Intan Dalam Debu – the web

Jangan Percaya Mitos

Posted by adminidb November 24, 2014, under Volume 12 | No Comments

Jangan Percaya Mitos

Oleh : Sugiarto – Bali

 

Sebelum baca yang ini .............

 

Para Tao Yu yang budiman, dalam Siu Tao kita seharusnya, tentu dan pasti rajin sembahyang, baik itu di rumah atau pergi ke kelenteng. Persoalan yang muncul terjadi seringkali bila kita sembahyang di kelenteng. Di dalam ritual kelenteng banyak sekali mitos yang kita dengar dan itu telah berlangsung turun temurun warisan leluhur yang seakan tidak ada orang yang berani mempertanyakan ritual yang harus begini-begitu, pakai ini dan itu, tidak boleh ini dan itu.

 

Kasus yang paling kelihatan adalah berkaitan dengan pernak-pernik sembahyang seperti dupa, lilin, persembahan / sesaji, lampu minyak dan kim coa (uang-uangan kertas).

 

Dupa / hio :

Pada saat sembahyang tidak jarang disarankan pakai minim 3 batang dupa /Hio, dan jika kita pakai satu pasti akan ditegur dan ditanya “Kenapa pakai satu dupa / Hio?”. Ada baiknya juga bila kita balik tanya “Kenapa pakai tiga dupa dan tidak satu dupa saja?”. Bukankah dalam keadaan “darurat”, sembahyang tanpa dupapun, doa kita bisa sampai kepada Dewa. Kalau begitu kenapa pakai dupa, lebih baik tidak pakai dupa, asal dengan Hati Tulus pasti doanya sampai juga. Nah sekarang saya mau tanya nih, kalau kita makan, apalagi dalam acara resmi pasti pakai sendok dan garpu, kenapa tidak pakai “jurus cakar macan”bukankah sama saja, Kenyang !. Apalagi kita menghadap Dewa yang Agung, jika memang disediakan kenapa tidak pakai dupa, kecuali jika keadaan terpaksa misalnya di gunung, semuanya akan terasa lebih “afdol” dengan cara masing-masing.

 

Lilin :

Fungsi lilin adalah untuk penerangan. Mitos pemakaian lilin adalah jika sembahyang harus pakai lilin supaya jalan hidup kita selalu terang, kalau dipikir memang tujuan kita sembahyang salah satunya yaitu minta jalan hidup yang terang, lantas berusaha, intinya minta U FUK.

 

Tetapi sebenarnya yang menyebabkan bukan lilinnya, melainkan banyak faktor seperti karma, Siutao. Apalagi, buat apa jor-joran pamer dengan lilin segede gajah, meskipun kita mampu beli, alangkah baiknya jika uangnya di “tabung” dalam Kung Tek Siang untuk bantu bangun Tao Kwan/Kelenteng atau sumbangkan kepada orang yang membutuhkan, jadi lebih bermanfaat. Jika tujuannya untuk menyemarakkan suasana, itu lain soal.

Persembahan / Sesaji :

Persembahan sebaiknya pakai buah-buahan saja, jangan pakai Sam Seng lagi. Persembahan disusun diatas altar para Dewa biasanya pada saat khusus yaitu pada Tahun baru imlek dan Hari Kebesaran Dewa, jadinya meriah bukan?.

 

Persembahan menunjukkan ketulusan serta rasa syukur dan terima kasih kita atas rejeki yang diberikan Dewa kita. Tapi ingat Dewa tidak makan persembahan itu, yang makan kita juga. Apa benar Dewa makan karena diberi manusia? Jelas tidak, Dewa itu Agung dan Mulia jauh diatas tingkat manusia. Dewalah yang memberikan berkah keberuntungan kepada kita manusia, yang Dewa harapkan dari kita manusia adalah jadi orang baik, makanya rajin Siutao yah.......!

 

Lampu minyak :

Untuk yang ini juga ada ceritanya. Konon dijaman susah dulu di Tiongkok, dalam kelenteng pakai lampu minyak, selain buat penerangan juga buat menyalakan dupa. Pada jaman itu tidak pakai korek api karena mahal, minyaknya selalu pakai minyak yang murah seperti minyak jarak. Pada saat itu jika orang mau beramal disarankan untuk tambah minyak biar lampu tidak padam. Nah untuk menggugah orang agar mau melakukannya ini yang perlu dipancing dengan bumbu-bumbu seperti biar terang jalan hidupnya/usahanya, dan sebagainya.

Kim Coa :

Apa benar Dewa pakai uang ?........ buatan manusia lagi!.

 

Kalau masih menginginkan barang duniawi, mana bisa jadi Dewa ? Jangan pernah berpikir mau KKN dengan Beliau, itu dosa besar!

 

Sekarang sudah jelas kan, asal kita sudah mengerti, tidak perlu takut-takut lagi. Bukankah Dewa-Dewa kita semuanya Cen San Mei (Sempurna Abadi) dan bukan algojo yang suka menghukum.

 

Semua pernak-pernik itu tidak lepas dari pengaruh budaya, sejarah, dan kepercayaan yang sudah demikian mengakar.

 

Tugas kita untuk pelan-pelan memberikan pengertian kepada generasi muda, supaya orang yang sembahyang ke kelenteng tidak di cap terus sebagai ketahayulan.

 

Hidup TAO!!!

 

Anak cucu berbuat kebajikan dan berjasa.

 

Nenek moyang selalu bergembira.

 

Foya-foya membakar Ling wuk (rumah kertas) apa gunanya?

 

Karena bodoh dan tidak ada pengertian belaka.

 

(Kutipan dari Kitab Suci Thay Sang Lauw Cin Cen Cing.........Bab 7:2)

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*