Intan Dalam Debu – the web

Teologi Bacang

Posted by kichigai August 19, 2004, under Volume 18 | No Comments





Teologi Bacang

Oleh: Listijani Rahardjo

 

Teologi BacangBacang adalah penganan seperti lontong yang terbuat dari beras atau ketan yang diisi daging bentuknya terdiri dari empat kerucut. Bungkusnya daun bambu, namun keranp kali juga menggunakan daun pisang akibat pengganti daun bambu tersebut.

Sejarah Bacang berasal dari tokoh Qu Yuan (343-289SM). Qu Yuan adalah sastrawan terkemuka dari kerajaan Chu. Bukunya sangat laris dan terkemuka, salah satunya Chun Tzu (ratapan negeri Tzu) dan Li Sao (Menapaki kesedihan). Selain itu itu juga dikenal sebagai menteri yang terpecaya dan setia. Karena popularitas ini, para rekannya menjadi iri dan berusaha menyingkirkannya. Rekannya adalah para penjilat kekuasaan, yang bermanis-manis didepan raja dan berusaha menjatuhkan kerajaan Chu dan lebur dalam kerajaan Chin. Qu Yuan tidak mau ikut dengan konspirasi ini sehingga ia semakin dibenci oleh rekan-rekannya.

Pada suatu kesempatan, para menteri menekan tim dokter untuk menyatakan pantang garam bagi raja yang sedang sakit. Akibatnya raja menjadi semakin sakit. Akibatnya raja hanya bisa terbaring. Mengetahui adanya komplotan ini, Qu Yuan diam-diam membungkus garam dalam daum bambu dengan empat kerucut, lalu mengantung bungkusan itu di langit-langit ranjang raja dengan maksud agar garam itu menetes sedikit demi sedikit diatas mulut raja supaya raja pulih lagi kesehatannya.

Ketika hal itu diketahui, Qu Yuan malah dituduh meracuni raja. Karena tidak mau berurusan dengan pengadilan, lalu ia bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai Mi Lou. Mendengar berita ini rakyat menjadi sedih dan mencari jenazah Qu Yuan. Mereka juga melemparkan nasi yang dibungkus dengan bambu kerucut empat untuk dimakan ikan agar tidak mengigit tubuh Qu Yuan. Mereka juga menabuh genderang di perahu untuk mengusir roh-roh naga jahat yang bisa menggangu roh Qu Yuan.

Peristiwa ini dikenang tiap tahunnya dengan perayaan Peh Chun. Perayaan ini ditandai dengan perlombaan perahu naga (dragon boad) yang diawaki sekitar dua puluh orang pendayung yang duduk berpasangan dan mendayung mengikuti ritme genderang dan tradisi ini juga ditandai dengan makan bacang. Itulah sejarah bacang. Keempat kerucutnya melambangkan empat kata Qu-Yuan-Setia-Percaya. Bacang adalah lambang penghormatan karakter terpercaya dan orang percaya malah tidak dipercaya dan bahwa orang setia malah didakwa. Bacang adalah ungkapan utuhnya percaya dan setia.

Lomba perahu naga dengan timĀ  mencerminkan kerjasama yang baik, tidak sikut menyikut, setia satu sama lain, bisa dipercaya dan mempercayai dan berani menghadapi segala tantangan demi kebenaran, sungguh suatu tim yang benar-benar kompak baru bisa menjadi atlit perahu naga, terapkanlah dalam kehidupan Anda sehari-hari...

Hari ke 5 bulan ke 5 kalender Cina dipercaya berkaitan dengan Kekuatan Gaib yang mempunyai titik Energi Tertinggi pada tengah hari, Air pasang lebih tinggi, telur ayam bisa berdiri tanpa ditopang apapun sebagai pertanda Keseimbangan Energi yang Sempurna, Air mengalir mempunyai daya energi yang bagus untuk kesehatan dan kemakmuran, maka tidak heran pada perayaan bakcang banyak yang merendam diri atau mandi di sumber-sumber air yang mengalir dan meminumnya untuk penyembuhan.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*