Intan Dalam Debu – the web

Menyiasati Konflik

Posted by adminidb February 26, 2015, under Volume 15 | No Comments

Menyiasati Konflik

Oleh : Bernard – Jakarta

 

Kamus Webster mendefinisikan konflik sebagai “sebuah pertentangan atau perbedaan dalam prinsip, tujuan, keinginan, minat maupun perasaan. Selain itu Webster juga mendefinisikan konflik sebagai pertentangan mental yang disebabkan oleh kebutuhan, harapan atau permintaan yang saling tidak cocok atau bertentangan. Jadi pada dasarnya konflik terjadi karena adanya kebutuhan yang berbeda atau tidak terpenuhi dikarenakan asumsi atau pendapat yang berbeda dari individu yang terlibat entah dalam sebuah percakapan biasa, forum diskusi maupun rapat formal di sebuah instuisi atau organisasi.

 

Perbedaan sebenarnya merupakan hal yang WAJAR (Ceran). Bisa dibayangkan apa jadinya bila semua orang yang ada di dunia ini serba seragam mulai dari cara berpakaian, hobby, makanan kesukaan, kebiasaan, cara berpikir, berkendaraan, dsbnya. Jadi bisa dikatakan bahwa perbedaan inilah yang menyebabkan hidup ini menjadi “berwarna”. Yang menjadi permasalahan sebenarnya adalah bukan pada perbedaannya melainkan bagaimana individu yang terlibat menyikapi perbedaan yang ada.

 

Dalam menyikapi perbedaan sikap yang diambil setiap individu pun berbeda-beda. Ada yang tidak ambil pusing, biasa saja, tidak perduli, mengerti, tersinggung, marah hingga dendam kesumat. Selain itu konflik juga ada yang berlangsung sebentar saja tapi ada pula yang berkepanjangan bahkan bisa sampai dibawa ke liang kubur. Ini sepenuhnya tergantung dari daya WU setiap individu.

 

Konflik secara tidak langsung sering disebabkan oleh tekanan dalam hidup. Di tengah situasi yang serba cepat, rumit dan stress tinggi seperti saat ini banyak orang yang cenderung menjadi tidak sabar/agresif dan ingin segala sesuatunya serba cepat mulai dari makanan (fast food), pekerjaan maupun dalam berkomunikasi antar sesama.

 

Jadi bagaimana konflik harus disiasati? Ada sebuah cara yang sederhana namun cukup ampuh di dalam meredam/mengatasi (bukan menghilangkan) konflik yaitu dengan menyeimbangkan Energi Mendorong dan Energi Menarik (Push vs Pull Energy).

 

Orang yang bersikap agresif, tidak sabar dan kurang bertoleransi terhadap sesamanya bisa dianalogikan orang itu memancarkan Energi Mendorong (Push Energy) atau bersikap secara Ekspresif dalam berinteraksi. Contoh kalimat ekspresif yang sering diucapkan diantaranya: “Saya mau A tidak mau yang lain!” “Saya perlu datanya sekarang juga!” “Harus A tidak bisa B!” “Anda salah, seharusnya yang benar begini!” “Saya tidak suka berkompromi!” “Kamu bagaimana sih masa begini saja tidak mengerti!” “Cara A adalah yang paling benar dan aman!” “Sekali saya bilang A akan tetap A!” Dan masih banyak lagi. Pada intinya mereka berusaha keras “Mendorong” segala keinginannya/pendapatnya/prinsipnya/pandangannya supaya bisa diterima dan disetujui pihak lain.

 

Hal di atas tentunya akan menimbulkan konflik/benturan bila ditanggapi secara Ekspresif juga. Masing-masing akan berusaha untuk membela diri dan mempertahankan opininya yang pada akhirnya akan bertindak serupa yaitu saling mendorong dan tidak ada yang mau mengalah agar pendapat atau keinginannya bisa diterima. Bila hal ini terjadi solusi akan sulit tercapai. Seperti telah diketahui bahwa pada dasarnya segala sesuatu yang berlawanan seperti pria wanita, siang malam, aksi reaksi hingga dorong tarik sebetulnya juga saling melengkapi hingga tercapainya keseimbangan/equilibrium (Teori Yin Yang). Sejalan dengan teori Yin Yang, konflik bisa diatasi/diredam dengan menerapkan energi yang berlawanan yaitu Energi Menarik (Pull Energy) atau bersikap Receptif. Dengan menggunakan Energi Menarik, kita seolah-olah sedikit mundur ke belakang (step back) dalam rangka menetralkan Energi Mendorong yang dipancarkan. Kita seperti “mengikuti” atau “mengalihkan” aliran Energi Mendorongnya. Energi Menarik bisa ditunjukkan dengan menjadi pendengar yang baik, penuh perhatian, dan ketenangan diikuti dengan mengajukan pertanyaan ke arah yang kita inginkan atau seputar dirinya dan situasinya. Secara tidak langsung kita menunjukkan bahwa kita perduli dan mencoba mengerti situasi dan kondisi yang sedang dialaminya.

 

Perhatian dan pikirannya akan berlih (shift) untuk menjawab atau memikirkan pertanyaan yang kita ajukan (Energi Mendorongnya akan teralihkan dan menjadi berkurang). Kalimat yang biasa diucapkan adalah “Bisa beritahu saya apa yang sebenarnya menjadi permasalahan kamu?

 

“Bisa berikan usul cara apalagi yang mungkin berhasil?” “Apa yang mendasari pemikiran kamu?” “Kenapa mesti A bukan B, bisa dijelaskan sedikit?” “Bisa tolong jelaskan kenapa harus cara ini?” “Bagaimana kita bisa mendapatkan solusi yang memuaskan semua pihak?” dsbnya.

 

Ini serupa dengan teori dari Tai Chi Chuan, Pa Kua Chang, dan Hsing I Chuan yang menggunakan Energi Menarik dengan memundurkan badan/mengelak ke samping bila diserang secara frontal guna meredam tenaga lawan, diikuti dengan menggunakan tenaga lawan sendiri untuk menyerang balik (mendapatkan hasil yang diinginkan). Enegi Menarik/Sikap Receptif akan menjadikan mereka berpikir sejenak guna menjawab pertanyaan. Energi Mendorongnya akan teralihkan. Dan ketika akan menjawab pertanyaan mereka akan bisa lebih menyadari posisinya sendiri di mana pada saat yang bersamaan mereka akan bisa melihat posisi/sudut pandang kita. Sering akhirnya individu yang terlibat menjadi saling ber-empati (mengerti posisi/sudut pandang satu sama lain). Dengan bersikap Receptif, kita juga berlatih untuk membuka hati dan diri dalam proses mendewasakan diri kita sendiri. Kedewasaan diri (WU) menjadi penentu dalam penyelesaian suatu konflik.

 

Makin banyak yang terlibat akan semakin perlu untuk mendengar keinginan atau concern dari setiap orang. Usahakan untuk selalu memperhatikan dan perduli terhadap kebutuhan/pendapat setiap orang. Keputusan yang diambil sebaiknya yang disetujui oleh setiap orang melalui proses. Menjabarkan semua perbedaan yang ada (summarizing). Mengumpulkan ide solusi (brainstorming), memilah kemungkinan solusi (multivoting), hingga akhirnya memilih solusi terbaik dari pilihan solusi yang ada melalui suara terbanyak (selecting).

 

Akhir kata seperti segala teori yang ada, dalam prakteknya tentu memerlukan pengendalian diri (WU dan kedewasaan) dan komitmen dari kita sendiri bila ingin mendapatkan hasil yang optimum dan maksimal.

 

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*