Intan Dalam Debu – the web

Mitos Patung Dewa-Dewi

Posted by IDB October 25, 2002, under Volume 13 | 1 Comment





Mitos Patung Dewa-Dewi

oleh : Bernard - Jakarta

 

Banyak sekali mitos mengenai patung Dewa yang masih diyakini oleh sebagian besar umat klenteng pada umumnya.  Mitos yang sering kita dengar adalah sebagai berikut :

  1. Patung hanya boleh dibersihkan pada tanggal 24 bulan 12 Imlek, karena pada       tanggal itu  , Dewa sedang pergi menghadap Thien Kung.
  2.  Dewa bersemayam di dalam patung, oleh karenanya patung harus disakralkan. Banyak yang percaya digeser/disentuh saja tidak boleh, takut Dewanya marah.
  3. Patung tidak boleh dicuci dengan air biasa karena kekuatannya bisa hilang., sebaiknya dibersihkan dengan minyak wangi atau minyak cendana.
  4. Patung tidak boleh diganti, Dewanya bisa marah dan membawa petaka. Lagipula makin lama patungnya disembahyangi powernya akan makin kuat. Dengan diganti powernya akan berkurang.
  5. Patung mempunyai kekuatan yang tergantung dari yang Khai Kuang, jenis bahan
  6. Patungnya dan ukurannya. Kayu banyak dipercaya lebih mempunyai kekuatan dibanding bahan lainnya yang dari logam atau keramik.
  7. Sebelum sembahyang di hadapan Dewa, hiolo perlu diketuk-ketuk lebih dulu untuk membangunkan sang Dewa.
  8. Altar harus selalu dibersihkan, disuguhi teh dan disembahyangi setiap hari.

Mitos-mitos seperti inilah yang menyebabkan umat yang besembahyang di klenteng dianggap bodoh , tolol dan tahayul.

Sebetulnya patung/gambar Dewa hanyalah sebuah patung/gambar Dewa saja yang merupakan benda mati dan Dewa adalah tetaplah Dewa. Tentu saja benda mati jangan disakralkan dan tidak bisa disamakan dengan Dewanya. Jadi patung bisa dicuci/ dibersihkan kapan saja bila perlu, tidak harus tanggal 24 bulan 12 Imlek. Juga TIDAK HARUS menggunakan minyak wangi atau cendana. Tidak benar bahwa pada tanggal 24 bulan 12 Imlek semua Dewa pergi ke langit untuk 'rapat' dengan Thien Kung. Ini adalah salah pengertian yang terjadi sejak jaman dulu di Tiongkok. Dan perlu diketahui pula bahwa Dewa tidak bersemayam di dalam patung. Untuk apa Dewa tinggal di dalam patung ?  Di manakah Ke-Maha-an Sang Dewa bila beliau perlu tinggal di dalam patung, terlebih lagi kalau dipercaya bahwa kekuatan patung/Dewa tergantung dari siapa yang meng-khai kuang.

 

Kalau kita  runut, tradisi Sang An ( Dewa naik ke langit ), ini dimulai dari Tiongkok dulu. Sudah menjadi tradisi bahwa semua rumah harus dibersihkan untuk menyambut tahun baru. Klenteng pada waktu itu, selalu banyak dikunjungi umat ( tidak pernah sepi ), tidaklah mungkin patung dibersihkan pada saat umat sedang khusuk sembahyang. Kapan mereka mempunyai waktu untuk membersihkannya ? Perlu waktu yang tidak sedikit untuk membersihkan sebuah klenteng. Maka dari itu mereka menyatakan bahwa 1 minggu sebelum Imlek semua Dewa pergi menghadap Thien Kung ( Sang An ) sehingga semua patung dan seluruh bagian klenteng dapat dibersihkan dengan leluasa.

 

Lalu muncul pertanyaan : 'Kenapa sembahyang hatus pakai patung yang merupakan benda mati ?' Fungsi dari patung/gambar sebenarnya hanya melambangkan dan mengingatkan kita pada Dewa yang sebenarnya. Sebagai lambing sang Dewa tentu patung harus dihormati dan diletakkan di tempat yang layak. Tapi bukan berarti harus dikeramatkan. Konsep patung sama seperti bendera negara. Misalkan pada saat upacara sedang berlangsung, apakah kita berani menurunkan bendera dan tidak memberi hormat ? Padahal bendera hanyalah selembar kain saja, tapi dihormati oleh seluruh bangsa termasuk kepala negaranya. Jadi konsep yang harus dipegang adalah bukan patungnya yang disembahyangi tapi Dewanya.

 

Patung tidak boleh  digeser/disentuh/dibersihkan sewaktu-waktu, benarkah ?

Hal ini tergantung keadaan dan kondisinya. Kalau patung kotor dipenuhi kotoran cicak atau sarang laba-laba tentu harus dibersihkan. Dilihat saja sudah tidak enak. Tapi pada saat upacara tentu saja tidak etis bila kita geser-geser patungnya.

 

Jika kekuatan suatu altar/patung ditentukan oleh yang Khai Kuang, berarti  orang yang meng-khai kuang lebih hebat  dari Dewanya. Apakah tidak lebih baik yang di Pai itu orang yang meng-khai kuang saja? Kekuatan suatu altar/patung bisa berfungsi jika Dewa yang bersangkutan mengakuinya. Altar bisa diakui oleh Dewa bukan karena kehebatan orang yang meng-khai kuang , tapi dari ketulusan pemilik altar. Yang menentukan adalah ketulusan dan kemantapan hati kita dalam bersembahyang kepada Dewanya. Bila hati penuh dengan ketulusan hati maka Dewa akan senantiasa melindungi.

 

Patung harus dipilih yang kondisinya baik dan pantas untuk mewakili Sang Dewa, Jika sudah kotor/jelek/rusak, sebaiknya diganti dengan yang baru.

 

Orang mengetuk Hiolo dengan anggapan 'membangunkan Dewa', sebenarnya tidak perlu karena fungsi hio sebenarnya kira-kira sama seperti kita 'mengetuk pintu' / 'permisi'. Kalau Dewa masih perlu dibangunkan pada waktu kita akan menghadap untuk sembahyang, di manakah Ke-Maha-an sang Dewa ?

 

Tidak merupakan keharusan untuk selalu meletakkan teh dan menyembahyangi altar setiap harinya. Janganlah beban hidup kita menjadi bertambah dengan mempunyai altar. Lagipula Dewa penuh sifat Welas Asih dan tidak Gila Hormat. Dewa tentu mengerti bila altar tidak disembahyangi selama kita sedang pergi ke luar kota/negri. Perlu dimengerti bahwa jika kita setiap hari sembahyang adalah karena kita mohon lindungan dan berkahnya bukan Dewa yang mengharuskan kita sembahyang.

 

Merupakan suatu tantangan bagi kita para Tao Yu untuk membenarkan/meluruskan secara perlahan-lahan hal-hal di atas. Semoga Umat Klenteng tidak lagi di cap sebagai umat yang bodoh dan tahayul.

Salam Tao

Share

Currently have 1 Comment

  1. hahaha... ada2 saja...

Leave a Reply








*