Intan Dalam Debu – the web

Memperbaiki Nasib Dengan Siu Tao

Posted by adminidb February 16, 2015, under Volume 15 | No Comments

Memperbaiki Nasib Dengan Siu Tao

Oleh : Bernard – Jakarta

 

Pada dasarnya nasib bersumber dari diri kita sendiri. nasib merupakan hasil dari perbuatan kita baik masa sekarang maupun pada kehidupan sebelumnya. Hukum alam berdasarkan pada hukum keseimbangan (Yin yang) – Hukum Sebab dan Akibat. Kita akan memetik apa yang kita tanam. Bila kita menanam jeruk tentu kita akan memetik jeruk. Ini merupakan hal yang mutlak dan tidak terbantahkan. Hukum Sebab dan Akibat dapat dianalogikan seperti mata rantai yang selalu saling berkaitan. Sebab menimbulkan akibat dan akibat akan memunculkan sebab yang baru dstnya.

 

Bagi kebanyakan orang, kata nasib buruk sering dijadikan alasan untuk berhenti berusaha atau berjuang meraih apa yang dicita-citakan. Kebanyakan orang sering terlalu cepat mengatakan bahwa nasibnya kurang baik bila mengalami kegagalan atau bahkan hanya sedikit kesulitan di dalam berusaha atau menangkap peluang. Tapi sebetulnya bila dilihat secara lebih mendalam perlu dipertanyakan apakah orang tersebut telah berusaha maksimal?

 

Bagi orang yang Siu Tao, apalagi yang muda-mudi, kata nasib buruk harus diletakkan paling terakhir di dalam menjalani tantangan kehidupan ini. Usaha harus diutamakan dan jangan menggunakan nasib buruk sebagai alasan untuk mudah menyerah. Usaha harus maksimal dulu. Sudahkah belajar dan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sehat, bahagia, sukses dan maju? Sudahkah kita menjalankan Siu Tao dan Siu Sin Yang Sin secara serius dan mantap?

 

Keberuntungan sering didefinisikan sebagai “ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”. Kalimat “bertemunya kesempatan dengan kesiapan” sedikit banyak ada benarnya juga. Bila diperhatikan lebih seksama dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya sering kesempatan baik yang ada di depan mata kita, lepas begitu saja dikarenakan kita dalam kondisi tidak siap untuk menangkapnya entah karena kita tidak mempunyai skills/keahlian yang cukup atau juga mungkin kurangnya pengetahuan, wawasan, network , perhatian/kejelian maupun keberanian untuk mengambil resiko. Kesempatan itu sebenarnya selalu ada dimana-mana. Dan hanya yang selalu jeli dan siap sajalah yang senantiasa dapat menangkapnya begitu kesempatan muncul ke permukaan. Oleh karenanya kita harus senantiasa mempersiapkan diri kita untuk selalu tekun belajar, jeli dan berani menangkap kesempatan baik yang muncul.

 

Tapi kebanyakan orang hanya “berharap” nasibnya entah di bidang keuangan, kesehatan, rumah tangga, karir, maupun pergaulan bisa berubah dengan sendirinya tanpa berusaha keras. Ada juga yang berharap nasib buruknya bisa berubah dalam sekejab setelah hanya melakukan sedikit perbuatan baik. Banyak juga yang mengharapkan adanya keajaiban/miracle seperti lotere/undian besar atau juga rejeki nomplok. Padahal peluang untuk mendapatkannya mungkin kurang dari 1 per 1 juta orang. Dengan demikian hidup dijalankan tanpa perencanaan, tanpa persiapan dan hanya penuh dengan harapan kosong belaka.

 

Juga hanya seedikit orang yang mengalami perubahan nasib dikarenakan hanya mengulangi dan meneruskan apa yang telah dihasilkan baik tingkat kesadarannya (WU) maupun benih-benih (sebab) yang ditanam dari masa sebelumnya. Tanpa metode yang tepat, kebanyakan orang hanya akan mengulangi siklus kehidupan/masa sebelumnya di kehidupan saat ini tanpa membuat suatu kemajuan atau perbaikan yang berarti. Bahkan banyak yang mengalami degradasi “benih” dengan makin banyaknya orang tersebut melakukan hal-hal yang negatif (benih/sebab yang buruk). Bila kita ingin memetik akibat yang berbeda tentu kita harus menanam sebab yang berbeda. Bila ingin memetik apel tentu kita harus menanam apel tidak bisa menanam jagung tapi mengahrapkan “suatu saat” kita akan menuai apel. Ini tentunya sama dengan harapan kosong belaka dan melepas tanggung jawab di dalam berusaha untuk memperbaiki nasib sendiri.

