Intan Dalam Debu – the web

Renungan Seorang TAOYU

Posted by adminidb November 23, 2014, under Volume 12 | No Comments

Renungan Seorang TAOYU

Oleh : Liem Sit Cong

 

Hidup memang aneh, dimensi ruang dan waktu juga luar biasa. Kita manusia dalam hidupnya yang hidup dalam kehidupan, ‘sering tak mampu untuk benar-benar hidup dalam kehidupan yang benar secara benar-benar benar’.

 

Batas-batas dimensi terciptanya (diciptakan?) sehingga ‘relatif-logi’ menjadi dominan dan kita manusia ada diantara itu, sementara batas relatif berkembang menjadi batas tegas yang tertentu. Semua ini menjadi suatu yang terus mengusik manusia, karena memang manusia hidup dalam kehidupan yang hidup dan berada dalam dimensi ruang dan waktu.

 

Hidup, ruang dan waktu, adalah sesutau yang bila dalam batasan keterbatasan manusia bisa tak abadi juga dapat abadi, bergantung pada (sekali lagi : batasan relatif-logi) garis maya imajiner manusia.

 

Yang jelas meskipun itu abadi atau tidak sesungguhnya yang terjadi adalah “sesuatu” yang sedang berubah!.

 

Perubahanlah yang sebenarnya membuat batasan itu bergeser. Hidup dalam sebuah kurun waktu dan lingkup ruang selalu berubah, bahkan kematian yang dikatakan adalah takdir dari kehidupan, tetap sesungguhnya adalah sebuah perubahan dari kehidupan dan bergantinya waktu adalah gejala perubahan juga, sementara lingkup ruang selalu berubah tergantung dipersempit atau diperluas konektifitasnya dan kita manusia mengubah / diubah menjadi berubah / terubah oleh semua perubahan tersebut.

 

Dalam hubungan inilah pergantian tahun atau abad menjadi begitu berarti, dari ke suka citaan sampai keprihatinan yang beriringan dan membuatnya bisa berarti banyak bagi manusia. Perubahan jaman dan era menjadi fenomental yang menuntut manusia menyesuaikan dan merevisi banyak hal yang perlu “kemauan” dan “kesiapan” yang tak mudah.

 

“Adakah kita bijak menyikapi pergantian ini? Bisakah kita menempatkan diri dalam perubahan tersebut ?” yang terutama bagaimana semua perubahan yang tak terelakkan itu membentuk hasil yang lebih baik, sehingga “dia” yang tak terikat oleh dimensi ruang dan waktu serta “ibu dari seluruh alam” dan final kehidupan, bisa tersenyum melihat insan manusia mampu bermanfaat dalam kodrat dan misi suci kemanusiaannya.

 

Sekarang, sebagai umat TAO yang hidup dalam era reformasi, begitu banyak perubahan terjadi dan ini belum berarti perubahan menjadi lebih baik, karena proses perubahan perlu waktu, baik atau tidak sangat berkaitan dengan lingkup ruang bandingnya. Kita manusia “Maukah dan siapkah dengan perubahan itu?”

 

Pertanyaan inilah yang patut kita renungkan dengan jujur dan tulus, kalau kita benar ingin keluar dari kemelut yang melanda. Kesediaan “menerima” dan “bersama” dalam dinamika usaha mewujudkan tatanan kesatuan dan persatuan membutuhkan kesiapan yang arif dan konsekuen pada “keterikatan dalam kesepakatan” hingga tertib santun demokrasi terlaksana tanpa “noda”. Bila tidak, ketidak mauan dan kekurang siapan akan terus melahirkan provokasi keributan, pertikaian dan intrik, dan pada ujungnya adalah perpecahan dan perseteruan tak kunjung habis. Siapa yang harus mengatasinya? Jelas kewajiban kita semua tanpa kecuali, dan laksanakanlah dari diri sendiri dulu apakah kita mampu dan siap?.

 

Hidup menjadi “Hidup” karena perubahan, perubahan tentu melahirkan perbedaan dan perbedaan memerlukan harmoni agar perbedaan tak dipertentangkan namun terserasikan, inilah keindahan. Kita tak mungkin menghindar dari kemajemukan maka persatuan dan kesatuan inilah yang menyatukan kita dalam Tao. Bila kita tidak mau dan siap dalam menerima kebersamaan, maka hancurlah kita.

