Intan Dalam Debu – the web

Lembayung Senja

Posted by kichigai August 20, 2004, under Volume 18 | No Comments





Lembayung Senja

Oleh : Lie Ping Sen - lampung

 

Lembayung SenjaKehidupan manusia seperti berputarnya sang waktu, seperti beredarnya matahari, sehingga selayaknya juga belajar dari fenomena alam, agar dapat mendapatkan kebijakan untuk menjalani hidup itu sendiri.

Manusia baru lahir, seperti hari yang baru beranjak pagi, sinar matahari yang mulai temaram, layaknya seperti seorang bayi yang baru lahir, masuk kedunia ini dengan penuh harapan, namun tidak mengerti apakah harinya akan hujan ataukah akan cerah.

Manusia yang baru lahir, seperti kertas putih yang masih polos, masih belum tergores apapun, dan sangat ditentukan oleh apa yang akan tertulis dikertas putih itu.

Maka seharusnya dijaga dengan baik, dipersiapkan dengan bijaksana, agar yang tertulis nantinya adalah tentang kebajikan, kejujuran, dan segala yang baik.

Hari akan beranjak dari pagi ke siang, matahari mulai bersinar terang, ini menunjukkan manusia yang menjalani masa mudanya, seharusnya berjuang dengan gigih, seperti kuatnya sinar matahari itu.

Berjuang untuk mengisi kehidupannya, berjuang untuk mempersiapkan bekal hidup, berjuang untuk mencapai cita-citanya.

Dimasa ini, jangan sampai salah menentukan prinsip yang akan diperjuangkan, jangan sampai terjerumus dan jatuh dalam kubangan kehidupan.

Isilah masa ini dengan ilmu yang sangat dibutuhkan, mantapkan pengetahuan agama yang akan menjadi barometer kehidupan, revisilah fisik dan mental menuju kesempurnaan.

Menjelang tengah hari, seolah merupakan masa kematangan didalam kehidupan manusia, masa umur pertengahan ini, kehidupan seharusnya  sudah mantap, karier, pengetahuan, agama, ilmu, dll seharusnya sudah cukup matang.

Masa ini, janganlah cepat merasa puas, kalau kita merasa puas, akan segera mengalami kemunduran, seharusnya mulai banyak diisi oleh kegiatan yang lebih mengutamakan kesosialan, mulai bisa memikirkan orang lain, mulailah mengisi dengan banyak falsafah tentang kehidupan, mulai menemukan makna hidup, mulai mantap dalam bidang ilmu keagamaannya.

Benturan-benturan banyak dialami hingga mencapai usia ini, itulah pengalaman hidup yang seharusnya dijadikan guru yang sangat berharga.

Melalui pengalaman hidup kita baru bisa benar-benar memahami hidup itu sendiri.

Selewat siang, senja menjelang, matahari mulai redup, lembayung senja masih bersinar. Kehidupan manusia juga demikian, mulai memasuki usia senja, meskipun kemampuan fisik mulai berkurang, namun semangat hidup dan pancaran kebajikan seharusnya seperti lembayung senja yang bersinar.

Dimasa seperti ini, seseorang haruslah memancarkan kebijaksanaannya, memberikan kesejukan, menunjukkan kematangan jiwanya.

Dengan pengalaman hidup, dengan kemampuan ilmu, dengan kemapanan bidang keagamaan, seseorang seharusnya selalu bertindak bijaksana, tidak lagi mudah terombang ambing, bisa menyesuaikan diri lebih baik, dan selalu memancarkan kebajikan.

Kalau tidak demikian , maka orang tersebut akan terkucil dalam kehidupan ini. Kalau seseorang dimasa senjanya kurang bijaksana, susah menyesuaikan diri, masih tinggi sifat egonya, maka ia akan tersisihkan, akan merasa kesepian, hidupnya tidak akan bahagia.

Inilah masa untuk persiapan memasuki akhir kehidupan, kalau sudah mengerti apa arti hidup, kalau sudah mantap Taonya, kalau hidupnya penuh dengan kebahagiaan, maka memasuki masa itu akan dilewati dengan ketentraman bathin.

Seperti berganti baju, seperti berpindah tempat, dengan sukma yang sudah matang, dengan Buah Tao yang sudah sempurna, jadilah Dewa/i , semuanya berjalan sesuai dengan kodrat alam, sesuai dengan Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*