Intan Dalam Debu – the web

Alam Pikiran Kita

Posted by adminidb January 8, 2015, under Volume 14 | No Comments

Alam Pikiran Kita

Oleh : Tjeng Liang – Semarang

 

Pada waktu manusia dilahirkan ke dunia, dia bersifat netral, tidak baik juga tidak jahat. Walaupun demikian seorang bayi yang dilahirkan ke dunia secara jasmani sudah dibekali dengan sifat-sifat genetika dari para orang tuanya. Di samping yang jasmani itu, secara rohani seorang bayi yang baru lahir, juga dibekali dengan hati nurani dan nafsu. Dua hal ini bersifat dualistik tapi akan selalu berperang, mempengaruhi jalan hidup manusia selanjutnya.

 

Hati nurani pada dasarnya bersifat baik, akan tetapi apabila dalam perkembangannya hati nurani itu tidak dibarengi dengan penalaran dan kecerdasan, maka hasilnya tidak jarang seseorang akan merugikan, bahkan mengorbankan dirinya sendiri secara konyol dan bodoh. Implikasi sebaliknya terjadi pada nafsu. Pada dasarnya nafsu mempunyai konotasi yang negatif akan tetapi bukan berarti nafsu sama sekali tidak diperlukan. Oleh karena apabila kita dapat mengendalikan nafsu secara terarah dan benar maka nafsu dapat juga berubah menjadi bermanfaat bagi kita maupun untuk orang lain, contohnya:

 

Nafsu ingin menang. Bilamana di manage atau dikelola dengan baik, akan menjadi jiwa berkompetisi yang sehat.

 

Semua orang merasa mempunyai kecenderungan untuk berbuat baik (sekecil apapun). Hal ini disebabkan manusia mempunyai hati nurani, sehingga ketika suatu persoalan datang dari luar dan diterima oleh panca indera, maka pikiran akan menyerap persoalan tersebut, selanjutnya pikiran akan bekerja. Kerja pikiran ini dipengaruhi oleh banyak hal tapi selalu dalam dua kerangka besar yaitu hati nurani dan nafsu. Selain itu juga dipengaruhi oleh intelegensia atau kecerdasan, pengalaman atau memori, persepsi, asosiasi, perasaan, intuisi, dll. Tetapi kesemuanya itu masih tetap berada dalam dua kerangka besar yaitu hati nurani dan nafsu. Apabila telah keluar keputusan dari pikiran maka keputusan dari pikiran itulah yang disebut sikap (masih dalam batin). Sikap batin ini mencerminkan beberapa hal diantaranya moral dan mental, ketaatan pada aturan, kebijaksanaan, perasaan kasih sampai yang tertinggi adalah tingkat kesadaran. Proses pikiran dan sikap batin ini tidak selalu searah, kadang-kadang terbalik, kadang-kadang bolak-balik beberapa kali, bisa juga kadang-kadang salah satunya tidak ada. Baru yang terakhir ini adalah wujud keluar dari sikap batin ini yang disebut : tindakan.

 

Pada orang-orang yang lebih dominan hati nurani (dan cukup cerdas) daripada nafsunya, maka pikiran, sikap batin, dan akhirnya tindakannya cenderung akan positif. Positif ini bisa dirasakan oleh dirinya sendiri maupun dinilai oleh orang lain. Apabila tindakan yang positif ini terus menerus terjadi, meliputi semua keputusan di segala aspek kehidupan orang tersebut, maka orang itu akan terbiasa berbuat baik, maka lama kelamaan akan menjadi sifat atau wataknya dan akhirnya orang tersebut dikenal sebagai orang baik, bijaksana, dan bisa juga disebut orang itu telah menemukan jati dirinya yang sesungguhnya dan akhirnya menuju kesempurnaan.

 

Sebaliknya apabila di dalam menghadapi persoalan, yang dominan mempengaruhi orang itu adalah nafsu-nafsunya saja, apalagi bila nafsu-nafsu tersebut sudah tidak dapat dikendalikan lagi oleh moral dan mental yang baik, tidak ada kasih maupun kebijaksanaan dan kesadarannya pun tipis, maka sikap batin orang itupun akan jauh dari kebijaksanaan dan orang itu akan menjadi orang yang lalim, selalu melanggar atau melawan aturan-aturan, bengis dan ngawur. Sehingga pada gilirannya sikap batin yang negatif itu akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang jahat dan merugikan, baik kepada orang lain maupun diri sendiri. Selanjutnya perbuatan-perbuatan tersebut apabila terus menerus terjadi akan melahirkan suatu kebiasaan. Dan dari kebiasaan-kebiasaan tersebut akhirnya menjadikan orang tersebut menjadi orang yang berwatak jahat dan orang tersebut akan jatuh dalam kesesatan dan ketidakkekalan.

