Intan Dalam Debu – the web

Sebuah Renungan

Posted by adminidb March 6, 2015, under Volume 15 | No Comments

Sebuah Renungan

Oleh : Taoyu......

 

Biasanya tiap tahun setelah perayaan Cap Go Meh, umat TAO disibukkan dengan acara ujian kenaikan tingkat (khau se). Dimana bagi umat TAO yang ingin mengikuti ujian, diwajibkan untuk mengisi formulir yang disediakan oleh panitia. Tentu saja dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Bagi Taoyu yang tidak dapat memenuhi persyaratan tersebut, misalnya batas minimal lamanya ia mempelajari TAO, tentunya Taoyu tersebut tidak dapat mengikuti ujian. Disini kita dapat melihat kesibukan dari panitia dan para Taoyu untuk menghadapi dan menjalani ujian tersebut sampai dengan selesai atau pengumuman kelulusan.

 

Pengumuman kenaikan tingkat biasanya dibacakan pada hari raya Thay Sang Lauw Cin. Dimana pada waktu perayaan tersebut akan dibacakan siapa saja Taoyu yang berhasil mendapatkan Huang Ie atau naik tingkat. Seiring dengan pengumuman tersebut, tentu saja akan ada Taoyu yang merasa senang dan ada juga yang kecewa. Senang karena hasil ujiannya berhasil dengan baik dan kecewa karena hasil ujian tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Seiring dengan itu pula akan terdengar rumor-rumor yang menyangkut ujian tersebut, misalnya timbul pertanyaan seperti “Mengapa si A yang lulus bukan si B saja yang lulus?” karena menurut pandangan pribadi mereka, si B itu kelakuannya lebih baik atau kung tek (jasanya) lebih besar daripada si A.

 

Pertanyaan tersebut pernah timbul pada diri saya dan pernah pula saya dengar dari orang lain yang mempertanyakan kenaikan tingkat dari seseorang. Akan tetapi setelah saya renungkan hal tersebut di atas, maka secara pribadi saya menyimpulkan bahwa ujian kenaikan tersebut yang menilai adalah Dewa. Jadi segala sesuatu, abik buruknya kelakuan kita maupun besar kecilnya kung tek (jasa) yang kita perbuat. Dewa yang menilainya. Jadi kita sebagai umatnya harus menerima apa yang telah diputuskan oleh Nya. Apabila kita mempertanyakan mengapa si A yang naik bukan si B, bearti kita kurang percaya dan menyangsikan keputusan dari Dewa. Alangkah lebih baik kalau kita bertanya pada diri kita sendiri, mengapa kita tidak naik? Dengan begitu kita akan dapat mengintrospeksi diri kita sendiri, apakah perbuatan kita sehari-hari sudah baik dan apakah sudah sesuai dengan keinginan Dewa.

 

Demikianlah kesimpulan yang dapat saya sampaikan. Apabila dalam penulisan terdapat kalimat atau kata-kata yang salah, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

Salam Tao, semoga Tao tetap jaya dan semakin jaya.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*