 

Lalu yang menjadi pertanyaan bagaimana nasib buruk bisa diperbaiki dengan Siu Tao? Untuk merubah nasib kita perlu menjalani Siu Tao dengan mantap dan sungguh-sungguh. Untuk merubah nasib buruk kita perlu menetralisir “benih-benih/perbuatan” yang kurang baik yang ditanam pada masa sebelumnya (sebab) dengan benih-benih kebaikan (positif) di saat sekarang. Dengan menjalani Siu Tao melalui metode Tao Ying Suk, kita akan dapat menetralisir benih-benih yang negatif dan dapat memutuskan siklus/kecenderungan diri kita yang negatif dari masa yang lalu.

 

Dalam proses Siu tao (Tao Ying Suk) kita digembleng untuk melatih dan mengembangkan berbagai aspek diri seperti fisik, mental, sukma dan perbuatan melalui Shen Kung dan Cing Co Kung. Ke 4 aspek ini saling berkaitan erat. Tanpa fisik yang sehat kita akan sulit mempunyai mental yang sehat. Dan tanpa fisik dan mental yang sehat kita akan sulit mempunyai sukma yang kuat. Dan akhirnya tanpa fisik, mental dan sukma yang sehat kita akan kesulitan untuk melakukan perbuatan baik secara alami, tulus dan tanpa beban (kungtek).

 

Dengan berlatih Tao Ying Suk (Siu Tao) secara Benar, Mantap dan Sunguh-sungguh, daya Wu (kesadaran) dan tingkah laku akan berubah ke arah yang lebih baik. Secara perlahan-lahan tingkah laku, tutur kata maupun kondisi hati dan batin kita akan berubah ke arah yang positif. Hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita akan membaik dengan sendirinya. Kita akan cenderung secara alamiah mempunyai sikap dan hati yang suka menolong orang (kuntek). Dengan adanya perubahan yang nyata ini, kita sedikit demi sedikit akan mulai menanamkan benih-benih kebaikan (sebab yang positif). Juga dengan rajin berlatih, kemampuan/potensi diri kita akan meningkat secara alami. Hal ini memungkinkan kita untuk dapat terus belajar dan meningkatkan wawasan maupun keahlian sesuai dengan bidang yang ingin kita kembangkan. Dengan terus belajar dan memperbaiki diri (Siu Sin Yang Sin) di berbagai bidang, kita akan lebih mempunyai kejelian maupun kesiapan diri di dalam menangkap peluang yang ada.

 

Dan yang tak kalah pentingnya, dengan berlatih (Siu Tao) secara mantap hati, Shen dengan sifat maha penyayang, maha adil dan maha welas asih nya tentu akan terketuk hatinya untuk membantu kita kalau memang kita bertindak dan bertingkah laku yang sesuai dengan sifat-sifat kemuliaan Shen (Kaidah Tao). Bila hati kita tulus dan berbudi dalam bertingkah laku tentu Shen akan senantiasa membantu.

 

Mungkin kalimat yang ada di Kitab Suci Dewa Erl Lang Sen bisa menyegarkan ingatan kita betapa pentingnya peran Shen di dalam membantu kita “yang berbudi, yang baik hati, yang belajar Tao, yang mengerti Tao, ketika nasib malang, sialnya dikurangi setengah. Ketika nasib jaya, rejeki ditambah empat sampai lima bagian”.

 

Jadi bisa disimpulkan bahwa di dalam berusaha untuk memperbaiki nasib sendiri, kita perlu memfokuskan energi, perhatian maupun tindakan pada apa yang ada di dalam kendali kita. Akan percuma saja kita sembahyang meminta-minta pada Shen bila kita tidak melakukan apa yang sebenarnya bisa kita jalankan. Kita harus melakukan bagian kita. Kita perlu menggembleng diri melalui Siu Tao hingga dapat melakukan tindakan yang berdampak positif bagi orang lain secara alami dan tulus (Kung Tek) diikuti dengan terus meningkatkan keahlian, pengetahuan maupun wawasan kita. Shen hanya “Bisa dan Bersedia” membantu bila kita telah sungguh-sungguh berusaha dan telah banyak melakukan perbuatan yang memberikan dampak positif bagi orang lain secara alami dan tulus. Kekuatan/Power dari Kungtek inilah yang dapat menjadi suatu benih-benih positif (sebab positif) yang tak terkira dan tak terukur yang dapat menjadi modal kita dalam memperbaiki nasib ke arah yang lebih baik.

 

Jadi diri kita sendirilah yang bertanggung jawab atas nasib dan hidup kita. Mau dibawa kemanakah??

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*