 

Sebagai manusia yang normal, maka yang paling banyak terjadi adalah seseorang berada pada dekat-dekat garis batas antara baik dan buruk atau dekat di antara garis yang membatasi hati nurani dan nafsu manusia, sehingga dekat diantara garis yang membatasi hati nurani dan nafsu manusia, sehingga ketika di satu saat yang lebih berperan adalah hati nuraninya, maka berbuat baiklah dia, tapi di lain saat, atau di lain aspek kehidupan, atau di lain masalah, atau terhadap orang yang lain, bisa saja terjadi yang menang adalah nafsunya yang tidak terkendali, sehingga akibatnya berbuat buruklah dia. Hal ini adalah hal yang paling umum terjadi pada manusia.

 

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa yang mempunyai peranan besar, yang menentukan manusia menjadi manusia yang baik adalah hati nurani dan kesadarannya. Wujud nyata dari pikiran hasil karya hati nurani itu antara lain adalah, menolong dst. Sebaliknya apabila yang berperan adalah nafsunya, maka akan dapat membelokkan pikiran manusia yang semula lurus menjadi bias dan melenceng dan akhirnya menjadi pikiran jahat, terutama nafsu yang tidak terkendali. Nafsu yang tidak terkendali itu, wujud nyatanya adalah keserakahan, dengki, ketamakan, kebencian, kesombongan dll.

 

Setelah kita mengetahui hal yang menyebabkan manusia menjadi baik, dan hal yang menyebabkan manusia menjadi jahat, maka selanjutnya adalah tugas kita mencari jalan atau cara agar supaya tidak sampai terjerumus ke dalam jurang kesesatan, caranya adalah harus senantiasa dapat mengontrol diri mulai dari awal proses, yaitu mengontrol pikiran. Kita harus dapat selalu menjaga supaya pikiran tidak sampai jatuh ke pikiran yang jahat dan mempertahankan pikiran selalu berada di jalan yang baik dan lurus. Kita harus menjaga atau mengontrol supaya suara hati nurani kita semakin lama tidak semakin lirih, sehingga tidak terdengar lagi, tertindih oleh suara nafsu kita yang semakin lama semakin nyaring menggelegar, menguasai pikiran.

 

Sebenarnya diantara jalan yang baik dan jahat itu ada garis batas imajiner yang kita namakan WU (kesadaran kita). Apabila dapat menjaga kesadaran itu tetap tegas dan semakin lama semakin kuat, maka kesadaran inilah yang akan senantiasa mencegah kita untuk menyeberang dari pikiran baik ke pikiran jahat. Sayangnya kesadaran ini sering kali terlalu tipis, samar dan selalu kalah tergilas oleh nafsu-nafsu yang semakin lama semakin tidak terkendali. Sedemikian samarnya kesadaran itu sampai akhirnya karena sering dilanggar, maka akhirnya kesadaran tersebut tertutup dan dikalahkan oleh nafsu yang memakai bermacam-macam topeng, ada yang namanya : demi harga diri, demi keluarga, demi agama, demi negara, dll. Tetapi sebenarnya dibalik topeng itu adalah egoisme pribadi. Agar supaya kesadaran itu tidak semakin lemah akan tetapi sebaliknya, semakin kokoh dan kuat, maka kesadaran tersebut harus dipupuk, dipelihara, ditumbuhkan dan dilatih terus. Dan cara untuk memupuk dan menumbuhkan yang paling tepat adalah dengan melakukan Cing Co atau meditasi secara rutin, benar dan dosisnya cukup. Karena dengan Cing Co secara rutin , benar dan cukup lama, maka kita akan dapat menggali suara hati nurani kita yang terdalam, serta menambah kecerdasan kita, sekaligus mengontrol sifat-sifat negatif yang ada di dalam diri kita. Apabila Cing Co itu dilakukan terus menerus dan jam terbang kita telah cukup, serta dibarengi dengan adanya kemauan untuk menjadi baik, maka dengan pelan-pelan kita akan mampu menggeser arah perjalanan hidup kita yang semula kurang baik menjadi baik, ataupun yang semula sudah baik menjadi lebih baik.

 

Selamat berlatih!

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*