Menjadi Ulet dan Sabar Menghadapi Hidup
Oleh: Huang Zhi Qiang-Magelang
1. Pada suatu pagi, saat saya menyusuri jalan raya. Lampu lalu lintas di sebuah persimpangan memberi aba-aba kepada pengguna jalan untuk berhenti sejenak memberi kesempatan pengguna jalan yang lain untuk melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba dari arah belakang muncul sebuah sepeda motor dengan sesuka hati menerjang lampu pengatur jalan tersebut. Selang beberapa detik ada lagi pengguna jalan lainnya melakukan hal serupa.
2. Di dalam keseharian pekerjaan kita, kadang kita menyepelekan tanggung jawab pekerjaan kita. Misal: sebagai seorang pekerja sering kita merasa perusahaan tempat kita bekerja kaya dan kita merasa gaji yang kita terima sedikit sehingga kita dengan mata buta mulai korupsi kecil-kecilan mencuri waktu untuk relaks tidak melakukan pekerjaan kita sebagaimana mestinya, sampai lebih jauh memanipulasi dan menggelapkan aset perusahaan.
Begitulah fenomena yang ada. Saya tidak pernah merasa diri saya sudah baik, tetapi saya ingin mencoba mencari hubungan antara perilaku kita dengan apa yang kita sebut sebagai Siu Tao yang konon maksudnya adalah membina fisik dan mental sehingga mencapai kesempurnaan.
Setiap individu mempunyai keunikan, yaitu: latar belakang, kondisi dan situasi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kita bisa saja mencari kambing hitam dari segala apa yang telah kita lakukan. Tetapi apakah dengan demikian semua masalah yang timbul akan selesai? Tentu saja tidak! Marilah kita lihat kembali ilustrasi cerita pertama.
Pagi hari memang jalan masih sepi dan polisi pun belum bertugas. Jadi ya mungkin tidak kena tilang dan tidak mengalami kecelakaan. Juga mungkin bisa saja si pelanggar berkilah sedang mengalami situasi yang mendesak (emergency situation), jadi tanpa pikir panjang terjang ajalah. Pengandaian yang lain, polisi belum ada, ternyata pada saat di tengah persimpangan terjadi kecelakaan. Apa mau dikata? Nasi sudah jadi bubur, muncul lagi masalah baru.
Seperti di dalam Siu Tao, membina mental dan moralitas yang baik tidak hanya dengan lien kung saja. Tidak cukup. Memperluas pengetahuan dan mempraktekkan ajaran Tao secara wajar dan alamiah juga menjadi salah satu kunci keberhasilan Siu Tao. Dari pengalaman yang saya dapatkan selama ini saya mengambil kesimpulan bahwa sesuatu itu mempunyai cara dan waktunya sendiri (every things has its own way), masalahnya manusia sering tidak dapat bersabar menghadapi kenyataan hidup. Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita terhadap sesuatu, namun yang dapat kita lakukan adalah memaksa diri kita untuk berubah menjadi lebih baik. Diperlukan suatu kesabaran dan keuletan untuk menjalani semua ini. Karena jika kita mencoba untuk mengubah sebuah tatanan, namun tidak memperhatikan akibat perubahan dan kondisi yang ada, malah akan menjadi sebuah malapetaka. Yang bisa kita lakukan adalah dengan kesabaran tetap menjadi bagian dari tatanan tersebut, tetap membina diri, berubah perlahan-lahan dan pada akhirnya menunjukkan jati diri kita dan menjadi cerminan sekitar kita.
Pada cerita kedua adalah kejadian nyata di sekitar kita. Memang betul dalam keadaan negara kita saat ini, susah cari makan. Lapangan pekerjaan kurang memadahi, serta berbagai masalah yang lain. Memang demikian susah dan menderita adanya, tetapi apakah dengan melakukan hal-hal yang tidak terpuji masalah yang ada akan selesai? Kalau seandainya kita yang katanya Siu Tao, berbuat seperti itu, apa jadinya?
Membina moralitas dan mentalitas yang baik, salah satunya adalah sanggup menerima segala keadaan dengan lapang dada. Saat ini, mungkin ibarat roda sedang di bawah. Sanggup untuk tetap belajar dan bekerja keras untuk mendapatkan rejeki. Dan bila saatnya tiba untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi, tentu saja sudah siap. Tetapi semua ini tidak mudah, sekali lagi menguji kesabaran dan keuletan kita.
Menjadi seorang manusia sejati yang utuh bukan pekerjaan mudah dan dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, namun demikian sebagai seorang Tao Yu jangan sekalipun oleh karena kenikmatan sesaat lupa daratan dan memalukan diri sendiri. Di manapun kita berada pasti menjadi cerminan bagi orang lain. Isilah setiap detik dengan kegiatan yang bermakna, agar kelak tidak menyesal di kemudian hari. Semoga kita dapat menjadi cerminan yang baik bagi lingkungan sekitar kita.











