Intan Dalam Debu – the web

RAJA GUNUNG

Posted by adminidb November 25, 2014, under Volume 12 | No Comments

RAJA GUNUNG

Terjemahan dari China Utara

Oleh : Dianne F.L

 

Di China bagian Utara terdapat seekor macan yang sangat ganas. Ia tinggal di goa di atas gunung. Di lembah gunung ada sebuah desa, setiap malam macan ini turun ke desa dan memangsa ayam, sapi, kambing, domba dan babi. Kadang-kadang si macan juga mamangsa anak kecil. Tidak hanya memakannya tapi ia juga ingin membunuh sebanyak mungkin dia bisa. Macan ini adalah teror bagi semua orang di desa yang nyaman itu. Macan ini disebut Raja Gunung oleh semua orang desa itu.

Semua orang takut dengan macan itu, mereka memikirkan cara untuk membunuhnya, tetapi mereka semua gagal. Sehingga pada akhirnya kepala desa mengumumkan, bahwa siapa saja yang mampu membunuh macan itu akan mendapatkan hadiah dan penghargaan yang besar.

Sekelompok besar orang pergi untuk membunuh macan itu, dan mereka pergi ke goa tempat tinggal macan itu, disana mereka menemukan macan itu dan bermaksud untuk membunuhnya, tetapi pada saat orang-orang tersebut melihat macan itu, mereka menjadi lari tunggang langgang ketakutan. Beberapa kali mereka menggunakan cara yang berbeda tetapi semuanya tetap tidak berhasil.

Mereka patah semangat dan pergi ke tempat guru besarnya, Lao Tzu dan menceritakan kesulitan yang mereka hadapi. Lao Tzu menerima dan mendengarkan keluhan dan cerita mereka dengan sabar dan tenang. Pada saat mereka selesai menceritakan semua kesulitan yang dihadapi dari awal hingga akhir, Lao Tzu memberitahukan akar permasalahannya bahwa sebenarnya mereka tidak tahu maksud si Raja Gunung itu. Karena Lao Tzu adalah teman dari semua binatang dan dia berjanji untuk melihat apa yang dapat dilakukannya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Beberapa hari kemudian, pada saat orang desa sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, awan hitam diatas danau bergabung dan dalam sekejab menutupi desa itu dengan awan hitam. Awan itu menyentuh tanah dan menyala seperti api yang besar. Lalu warga desa berkumpul dan dengan kagetnya melihat lao Tzu keluar dari awan hitam dengan kereta.

‘Saya datang kemari untuk menyelidiki apa yang terjadi disini’. Dia berkata sambil turun dari kereta. “Kalian menghadapi macan, dan kalian sudah tidak tahan dengan tingkah laku macan itu dan kejadian-kejadian yang menimpa kalian, saya akan pergi ke goa itu, siapa yang mau ikut dengan saya? Dia bertanya. Dengan sekejab ’Saya akan pergi, saya akan pergi’ satu persatu mereka menyahut. ‘Saya tidak bisa mengajak kalian semua, saya hanya memerlukan seseorang yang berani’.

Lalu Lao Tzu melihat satu persatu diantara mereka, dan memilih seseorang lelaki bernama Wang. Mereka senang karena Lao Tzu memilihnya karena Wang adalah orang yang paling popular di desa.

‘Sekarang kita harus mencari sebuah obor dan seekor anak kambing’ kata Lao Tzu ‘Dan kita dapat berangkat ke goa macan itu’.

Petani mengirim anaknya untuk mengambil anak kambing dan sebuah obor diladangnya. Wang membawa anak kambing itu dan Lao Tzu membawa obor, sedangkan warga desa mengikuti dari belakang.

Beberapa saat kemudian Lao Tzu berkata kepada warga untuk kembali ke desa dan tidur dengan tenang. ‘Saya harus pergi bersama Wang ke tempat macan itu’. Warga desa berbalik dan kembali ke desa sambil tertawa, berbicara dan menggosipkan tentang metode aneh yang dilakukan Lao Tzu untuk menangkap macan itu dengan anak kambing. ‘Bagaimana bisa menangkap macan yang sebesar itu dengans seekor anak kambing dan sebuah obor’. Mereka bergumam.

Saat Lao tzu dan Wang tiba di dalam goa itu terlihat bangkai hewan yang telah dimakan si Raja Gunung berserakan di lantai goa, di satu sisi, mereka menemukan ranjang pasir tempat macan itu tidur. Kemudian mereka melepaskan anak kambing itu. Lalu anak kambing itu tertidur di ranjang pasir.

