Intan Dalam Debu – the web

Manusia adalah Makhluk Organisasi

Posted by adminidb February 16, 2015, under Volume 15 | No Comments

Manusia adalah Makhluk Organisasi

Oleh : Daniel – Semarang

 

Jika kita memeriksa kehidupan kita, maka sebagian besar dari kita tidak akan menarik kesimpulan bahwa organisasi itu meresap ke dalam masyarakat dan juga ke dalam kehidupan kita. Setiap hari kita berhubungan dengan organisasi. Dalam kenyataannya, sebagian besar dari manusia hidup berorganisasi, meskipun mungkin hanya sebagai anggota saja. Entah itu organisasi di pekerjaan mereka (perusahaan), sekolah, wilayah tempat mereka tinggal (RT/RW), sosial maupun terlibat dengan kegiatan keagamaan masig-masing. Meskipun banyak di antara kita tidak menyadari hal ini, namun dapat dipastikan bahwa seorang manusia yang sehat akal, tentu akan menjalin kerjasama dengan lingkungannya baik itu berupa organisasi formal maupun non formal. Sadar atau pun tidak sadar, organisasi merupakan alat yang sangat diperlukan dalam masyarakat kita.

 

Selanjutnya hidup kita ini akan sangat dipengaruhi oleh organisasi-organisasi di mana kita bisa terlibat. Bila kepengurusan RT di wilayah kita itu baik, maka hidup pun akan banyak terbantu oleh manfaat yang tercipta karena adanya organisasi ini. Namun tidak setiap organisasi memiliki kinerja yang baik. Kadang-kadang organisasi itu kelihatannya dijalankan dengan lancar, efisien dan cepat tanggap terhadap kebutuhan manusia, namun kadang-kadang juga organisasi itu sangat membingungkan dan menjengkelkan kita. Pengalaman kita masing-masing dalam / dengan suatu organisasi, memberikan kepada kita penangkapan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, agar kita dapat bersikap semestinya terhadap apa yang disebut organisasi itu, maka penulis akan mengajak pembaca untuk memahami lebih lanjut mengenai apa dan mengapa kita ber “organisasi”.

 

Manusia berorganisasi karena memiliki sebuah tujuan bersama yang dapat tercapai hanya bila dilakukan secara bersama. Oleh karena itu, sebuah organisasi baik dengan tujuan laba, pemberian pendidikan, pemeliharaan kesehatan, keagamaan, ataupun hanya pembangunan stadion bulutangkis, tetap memiliki satu ciri yang tetap sama: perilakunya terarah pada tujuan (goal-directed behavior). Organisasi itu mengejar tujuan dan sasaran yang dapat dicapai secara lebih efisien dan lebih efektif dengan tindakan yang dilakukan secara bersama-sama.

 

Organisasi bukan hanya alat untuk menyediakan barang dan jasa saja. Organisasi menciptakan juga lingkungan tempat kehidupan kita, dan dalam hal ini organisasi mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku kita. Tetapi untuk terlibat dalam sebuah organisasi secara efektif dan efisien, kita juga harus menyadari bahwa betapa besar pengaruh psikologis dari jenis keterlibatan ini dan betapa pentingnya mempelajari studi mengenai teori organisasi.

 

Agar sebuah organisasi dapat berjalan maka diperlukan sumber dana dan sumber daya. Sumber daya sebuah organisasi adalah: manusia, prasarana, sistem dan jaringan. Setelah hal-hal mendasar tersebut dimiliki oleh sebuah organisasi, maka perlu dipelajari dan dikembangkan seluk beluk mengenai organisasi itu. Tiga ciri umum yang dimiliki oleh semua organisasi adalah: perilaku, struktur dan proses.

 

Pada kerangka-pikir perilaku, dalam sebuah organisasi kita perlu memikirkan bagaimana: memenuhi kebutuhan, mengembangkan sikap, memotivasi, memimpin dan mengembangkan kelompok. Pada kerangka pikir struktur dipertimbangkan hal-hal yang menyangkut pertumbuhan, perkembangan, perubahan, dsb. Sedangkan pada kerangka pikir proses kita perlu memikirkan masalah kontribusi, komunikasi, proses pengambilan keputusan dan proses evaluasi. Jadi dalam sebuah organisasi, para anggotanya membawa serta beberapa pengaruh tertentu atas perilaku (misalnya: kebutuhan, kepribadian, sikap) sewaktu mereka menjadi anggota struktur organisasi; dan dalam struktur organisasi ini mereka berperan serta dalam proses komunikasi, pegambilan keputusan, pemberian kontribusi dan mengadakan evaluasi serta sosialisasi.

 

Efektifitas sebuah organisasi merupakan fungsi kompleks yang saling pengaruh-mempengaruhi dari kinerja/efektifitas di tingkat individu, di tingkat kelompok maupun efektifitas dalam organisasi secara menyeluruh.

