Inti Sari Siutao (4)
Oleh: Lie Ping Sen - Lampung


Pada tulisan saya di Inti Sari Siutao (3), saya ingin menjelaskan bahwa kita harus mengerti dan memahami apa tujuan Siutao, bagaimana cara menjalankan dan apa yang harus diperhatikan dalam perjalanan Siutao kita, serta dimana dan bagaimana kondisi kita sekarang ini.
Dengan demikian diharapkan kita semua tidak lagi terbelenggu didalam kebingungan, kita bisa mengerti dengan jelas langkah-langkah yang harus kita lakukan.
Apabila kita telah sampai tahap ini, seolah jalan lapang membentang didepan kita, tinggal kita yang harus berjalan sendiri, namun haruslah selalu diingat, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mewakili untuk berjalan.
Kita harus mempersiapkan diri kita untuk menjalankannya, apa yang harus kita persiapkan?
Yang utama adalah hati yang tulus, karena hanya dengan ketulusan hati, kita dapat menjalaninya dengan sungguh hati, dengan hati yang mantap, dan tidak mudah tergoyah. Seringkali kita tidak tahan uji, dan hanya memikirkan hasilnya, tanpa melihat bagaimana kita berlatih diri.
Untuk dapat berhasil dibutuhkan kerja keras, demikian juga dalam proses melatih fisik dan mental kita, kita harus melakukan dengan sungguh-sunguh.
Berlatih keras (bersusah-susah) dahulu selama tiga tahun, untuk dapat menikmati hasilnya sepanjang hidup. Apakah kita mau menjalaninya?
Kalau kita dapat menjalaninya dengan tekun, maka kita sendiri yang akan menikmati hasilnya.
Fisik yang baik adalah modal utama untuk menjalani Siutao ini, moral yang tinggi adalah penunjang utama untuk keberhasilan Siutao kita. Dengan dua hal ini sebagai dasar untuk menjalankan Siutao kita, dengan ditambah cara-cara dan pengetahuan yang benar tentang Agama Tao, kita sudah berada pada jalur yang benar untuk Siutao.
Ketulusan Hati (Chen Shin)
Hati yang tulus akan menyebabkan seseorang menjalankan Siutaonya dengan kesungguhan hati, menjalankan ajaran dan cara-cara yang diberikan dengan benar, tidak akan goyah dan bimbang, dengan begitu barulah bisa menikmati hasilnya. Kalau tidak, maka selalu saja bimbang dan mencari-cari lainnya serta ajaran lainnya, sehingga tidak pernah akan merasakan hasil latihannya.
Prinsip-prinsipnya menjadi campur aduk, menunjukkan kebimbangan hatinya. Seseorang tanpa ketulusan hati, maka seumur hidupnya tak akan berhasil.