Sekarang kita harus bersembunyi dibelakang batu dan menunggu macan itu pulang.

Tetapi saya takut macan itu akan membunuh anak kambing kata Wang.

Kita lihat apa yang akan terjadi kata Lao Tzu.

Mereka menunggu beberapa jam sebelum macan itu kembali dengan membawa rusa didalam mulutnya. Macan itu melihat sekeliling karena mencium bau binatang lain di dalam goa. Lalu ia melihat sesosok binatang dan si macan melompat sambil mengeluarkan geramannya yang hebat.

Lalu pada saat si macan berada di dekat anak kambing yang sedang tertidur, macan itu menjadi lembut. Si macan membangunkan anak kambing itu dan mengajaknya bermain, setelah lama bermain mereka kelelahan dan tertidur di ranjang pasir. Karena hari sudah malam Lao Tzu dan Wang juga tertidur di balik batu itu.

Pagi harinya, saat lao Tzu dan Wang terbangun, si macan dan anak kambing sudah pergi. ‘Guru-guru’ kata Wang ‘Sekarang macan itu pergi dan kita belum membunuhnya!’

Lao Tzu kembali berkata ‘Siapa bilang kita akan membunuh macan itu’ Lao tzu dan Wang mengikuti binatang-binatang ke puncak gunung. Disana mereka melihat macan yang sedang duduk sambil mengawasi anak kambing yang sedang merumput dengan mata yang penuh dengan rasa kasih sayang.

‘Ketika macan dan anak kambing itu terus hidup bersama, didesa kalian akan aman-aman saja’ kata Lao Tzu ‘Saya akan kembali setelah enam bulan’. Lalu Lao Tzu pergi meninggalkan Wang. Setelah 3 bulan berlalu, Wang memutuskan untuk pergi ke goa untuk melihat macan itu dan ingin mengetahui apa yang terjadi di sana. Wang bersembunyi di balik batu itu dan menunggu si macan kembali. Tidak lama kemudian datanglah si macan dengan anak kambing dan terlihat jelas mereka bahagia.

Namun wujud si macan itu berubah, kepalanya masih tetap macan tetapi tubuhnya telah berubah menjadi tubuh manusia.

Keesokan paginya Wang kembali ke desa sambil berpikir, apakah warga desa dapat mempercayai ceritanya tentang si macan. Sesampainya di desa, Wang diberitahukan bahwa ada kejadian yang sangat aneh telah terjadi tadi malam ketika ia meninggalkan desa.

“Ada seorang ibu dan anaknya sedang mengambil kayu, ketika sang ibu mendengar jeritan dan berbalik, ia melihat ular yang besar melingkar di badan anaknya. Kemudian ada makhluk aneh keluar dari semak-semak dan membunuh ular dan menyelamatkan anaknya” kata mereka.

‘Katanya wujud makhluk itu setengah macan dan setengah manusia’ warga desa berbisik-bisik, ketika mereka semua selesai bercerita, Wang berkata ‘Kebaikan macan kepada anak kambing telah merubah sifat macan secara alamiah maka tubuhnya kembali kebentuk manusia’.

Tiga bulan setelah kejadian itu, setiap orang menantikan kedatangan Lao Tzu dan berharap Lao Tzu dapat menjelaskan tentang hal-hal aneh yang terjadi dengan jelas dan lengkap. Kemudian datanglah kereta awan dan Lao Tzu turun dari keretanya lalu berbicara kepada kerumunan warga desa. ‘Tidak ada lagi yang perlu dicemaskan’ kata Lao Tzu ‘Dari kasih sayang yang sangat melimpah pada sesuatu sudah dapat merubah seluruh sifat seseorang dengan alamiah, macan itu berubah karena kasih sayang. Kalian juga harus bekerja dan bertindak dengan kasih sayang, sayangilah semua binatang dan tumbuhan di seluruh lembah ini sehingga lembah ini akan terisi dengan kedamaian.

Saat Lao Tzu berhenti berbicara, ada anak muda turun dari atas gunung dan ikut berkumpul dalam kerumunan itu. Para penduduk bergumam dan berbisik ‘Dia adalah Raja Gunung’ ketika Lao Tzu memberi isyarat kepada pemuda itu untuk maju ke depan dan membawanya masuk ke kereta. Lao Tzu mengucapkan selamat tinggal pada warga desa dan pergi ke surga.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*