 

“Menerima dan bersama” adalah kodrati manusia hidup di dunia, dan ini menuntut “toleransi, solidaritas dan harmoni” untuk menepatinya.

  • Toleransi adalah menerima perbedaan yang ada dalam kebersamaan sebagai satu wadah / Tao, dituntut dalam pengamalan nyata keseharian yang tak perlu menunggu atau tawar menawar, hingga “kita” bisa lebih dominan dari ‘kami’ apalagi ‘aku’ yang beriringan dengan tidak mengabaikan ‘dia / mereka’ atau ‘‘kamu / kalian’ dengan disertai yaitu tadi : Toleransi Berimbang.
  • Solidaritas adalah perekat kebersamaan yang memerlukan jawaban nurani dan kongkrit, terasakah “kita” bila bagian dari “kita” tertinggal / terkesampingkan, dimana “kita” takala bagian dari “kita” memerlukan uluran tangan dalam derita ? Pernahkah ‘kita’ punya keperdulian atas masalah ‘kita’ yang memerlukan partisipasi nyata? Ini sebagian dari pertanyaan yang perlu dijawab agar perekat persatuan dan kesatuan tetap ada.
  • Harmoni adalah tergantung dari niat bukan bentuk yang jadi dengan sendirinya dan itulah masalah kita dalam hidup, sederhana tampaknya tetapi tidak mudah mengejawantahkannya, semua kembali kepada “kita mau atau tidak?”

 

Berbicara mengenai persatuan dan kesatuan, hendaknya bisa disadari bahwa persatuan dan kesatuan hanya bisa diwujudkan dalam persamaan dan kesamaan yang dinyatakan dalam satu kata :’harmoni’.

 

Dalam kehidupan, manusia memang punya banyak perbedaan satu dengan yang lainnya, sementara seorang Siao Jin tampak sama namun begitu benih friksi di dalamnya. . Maka dikatakan “seorang Kong Cu itu mau berkumpul tetapi tidak berkomplot, dan hanya bersedia untuk berlomba tetapi tidak mau berebut.

 

Ruang bisa sempit, bisa luas, namun demikian ada kesepakatan atas batas yang tentunya mengikat dan bersepakat. Tao adalah batas kesepakatan yang mengikat kita sebagai sesama umat Tao. Dan tentunya sekat-sekat yang lebih spesifik seperti suku dan golongan disatukan dalam koridor satuan Tao, perbedaan yang ada adalah persepsi dan argumentasi, maka bisakah keterikatan kita pada kesepakatan kita terjaga agar konflik tak perlu dipertajam dan perbedaan bisa dikompromikan menjadi kunci menyelesaikan masalah yang pasti akan tetap ada dan muncul dalam kehidupan yang majemuk dan dinamis ini.

 

Kesadaran atas kebutuhan satu kekuatan yang merupakan hasil dari bersatunya kekuatan komponen Tao demi satu rasa, satu cita, satu cinta : “Tao”. Jelas lebih dibutuhkan dari satu kekuatan komponen terkuat, siapkah kita untuk menerima dan bersama dalam “ruang” seperti ini? Waktu harus diperlakukan dan dimanfaatkan dengan cermat dan tepat, ini semua tahu, namun panjang atau pendek sang waktu sangat relatif, inilah mengapa ada prioritas dan batas waktu yang sudah lewat tak kembali lagi. Menunda tentu bukan kebiasaan yang pasti bermanfaat, buru-buru juga bukan reaksi yang tentu berguna. Sementara “ada masalah yang tak bisa menunggu”, dan “ada perkara yang perlu waktu untuk mengatasinya”, Inilah problem manusia dalam perjalanannya meniti jaman, dan persoalan umat Tao yang sedang dalam cobaan.

 

Kesigapan yang tanggap dari pemimpin harus diikuti dengan kesabaran umat Tao, perencanaan yang matang dan terpadu diikuti pelaksanaan yang konsisten, mungkin solusi yang tersedia memang tak ada yang sempurna, namun bila kita mampu secara pasti satu per satu ditangani dengan seirus dan kompak maka memenangkannya bukan kemustahilan. “Tak boleh berlambat dengan cermat, kerjasama dalam usaha, kerelaan untuk disalh pahami tanpa membiarkannya dan berlawan-lawanan, ketulusan dan kesabaran untuk berkorban ego dan bertahan dari provokasi dan emosi, adalah keniscayaan untuk memenangkan waktu”. Maukah kita ? Siapkah kita?

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*