Intan Dalam Debu – the web

Keinginan Si Tukang Batu

Posted by IDB March 1, 2002, under Volume 12 | No Comments

Dari : Mei San.

Ada seorang tukang batu, sedang menggali batu di sebuah gunung. Ditengah teriknya sinar matahari dan kerasnya batu gunung, menyebabkan dia tidak tahan, sambil bekerja sambil menggerutu akan nasibnya.
Dia berkeluh kesah : “ Di dunia ini, tidak ada hal yang paling menyedihkan selain menjadi seorang tukang batu. Menggali batu pekerjaan yg sangat berat, tidak sebanding dengan penghasilan yang sangat rendah, menjadi setan malah lebih baik daripada menjadi seorang tukang batu !”

Pada saat dia berkeluh kesah seperti ini, dia membelah sebuah batu besar. Dari batu besar tersebut keluarlah seorang kakek tua. Kakek tua tersebut berkata kepada si tukang batu : “Aku adalah dewa gunung ini, dan telah mendengar keluh kesahmu. Sebenarnya kau ingin menjadi orang yang bagaimana ? Aku dapat mengabulkan keinginanmu menjadi orang yang kamu sukai.”
Si tukang batu berkata : “ aku ingin sekali menjadi orang kaya, dengan berlimpahan harta yang tidak habis-habisnya”.
Dewa gunungpun mengabulkan permintaannya.

Menjadi orang kaya, tukang batu tiap hari tidak bekerja, tidak berpikir. Kerjanya hanya memikirkan bagaimana caranya menghamburkan uangnya tersebut. Pokoknya, apa yang yang bisa dibeli dengan uang, pasti dia memilikinya. Dan apa yang tidak dimilikinya hanyalah barang yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Pada suatu hari, dia sedang berjalan-jalan mencari barang yang dapat dibeli. Matahari sangat terik dan membuat kepalanya pusing, mata berkunang-kunang. Karena tidak tahan, dia menggerutu lagi, dan dengan hati iri dia berkata : “Aku ingin sekali menjadi matahari. “
Pada saat ini dewa gunung kembali mengabulkan permintaannya itu.

Tukang batu berubah menjadi matahari, menggelantung tinggi di langit, dia senangnya bukan main, dalam hati berpikir : “ Aku akan mengeluarkan seluruh kekuatan menyinari semua orang kaya dengan panas yang luar biasa agar mereka menyerah! “

Pada saat dia sedang mengeluarkan tenaga panasnya yang terbesar, datang sebongkah awan, menutupi matahari. Dia dengan iri hati memohon kepada dewa gunung : “ Oh, dewa gunung ! aku ingin menjadi awan, karena awan lebih kuat daripada matahari!”

Baru saja dia selesai memohon, tukang batu tersebut telah berubah menjadi awan. Dengan senangnya dia terbang bebas kesana kemari, menutupi matahari dan bulan, dan yang paling menggembirakannya, dia bisa berhenti dimana saja dan menurunkan hujan.

Suatu hari dia merasa bosan terbang melayang kesana kemari, dan kemudian berpikir : “ Ah ! aku akan buat hujan yang sangat besar, yang dapat menghanyutkan semuanya ke dalam lautan “. Sebentar kemudian, bumi menjadi gelap, hujan deras mengucur tanpa henti, menghanyutkan segalanya.

Tetapi, betapapun derasnya hujan, tukang batu melihat bahwa puncak gunung yang tinggi itu, sama sekali tidak terpengaruh. Dia dengan rasa iri yang kesekian kalinya, kembali meminta : “Dewa gunung, ubahlah aku menjadi sebuah gunung tinggi, karena gunung lebih kuat daripada matahari dan awan.

Permintaannya itupun segera terpenuhi, dia telah menjadi sebuah gunung tinggi yang perkasa. Dengan bangganya dia melihat sekeliling dan berkata : “ Di dunia ini, tidak ada lagi yang seperti aku, yang sangat kekar, mulia dan tidak pernah berubah selamanya!

Pada saat dia menikmati kepuasannya menjadi gunung, dia melihat sesosok bayangan kecil di kaki gunung. Sosok kecil itu membawa berbagai macam peralatan dan mulai menggali batu gunung, kemudian memanggul batu besar tersebut untuk dibawa pergi. Sang gunung jelmaan itu, dengan sangat kagetnya berkata, “ Orang itu lebih hebat dari aku, lama kelamaan dia akan meratakan gunung ini. Oh ! dewa gunung, aku ingin menjadi seperti dia !”

Dewa gunung berkata, “Apakah anda sudah yakin ? Aku telah bersumpah, siapa yang menggali aku keluar dari batu besar hanya akan kukabulkan lima permintaannya, sedangkan anda telah menggunakan empat permintaan, ini adalah permintaan anda yang terakhir kalinya, sebaiknya pikirkan matang matang dahulu.

Si gunung berkata, “Aku tak peduli ! Pokoknya segera ubah aku menjadi orang itu, orang yang lebih kuat dari gunung itu !
Boomm ! Permintaannya terkabullah sudah, tukang batu itu kembali menjadi dirinya yang semula, berdiri di kaki gunung, berlimpahan peluh menggali batu-batu besar.

Komentar penulis :
Seorang tukang batu yang sama, tetapi di dalam hatinya memiliki sesuatu kesadaran yang berbeda, kehidupannya sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Dia dengan tenang menjalani hidupnya sebagai seorang tukang batu. Karena dia telah merasakan bagaimana menjadi orang kaya, menjadi matahari, awan dan gunung besar, sehingga dia dengan gembiranya mengakui kehidupannya sendiri.

Dapat menjalani kehidupan kita dengan tenang dan dengan sebaik-baiknya, menjadikan kita mantap , tumbuh dan berkembang sesuai fungsi kita masing-masing, itu adalah rejeki yang paling besar buat kita.

Salam Tao.

  • Share/Bookmark

No comment yet.

Leave a Reply