Intan Dalam Debu – the web

Melepaskan setelah Mencapai

Posted by adminidb January 27, 2015, under Volume 14 | No Comments

Melepaskan setelah Mencapai

Oleh : Daniel Li

 

Barang siapa bersandar pada Tao untuk memimpin manusia tidaklah mencoba untuk memaksakan atau mengalahkan musuh dengan kekuatan tangannya.

 

Karena setiap kekuatan selalu ada balasnya. Kekerasan, walaupun dengan maksud baik selalu berbalik kepada dirinya.

 

Sang Master menyelesaikan tugasnya lalu berhenti.

 

Ia mengerti bahwa alam semesta senantiasa merdeka, dan mencoba mendominasi sesuatu adalah berlawanan dengan arus Tao.

........

(Tao Te Cing 30)

 

Gagasan nurani dari tao tentang perubahan berarti bahwa Tao senantiasa maju ke depan, tidak pernah berhenti di satu titik. Oleh karenanya jika Tao menyelesaikan segala hal, ia juga melepaskan segala hal. Ia tahu kapan saatnya berhenti. Ini tidak saja berarti bahwa Tao meninggalkan yang telah diselesaikannya untuk bergerak ke hal-hal baru......’Tao bertindak tanpa menggenggam erat-erat’ artinya bahwa Tao, sebagai daya cipta yang hidup selamanya, tidak merintangi pengembangan diri dari yang diciptakannya. Ini dimaksudkan untuk melawan kecenderungan manusia yang gemar menggenggam erat-erat segala sesuatu yang telah mereka rampungkan sehingga menghalangi gerakan batin dari proses pembentukan yang ingin mereka capai.

 

Cara pengolahan menuju kesempurnaan Tao salah satunya adalah dengan jalan memfokuskan perhatian kesadaran kita pada proses evolusi batin. Batin kasar manusia terus diolah sedemikian rupa sehingga menjadi semakin halus dan tinggi. Salah satu jebakan dalam proses evolusi batin ini adalah ego kita. Seringkali dalam mencapai suatu kesuksesan atau pencapaian sesuatu ide biasanya akan tergoda oleh munculnya rasa ingin memiliki/menguasai, merasa berjasa atau bahkan merasa harus berjasa. Keberadaan ego yang seperti inilah yang selanjutnya justru akan menghambat proses spiritual batin kita. Mengapa? Karena kita terhanyut dalam ilusi-ilusi bahwa kita telah mencapai sesuatu dan kemudian menggenggamnya erat-erat sehingga mandek. Ingin berjasa, tapi malah justru sebaliknya kehilangan jasa. Kita terpaku pada suatu titik, mengikat diri sendiri sehingga tidak mampu untuk meneruskan perjalanan spiritual kita. Perjalanan masih jauh, dan masih terdapat segunung hal lain yang dapat kita lakukan demi kebaikan kita semua.

 

Sebaliknya, seseorang yang dapat berlaku Wu-Wei, ia akan memiliki suatu sikap batin yang lepas bebas tanpa beban apapun. Termasuk ‘beban’ yang muncul karena pencapaian atas sesuatu hal. Ia dapat sedemikian rupa memiliki dinamika untuk melakukan sesuatu hal secara tanpa beban. Kondisi batin ini terus dipertahankannya hingga pekerjaan tersebut selesai. Batin yang legawa harus dijaga bahkan apabila pekerjaan itu terpaksa harus diserahkan kepada orang lain. Ia tidak memiliki, tetapi telah menyerahkan semuanya. Dengan demikian, pada saat yang tepat ia dengan mudah pula melepaskan segala keakuannya terhadap pencapaiannya itu. Hal ini justru akan memberikan kesempatan kepada batinnya untuk berkembang pada taraf yang lebih tinggi. Dengan kondisi batin seperti inilah maka ia dengan mudah melepaskan keterikatan-keterikatannya pada hal-hal yang telah berlalu dan juga pada yang akan datang.

 

Di dunia ini, setiap orang memiliki perannya masing-masing dalam menyumbangkan fungsi dan manfaat dirinya. Dengan sikap batin yang ‘tidak berusaha menguasai dan memiliki sesuatu’, diharapkan justru akan menimbulkan peluang bagi orang lain untuk turut berpartisipasi untuk menyempurnakan hasil karya itu. Oleh karena itu, hal ini dapat dikatakan pula sebagai kebajikan, karena langkah ini adalah untuk membantu sesamamu yang lain mengalami evolusi batin ke arah yang lebih tinggi bersama-sam anda. Mengapa justru harus bertengkar dan menimbulkan ketidakharmonisan?! Yang terpenting adalah bercermin: “Sudahkah aku menyumbangkan sebuah sinergi (keharmonisan)?” Mengikuti arus prosesnya secara mengalir secara tulus dan ikhlas, dengan tetap bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Hal ini memang tidak untuk dibicarakan saja, tetapi untuk dipraktekkan. Selamat ber-Siu Tao!

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*