 

Pendekatan tujuan untuk menentukan dan mengevaluasi efektifitas didasarkan pada gagasan bahwa organisasi diciptakan sebagai alat untuk mencapai tujuan bersama. Yang diartikan sebagai efektifitas adalah pencapaian sasaran-sasaran yang telah disepakati atas dasar usaha bersama. Tingkat pencapaian sasaran itu menunjukkan tigkat efektifitas. Gagasan bahwa organisasi mau pun kelompok dan individu itu harus dievaluasi dari segi pencapaian tujuan, telah diterima secara umum dan meluas. Pendekatan tujuan menunjukkan bahwa organisasi itu dibentuk dengan tujuan tertentu, bekerja secara rasional dan berusaha mencapai tujuan tertentu berdasarkan prinsip-prinsip dasar yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini.

 

PUTI

Dalam hal ini PUTI sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan telah memiliki tujuan bersama yang jelas seperti yang tertuang di dalam pernyataan visinya: menciptakan suasana keberagamaan yang kondusif melalui peningkatan kualitas umat Tao baik dalam hal keagamaan maupun partisipasi sosialnya yang pada akhirnya akan menciptakan kerukunan dan persaudaraan antara sesama pemeluk agama Tao baik secara intern maupun dengan umat beragama lainnya.

 

Seperti telah saya kemukakan dalam artikel berjudul “Tao dan Klenteng”, maka jelaslah bahwa agama Tao mewakili apa yang disebut-sebut sebagai agama tradisi Tionghoa. Oleh karena itu jelaslah, bahwa apa yang kita perjuangkan saat ini secara lebih luas lagi adalah: memperjuangkan hak asasi beragama bagi etnik Tionghoa secara luas. Berdasarkan tujuan bersama inilah, maka kita sebagai orang yang beribadah di Klenteng, secara otomatis sudah terwakili aspirasinya melalui organisasi ini. Selanjutnya yang perlu kita perhatikan faktor kerja sama antara yang satu dengan yang lainnya agar tercipta sebuah sinergi sehingga tujuan bersama ini dapat dicapai secara efektif. Perlu diingat juga bahwa tujuan bersama ini adalah merupakan intisari penjelmaan dari aspirasi kita sebagai pemeluk agama Tao dalam artian luas. Untuk melihat secara lebih kongkrit lagi, saya patut mengajak pembaca untuk merenungkan: Bukankah kita semua menginginkan kemajuan dalam proses ibadah kita? Bukankah kita menginginkan adanya perkembangan yang positif dari ajaran nenek moyang kita?

 

Bukankah kita menginginkan bahwa generasi muda kita juga meneruskan ajaran-ajaran leluhur kita? Bukankah kita ingin menyatakan partisipasi nyata kita sebagai umat Tao dalam pembangunan di Indonesia ini?

 

Sadar bahwa untuk memfasilitasi tujuan-tujuan dari sekitar 45.000 orang yang terdaftar sebagai pemeluk agama Tao di Indonesia ini tidak dapat tercipta begitu saja tanpa sebuah organisasi, maka ada beberapa tokoh umat Tao yang tergerak untuk secara sosial menyumbangkan tenaga, waktu dan pikirannya untuk mewujudkan aspirasi dari anda semua. Meskipun demikian cita-cita dari umat Tao ini hanya akan terwujud bila kita semua berpartisipasi bersama-sama, menggalang sebuah kerja sama untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dalam hal ini, para aktivis/pengurus yang bertugas melayani anda tersebut berupaya untuk menyatukan sumber daya yang telah kita miliki. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah mengelola aspek perilaku, struktur dan proses dari sekumpulan orang termasuk diri kita yang menamakan dirinya “orangTao”. Tetapi kalau kita lihat dengan lebih seksama, maka sebenarnya perilaku, struktur dan proses yang dimaksudkan adalah perilaku, struktur dan proses dari anda-anda semua sebagai sel-sel dari sebuah tubuh. Jadi sebenarnya, yang menciptakan sebuah suasana yang kondusif bagi umat Tao itu sebetulnya adalah anda semua! Bukan hanya pengurusnya saja. Tercapai atau tidaknya tujuan bersama kita ini bukanlah tergantung hanya dari mereka yang melayani dalam jabatan pengurus saja, tetapi tergantung dari semangat dan sumbangsih kita semua sebagai insan Tao! Marilah kita memandang pengurus itu hanyalah laksana bagaikan jembatan yang menghubungkan, menyalurkan dan mengelola perilaku, struktur dan proses yang dilakukan dan berasal dari kita-kita ini sebagai umat Tao. Masa depan dan nasib kita tergantung sepenuhnya pada sumbangsih diri anda semuanya terhadap apa yang kita perjuangkan saat ini.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*