Intan Dalam Debu – the web

Kehidupan

Posted by adminidb November 27, 2014, under Volume 13 | No Comments

Kehidupan

Written By : Lin Ching Sien

Disadur oleh : Meisan

 

Ada seorang yang sangat takut akan kematian.

 

Dia bertanya pada diri sendiri :”Kematian ada di depan? Atau ada di belakang?”

 

Dia berpikir “Manusia menemukan kematian selalu pada saat sedang bergerak ke depan, misalnya kecelakaan pesawat terbang, kecelakaan mobil. Binatangpun juga ditangkap dan dibunuh pada saat lari menyelamatkan dirinya, selama ini tidak ada binatang yang dibunuh dan mati pada saat sedang mundur ke belakang. Kalau begitu, kematian pasti mengejar dari belakang”.

 

Dia mendapatkan solusi yang paling penting, “Cara menghindar dari kematian adalah dengan lari secepat dan sejauh mungkin”.

 

Sejak saat itu, setiap hari dia selalu tampak terburu-buru, pada saat makan, bekerja atau berjalan, lebih cepat tiga kali lipat daripada sebelumnya.

 

Pada suatu hari, saat sedang terburu-buru berjalan, dia dipanggil oleh seorang tua. Orang tua itu bertanya padanya “Anda begitu terburu-buru, sedang mengejar apa?”

 

Dia berkata “Aku bukan sedang mengejar, melainkan sedang menghindar”.

 

“Menghindar dari apa?” tanya si orang tua.

 

“Dari kematian!” jawabnya.

 

Oorang tua itu bertanya, “Bagaimana anda tahu kematian ada di belakang?”

 

Dia menjawab “Karena semua binatang selalu pada saat maju ke depan dikejar oleh kematian”.

 

Orang tua itu berkata, “Anda salah! Kematian bukanlah mengejar dari titik awal, melainkan menunggu di titik akhir”.

 

“Bagaimana anda tahu?”

 

“Karena aku adalah dewa kematian”. Jawab si orang tua.

 

Orang itu menjadi pucat “Anda hari ini muncul, apakah ajalku sudah sampai?”

 

Dewa kematian berkata “Oh anda tak perlu takut, waktumu belum sampai, tetapi anda selalu berlari begitu cepat dan saudaraku, si Dewa kehidupan, selalu mengeluh kepadaku tidak dapat mengejar anda, seandainya anda tidak bekerja sama dengannya, apa bedanya dengan menjemput kematian? Dewa kehidupan khusus menemuiku untuk menyampaikan kepada anda agar memperlambat jalan anda!”.

 

“Bagaimana aku dapat bekerja sama dengan Dewa Kehidupan?”

 

Dewa kematian berkata “Pertama-tama, anda berdiri tegak, tenangkan hati dan pikiran, kemudian perhatikan sekeliling anda, gunakan hati anda untuk mengerti, gunakan kasih anda untuk merasakannya, gunakan seluruh kekuatan anda untuk menikmatinya, dewa kehidupan pasti akan dapat mengejar anda”.

 

Pada saat dia menenangkan hati dan pikirannya, orang tua itu berkata “Berbaliklah dan lihatlah, saudaraku telah datang”.

 

Begitu dia berbalik, orang tua itu telah lenyap yang terlihat hanyalah sesuatu yang selama ini tidak pernah kelihatan olehnya, pemandangan setapak jalan yang indah”.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*