Tahayul dan Iman Menurut Ajaran TAO
Oleh : Tjeng Liang – Semarang
Sering kita mendengar orang mengatakan, “Wah, si Polan itu imannya tebal” Tapi di lain waktu kita juga sering mendengar orang menyebut : “Wah, di jaman modern koq masih ada orang yang percaya tahayul seperti si Badu ini !”
Apabila kita cermati, sebenarnya di manakah batas-batas seseorang disebut percaya tahayul, sementara orang lain disebut tebal imannya ?
Seorang sopir truk sedang berkendara di malam hari, tiba-tiba ada kucing hitam melintas jalan, karena cepat dan tidak sempat mengerem, maka kucing naas itupun mati terlindas. Berhari-hari setelah itu sopir tersebut terus-menerus murung dan was-was terus pikirannya. Peristiwa terlindasnya kucing hitam ternyata telah mengganggu ketenangan jiwanya. Akhirnya atas nasehat seorang temannya yang lebih senior, dia lalu mengadakan acara selamatan, barulah rasa was-wasnya hilang dan dia bisa kembali bekerja dengan tenang. Orang yang melihat kejadian itupun mencemooh sopir tersebut sebagai orang yang percaya tahayul.
Ketahayulan biasanya menjalar dari mulut-ke mulut, dari generasi ke generasi. Karena rentang waktu yang demikian panjang dan melibatkan orang yang demikian banyak sehingga sulit untuk dicari ujung pangkalnya. Juga karena ketidak-ilmiahannya inilah maka orang menyebutnya sebagai tahayul, suatu kata yang mempunyai konotasi kuno, dekat dengan kebodohan, ketinggalan jaman, pokoknya serba negatif dan tidak ada orang yang senang kalau disebut percaya tahayul.
Menurut pandangan Tao, sesuatu disebut ketahayulan jika kita percaya pada sesuatu yang belum atau tidak terbukti, serta tidak ada jalan untuk membuktikan kebenarannya. Atas dasar pandangan ini, maka tahayulpun mungkin bisa berubah menjadi kebenaran apabila ternyata dapat dibuktikan.
Dalam Sejarah, pandangan yang semula dianggap tahayul, dan setan ternyata di kemudian hari terbukti kebenarannya adalah peristiwa pertentangan sebuah rumah ibadah dengan rohaniawan/ilmuwan/astrolog Galileo Galilei di abad 11, yang akhirnya sejarah membuktikan bahwa Galileo-lah yang benar dan dogma rumah ibadah (pada waktu itu) keliru.
Iman atau keyakinan adalah suatu sikap batin manusia yang percaya dengan tanpa reserve pada ajaran-ajaran agama yang didasari kata-kata, ucapan-ucapan dari para Nabi atau Orang-orang suci jaman dulu yang dipercayai menyampaikan suara dan kehendak dari Tuhan sendiri. Kata-kata tersebut ditulis di dalam ayat-ayat yang berada di dalam kitab suci. Bagi seorang pemeluk agama yang taat, mempertahankan ajaran seperti yang tertulis pada ayat-ayat kitab suci adalah mulia.
Iman dan tahayul pada realitanya adalah sama-sama mempercayai sesuatu yang sulit dibuktikan atau belum terbukti. Namun demikian yang membedakan adalah, IMAN lebih mempunyai dasar untuk dipercayai yaitu Kitab Suci yang berisi ajaran para Nabi, sedang TAHAYUL tidak jelas ujung pangkalnya.
Dalam pandangan TAO, seorang TAO pun harus mempunyai Iman, karena Iman itulah yang menjadikan dasar untuk melangkah lebih jauh ke depan. Akan tetapi orang TAO tidak hanya berhenti pada iman saja. Orang-orang Tao diberikan ‘JALAN’ untuk dapat membuktikan sendiri semua yang dipercayai tersebut, menjadi suatu pembuktian dan kenyataan. Pembuktian itu dapat dicapai dengan cara menjalankan/melakoni sendiri. Tentang hasil pencapaiaan, TAO tidak menjanjikan sesuatu, karena segala sesuatunya tergantung pada bakat, keuletan, ketekunan, kepekaan dan kejodohan seseorang dengan TAO itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan menyediakan pedoman untuk melakukan penelitian secara ilmiah sedangkan TAO menyediakan sarana dan ‘Jalan’ berikut dengan pedoman-pedoman untuk mengalami pembuktian spiritual.
TAO tidak menuntut penganutnya harus mengimani dan hanya meng-amini pandangan-pandangan orang –orang Tao pendahulunya. Justru kalau seorang Tao Yu hanya berhenti pada hal itu saja, berarti belajar TAO ( Siu Tao )nya tidak maju-maju. Seorang Tao ( Tao Yu) harus dapat terus melangkah sekalipun harus dengan susah payah, yang penting tidak berhenti berusaha untuk maju ke depan. Setapak demi setapak menguak rahasia alam semesta ini untuk merubah dai sekedar ‘mengimani’ menjadi ‘mengalami’.











