Intan Dalam Debu – the web

Kesadaran, Dapatkah Dipaksakan Dari Luar?

Posted by kichigai April 16, 2004, under Volume 17 | No Comments





Kesadaran, Dapatkah Dipaksakan Dari Luar?

Oleh :Tjeng Liang-Surabaya

 

?Kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus, lama kelamaan akan dirasakan sebagai hal yang alamiah?

Kesadaran, Dapatkah Dipaksakan Dari Luar?Di dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok anggota masyarakat yang mempunyai visi, tujuan, pandangan, keyakinan, atau hobby yang sama, orang-orang dengan kesamaan-kesamaan tersebut tidak jarang lalu membentuk kelompok-kelompoknya sendiri, ada yang tetap mempertahankan kumpulannya menjadi kelompok dengan ikatan yang longgar, tetapi tidak sedikit pula kelompok yang membuat suatu ikatan yang lebih konkrit, lebih terikat, dan lebih formal yang disebut organisasi. Pada awal perjalanannya, semua kelompok atau organisai itu pasti lancar-lancar saja, oleh karena awalnya memang berisi orang-orang yang memiliki kesamaan ide, seperti yang telah diuraikan di atas. Tetapi dalam perkembangannya setelah organisasinya semakin besar dan heterogen, hampir dipastikan apabila tidak dikelola secara benar dan baik, pasti mulai timbul perbedaan-perbedaan, banyak yang dapat diselesaikan tapi tidak sedikit yang tidak terselesaikan sehingga mengganjal terus dan menjadi bibit-bibit keretakan dan perpecahan.

Suatu organisasi yang baik seyogyanya dari awal sudah mengantisipasi hal-hal ini dan menuangkan langkah-langkah antisipasinya dalam bentuk anggaran dasar, anggaran rumah tangga, etika organisasi, maupun petunjuk pelaksanaan, dan etika serta peraturan-peraturan organisasi, yang tujuannya tak lain adalah untuk menciptakan suatu mekanisme kerja yang baik, memelihara suasana atau hubungan vertikal maupun horizontal yang harmonis, memilih pemimpin dan jajarannya yang cakap dan bijaksana. Akan tetapi walaupun hal-hal diatas telah direncanakan dengan baik, mengapa selalu masih saja terjadi keretakan dan perpecahan di dalam organisasi? Ini berarti peraturan yang baik saja tidaklah cukup, masih ada hal lain yang ternyata lebih penting dari ?peraturan organisasi?.

Ada satu hal yang sangat mendasar yang seringkali dilupakan orang yaitu organisasi yang baik harus memiliki sumber daya manusia yang mempunyai kualitas pribadi yang baik, tanpa mempunyai kualitas sumber daya yang baik, tidak mungkin suatu organisasi akan dapat berkembang dan maju di kemudian hari, kualitas sumber daya manusia itu tidak sekedar tingginya pendidikan atau banyaknya pengalaman berorganisasi tapi kualitas pribadi itu lebih menitikberatkan pada kualitasa mental, moral dan spritual. Banyak organisasi yang dari awal tidak menyadari akan hal ini dan tidak secara konkrit mendorong agar anggota organisasinya apakah sudah berjalan lancar. Bukannya hal itu tidak penting, akan tetapi yang lebih mendasar yang dibutuhkan oleh organisasi adalah suatu kondisi dimana tumbuhnya kesadaran dari seluruh pengurus dan anggota organisasi, bahwa meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah merupakan roh dari organisasi yang akan menentukan maju atau tidaknya organisasi tersebut dikemudian hari, dan kesadaran itu tidak bisa dipaksakan dari luar, kesadaran itu harus tumbuh dari dalam dan biasanya tumbuhnya kesadaran dari dalam itu setelah setiap individu yang berada dalam organisasi tersebut dapat merasakan manfaat dari keberadaan organisasi yang diikutinya, sehingga setiap individu merasa ikut berkepentingan terhadap kemajuan organisasi pasti akan mengalami degradasi atau kemunduran.

Hal lain yang selalu menjadi bibit perpecahan dalam berorganisasi adalah apabila ada individu-individu dalam organisasi tersebut, baik individu tersebut sebagai pengurus maupun anggota biasa, merasa dirinya lebih hebat, lebih pandai, lebih benar, lebih suci, lebih mampu daripada orang lain di dalam organisasi tersebut. Akibat adanya perasaan seperti itu, maka lahirlah kasak kusuk, perasaan tidak puas, gugatan, menjelek-jelekan dan hal lain-lain yang menjadi pangkal keretakan dan perpecahan. Padahal kalau mau, setiap manusia sudah dianugerahi perangkat-perangkat untuk mengontrol perasaan ?sebab lebih? tersebut, hanya saja kita jarang mau menggunakan perangkat yang namanya instropeksi, merefleksi diri, maupun melakukan kontemplasi ke dalam diri kita, niscaya keretakan-keretakan dan ganjalan-ganjalan yang bisa terjadi dalam organisasi dapat minimalisir. Oleh karena dengan selalu intropeksi dan rutin berkontemplasi, maka setiap anggota terlebih pengurus organisasi tersebut senantiasa dapat mawas diri dan bertenggang rasa, tidak merasa diri mereka yang paling benar, dan setiap kali timbul persoalan, selalu mau berusaha melihat permasalahan secara utuh, tidak hanya dari sisi kepentingan dirinya sendiri.

Memang tidak mudah untuk bisa mencapai untuk bisa mencapai keadaan bahwa tegak dan majunya organisasi mau tidak mau harus ditopang oleh dua hal : pertama harus cukup mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas baik secara kemampuan, mental, moral dan spritual, serta yang kedua harus ditopang dengan peraturan dan sistim kerja yang baik, oleh karena menyangkut massa yang besar.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*