Intan Dalam Debu – the web

Makna Kehidupan Menurut pandangan saya

Posted by adminidb January 23, 2015, under Volume 14 | No Comments

Makna Kehidupan Menurut pandangan saya

Oleh : Dhamma

 

Manusia hidup hanyalah beberapa puluh tahun saja. Bak panggung sandiwara, banyak peran dimainkan. Pertama sebagai anak, kemudian sebagai orang tua, mungkin sebagai bawahan atau atasan, pimpinan, dsb. Susah dan senang sama dialami. Kadang-kadang hidup terasa penuh makna, di kala lain terasa kosong. Kita mulai bertanya-tanya, apakah sebenarnya tujuan hidup kita?

 

Ada segolongan manusia yang hisupnya penuh dengan kesulitan dan kesengsaraan. Kadang-kadang ada juga yang sedemikian beratnya hingga frustasi dan hampir saja memutuskan tali nyawanya sendiri. Ia begitu bingung apa sebenarnya tujuan hidup ini.

 

Sebaliknya ada juga segolongan manusia yang hidupnya penuh kemudahan dan bergelimangan harta. Segala yang dia inginkan mampu dia wujudkan. Secara materi, apa yang diinginkannya bisa terkabul. Namun setelah menikmati keberhasilannya, setelah menuruti keinginannya, sesekali di malam sepi dia merenung, Oh hidup ini kok begini, hidup seolah-olah hanya monoton, pagi bangun, setelah bangun bekerja ke kntor, setelah mengerjakan pekerjaan di kantor sore pulang menemui keluarga, dan malam hari tidur, pagi bangun lagi, bekerja lagi, dan seterusnya. Setelah segala keinginannya tercapai, ia mulai berpikir lagi, ada semacam kekosongan dalam rohaninya. Ia bertanya untuk apa sebenarnya dia hidup. Pada umumnya orang hidup ingin : kaya, berkuasa dan atau populer. Kita sebagai umat Tao tidak dilarang untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Namun disamping itu kita masih bisa merasakan bahwa ada tujuan lain yang lebih mulia lagi.

 

Anda mau berumah tangga, silakan. Anda tidak berumah tangga dan mau menjadi bujangan seumur hidup juga tidak ada larangan. Yang penting anda berbahagia. Inilah yang berharga. Namun kita sulit diarahkan, diajak ke dalam dasar kehidupan yang ideal ini. Orang-orang sudah tercengkeram dengan pola umum ini sejak kecil, walaupun pola umum itu akan membawa beban dalam kehidupannya. Contohnya, pola umum hidup mau berumah tangga. Begitu ibu-ibu dan bapak-bapak melihat anak perempuannya sudah berusia 25 tahun dan laki-laki berusia 30 tahun tetapi belum mendapatkan pasangan, sebagai orang tuanya lalu menjadi resah dan beban itu adalah karena kita salah meletakkan pola hidup kita, oleh pemikiran yang kurang tepat pada kehidupan ini.

 

Di dalam agama Tao tidak ada aturan bahwa hidup ini harus berumah tangga tetapi hidup harus bahagia. Tao membimbing kita supaya kita hidup bahagia, tidak peduli apakah berumah tangga atau hidup melajang. Yang membuat kita resah sebenarnya adalah bahwa kita sudah tersedot dalam pola umum tadi. Kalau kita sudah berumah tangga, berhentikah tujuan hidup kita? Ternyata tidak. Setelah berumah tangga kurang lebih 10 tahun, tapi belum dikaruniai anak, oran ini kembali resah. Orang hidup berumah tangga pada umumnya yang diharapkan adalah mempunyai anak. Ini pandangan pada umumnya tetapi tidak pada kebenarannya.

 

Jadi seandainya bapak atau ibu sudah berumah tangga 10 tahun belum juga mempunyai anak, janganlah berkecil hati. Karena menurut agama Tao atau menurut tujuan hidup yang ideal, anak bukanlah tujuan hidup. Itu hanyalah berdasarkan pola umum tadi yang mengharuskan mempunyai anak.

 

Bila kita mendapatkan anak, mungkin kita menjadi resah karena anak tersebut tidak bertingkah seperti yang kita harapkan. Demikianlah seterusnya. Selalu muncul masalah baru dan selalu muncul tujuan hidup yang selalu berubah-ubah. Kalau kita perhatikan, maka yang kita lakukan sebenarnya adalah mencari kebahagiaan. Kita selalu berubah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita untuk menemukan kebahagiaan. Inilah yang menjadi masalah, karena kebutuhan-kebutuhan duniawi kita tidak pernah ada habisnya, yang apabila kita ikuti terus maka kita tidak akan pernah merasakan bahagia yang sesungguhnya. Dengan demikian kita hanya mendapatkan kesenangan sesaat saja. Selanjutnya hidup kita akan dipenuhi kembali dengan perasaan kurang puas atau bahkan menderita. Sebaliknya apabila kita dapat menerima kondisi kita seperti apa adanya dan mencari makna kebahagiaan tersebut dari dalam diri kita, maka kita akan menemukan sebuah jenis kebahagiaan yang tidak tergantung pada hal-hal yang bersifat materi. Kebahagiaan jenis ini adalah kebahagiaan rohani, atau sering dikatakan sebagai kekayaan batin.

 

Oleh karena itu, kebahagiaan dapat kita bedakan menjadi 2 macam:

  1. Kebahagiaan sementara, maksudnya adalah kebahagiaan yang kita dapatkan karena memuaskan suatu kebutuhan yang sesaat. Biasanya, kebahagiaan ini adalah untuk memenuhi keinginan-keinginan inderawi kita saja.
  2. Kebahagiaan sejati, yang saya maksud adalah kebahagiaan yang kita ciptakan dari pengolahan pikiran kita. Kebahagiaan jenis ini tidak tergantung dari materi atau pada pemuasan kebutuhan-kebutuhan kita. Kebahagiaan jenis ini bisa didapatkan dari bila jiwa kita telah menjadi kaya batin yang selanjutnya menjadi modal kita untuk mencapai kondisi jernih dan tenang (baca: Kitab Hening Bening / Ching Cing Cing). Caranya adalah dengan mempertinggi pengertian-pengertian, mumupuk Tek yang tinggi (memperbanyak kung tek) dan olah kesadaran yang dibantu dengan latihan-latihan pengolahan batin/meditasi. Kebahagiaan jenis ini berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan berasal dari luar diri kita. Kebahagiaan jenis ini adalah langgeng dan bisa kita ibaratkan sebagai sumber mata air yang tidak pernah ada habisnya, karena selalu menyumber bagaimana pun kondisi yang terjadi.

 

Dari pemaparan kita di atas maka dapat disimpulkan, bahwa kita sebagai umat Tao, tidak semata-mata hanya mengejar kebahagiaan duniawi (kaya materi) yang bersifat sementara saja, tetapi juga yang terlebih penting adalah mengejar kebahagiaan sejati (kaya batin).

 

Dengan kebahagiaan sejati kita tidak hanya mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, tetapi kebahagiaan ini akan kita bawa selamanya bahkan ketika kita sudah harus meninggalkan dunia fana ini.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*