kita dapat menjadi hewan-hewan tersebut?” keluh kucing hutan.

 

“Waktu itu, aku pernah melihat seorang manusia bersemedi (Cing Co) digua itu, lalu beberapa bulan kemudian, aku melihatnya menjadi Dewa. Bagaimana kalau kita bersemedi (Cing Co) agar kita dapat berubah menjadi hewan-hewan tersebut?”, sambung katak. “Baiklah, aku akan mencobanya”, kata kucing hutan. “Bagaimana dengan kalian?”, lanjutnya. “Oke, semoga cara ini berhasil”, kata celeng dan ayam hutan.

 

Lalu mereka berempat pun mangambil posisi masing-masing dan akan memulai semedi (Cing Co). Tepat pada saat itu, lewatlah seekor ulat sutera sambil terheran-heran melihat tingkah laku hewan-hewan itu. “Kalian ini sedang apa sih? Kok gayanya aneh-aneh. Ada yang jongkok, ada yang nungging, malah ada yang merem melek kayak kesurupan” kata ulat sutera itu. “Kami ini sedang bersemedi (Cing Co)” kata katak. “Untuk apa ?” lanjut ulat sutera. “Kami ingin menjadi harimau, gajah, elang dan buaya. Oleh karena itu kami bersemedi agar dapat terwujud”, kata kucing hutan. “Huaha....ha....hi.....hi........ Mana mungkin kalian bisa berubah menjadi hewan-hewan tersebut, kalian ini sudah ditakdirkan secara alami menjadi seperti sekarang, mau bagaimanapun kalian tetaplah kalian, jangan dipaksakan” lanjut ulat sutera.

 

“Diam kau..........!!! kau ini hanya merasa iri karena tidak bisa semedi karena tubuhmu yang begitu kecil, sudahlah jangan menggangu kami, pergi sana......!!!, kata ayam hutan. “Kau jangan menghina begitu dong, biarpun aku ini kecil, aku bisa menjadi seekor kupu-kupu yang indah , karena aku telah ditakdirkan secara alami menjadi seekor kupu-kupu kelak pada saatnya, sadarlah denga apa yang kalian lakukan” kata ulat sutera dengan bangga. “Sudahlah..... hentikan omong kosongmu dan enyahlah dari sini.....!!” kata celeng dengan kesal. Ulat suterapun pergi sambil berkata, “Semedi (Cing Co) tanpa kealamiahan (Ce Ran) tidak akan berhasil”.

 

Akhirnya mereka bersemedi. Tepat pada saat itu, si ulat sutera melakukan metamorfosis pada tahap kepompong. Tiga hari telah berlalu, si ulat sutera yang telah menjadi kepompong tentu saja ia dapat bersemedi dengan aman dan tercukupi segala kebutuhannya. Tetapi lihatlah keempat hewan tersebut. Mereka tampak tidak tenang, mereka kelaparan dan kehausan tapi mereka tetap bersikeras melaksanakan semedi yang salah. Seminggu telah berlalu, keempat hewan itu mulai sekarat, bahkan mereka muntah darah dan mengalami pembengkakan dimana-mana. Pada akhirnya, mereka bereempat mati bergelimpangan dosa, karena telah melanggar aturan alam. Mereka mati dengan pengaharapan sia-sia dan cita-cita yang gagal. Itulah akibat dari melakukan semedi yang disertai paksaan dan tidak sesuai dengan aturannya. Tetapi lihatlah sang kepompong, setelah sebulan melewati masa semedi yang alamiah, aman, tenang, dan indah, iapun berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik yang dapat terbang ke sana ke mari dengan anggunnya.

 

Melalui cerita tersebut diatas, dapatlah kita ambil hikmahnya, sebaiknya kita para Tao Yu dalam melaksanakan semedi (Cing Co) secara alamaiah (Ce Ran) agar mendapat hasil yang memuaskan seperti sang ulat sutera yang berhasil menjadi kupu-kupu cantik. Tetapi jangan lupa untuk selalu meminta bantuan Fu Fak Sen kita. Kita para Tao Yu juga jangan merasa tidak puas akan keadaan sekarang, jalanilah hidup ini apa adanya secara alami, kelak bila mendapatkan Hok Kie, akan merasakan sendiri keberuntungannya.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*