Intan Dalam Debu – the web

RUWAT, RUWET, RAWAT

Posted by IDB August 1, 2007, under Volume 25 | No Comments





RUWAT, RUWET, RAWAT

Dari : Siauw Ie Lien – Magelang

 

Sejak era Orde Baru berlalu, kita kaum ‘etnis Tionghoa’ di Indonesia diperbolehkan melaksanakan hal-hal yang (kata orang)(1) menjadi tradisi kita. Sejak itu pula Bio atau Kelenteng mulai terbuka. Berbagai acara sosial, maupun yang berbau ritual mulai digelar terang-terangan, termasuk dalam hal ini adalah Jut Bio, yang belakangan ini semakin marak diadakan di berbagai kota.

RUWAT, RUWET, RAWATRitual Jut Bio sendiri, dimasyarakatkan di Indonesia ini dengan Ruwat Bumi, dalam arti umat kelenteng melaksanakan ritual tolak bala untuk bumi yang ditinggalinya. Sungguh niat yang sangat mulia (kalau memang demikian adanya).

Lantas, apa yang salah? Sesungguhnya ga ada yang salah kok kalau kita sungguh-sungguh berniat dan berpikir dengan baik, berbuat kebaikan untuk mencapai tujuan mulia. Bagi penulis, suatu tujuan mulia yang dicapai dengan cara yang mulia, itulah TAO. Kalau tujuan saja atau cara saja yang mulia, sama saja seperti lambang Dai Chi yang tinggal separuh.

Tapi benarkah dengan melaksanakan Jut Bio yang menelan biaya cukup besar, kita sudah me-Ruwat Bumi?? Apakah cukup dengan menggotong (Kimsin) Kongco atau Makco dalam tandu keliling kota, lantas seluruh kota akan aman, baik dari bencana alam maupun dari penjahat?

Sungguh hal yang sangat diragukan. Bukankan Dewa-Dewi yang mulia jauh lebih hebat dari kita, masa mereka perlu digotong keliling kota biar bisa memberi berkah dan membersihkan semua kekotoran?? Emang kita kuat nih… menggotong Dewa dan Dewi yang mulia? Bukannya kita yang selalu minta digendong oleh mereka saat kita melewati jalan (hidup) yang bergelombang?

Mungkin benar apa yang dikatakan para pujangga bahwa Indonesia sudah memasuki zaman edan, jaman ketika orang melepas nafsu, mendewakan uang, dan “mabuk doa -doa”. Pendek kata, jaman ketika orang sudah tidak peduli dengan hukum alam, meskipun hukum alam itu tetap akan berlaku tanpa harus dipedulikan.

Mari kita renungkan, tapi sebelumnya, penulis tekankan sekali lagi, tujuan Ruwat Bumi itu SUNGGUH BENAR DAN BAIK, dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun, untuk mensukseskan perhelatan tersebut, sungguh RUWET; tidak sedikit biaya, waktu, tenaga, baik yang rela maupun yang terpaksa, yang dikeluarkan. Belum lagi korban perasaan yang terjadi karena adanya beda pendapat (baca: perselisihan, perbedaan status sosial) yang timbul.

RUWAT, RUWET, RAWATPenulis hanya ingin tahu, nih… secara ilmu akuntansi Dewa-Dewi, jelas ya, Ilmu Akuntansi Dewa-Dewi, bukan ilmu akuntansi dari Universitas Harvard sekalipun; mana yang lebih berharga; tenaga, waktu, pikiran, biaya itu digunakan untuk menolong mereka yang terkena musibah (tanah longsor, gempa, lumpur panas, tsunami, dll) atau untuk mensukseskan perhelatan akbar demi nama baik seluruh umat? Kan tujuannya sama-sama baik nih?? Banyak penduduk yang mendapat rejeki, baik hiburan dan makanan gratis, maupun para penjual makanan-minuman yang habis dagangannya. Atau paling tidak dengan suksesnya acara tersebut, seluruh umat Bio, termasuk penulis tentunya akan ikut bangga. Juga ikut bangga kok kalau ketemu orang memuji acara tersebut. Meskipun penulis juga minta maaf kepada para Sesiung, Secie, Seti, dan Semei karena satu dan lain hal, penulis tidak dapat membantu banyak, kecuali membantu mengkritik saja. Kan itu memang pekerjaan paling mudah.

Hal terakhir yang mau ditulis disini, penulis ingin kebebasan yang sudah kita peroleh ini dapat kita RAWAT, jangan sampai “pelaksanaan tradisi” ini justru menjadi bumerang bagi kita karena dengan semakin banyaknya bencana, situasi ekonomi yang tidak sehat, banyak rakyat di bumi yang kita tinggali ini menderita. Jangan sampai kebebasan itu hilang karena dianggap menimbulkan kecemburuan sosial atau malah menjadi beban bagi kita etnis Tionghoa di Indonesia.

Kerap sekali diberitakan, orang tua membunuh anak-anaknya sebelum akhirnya bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban hidup (kemiskinan). Di Yogya ada bapak yang menjual ginjalnya karena butuh biaya untuk pengobatan anaknya. Di Sumatera, seorang korban gempa harus digergaji tangannya (pakai gergaji kayu lagi) agar bisa dikeluarkan dari reruntuhan, malang tetapi tak tertolong nyawanya. Kalau kita mau meruwat bumi yang kita tinggali, mungkin akan lebih baik kalau kita mulai dari dalam diri masing-masing, dari hati nurani. Terus Siu Tao, menghindari keruwetRUWAT, RUWET, RAWATan yang tidak perlu, dan merawat kebebasan yang telah kita miliki.

Catatan :

  1. Perlu penulis sadari bahwa karena berbagai sebab, seperti : orang tua yang tidak pernah mengajarkan, lingkungan dan situasi yang tidak mendukung, dll; apa yang disebut tradisi Tionghoa itu sungguh rancu. Kita ambil contoh untuk perayaan Cap Go Me di Indonesia, Jawa Tengah khususnya, perayaan Cap Go Me identik dengan makan lontong opor. Padahal awalnya dulu, negara Cina tidak mengenal lontong maupun opor. Mungkin saja, orang keturunanTiong Hoa di Amerika merayakan Cap Go Me dengan makan burger?? Kan sama bulet seperti bulan tuh.
  2. Ketika orang terperangkap dalam ritual agama belaka, dalam “doa” luaran yang dilakukan untuk pamer, ia menjadi mabuk. Agama yang seharusnya menjadi berkah malah digunakan untuk merusak diri dan lingkungan, kemudian untuk membenarkan ulahnya.
  3. Perbedaan status sosial mau tidak mau memberikan wadah tersendiri bagi “the have (kaya-red)” dan “the have not (miskin-red)”. Perbedaan wadah, menimbulkan perbedaan tugas pula karena mereka yang tergabung dalam “the have” mendapat tugas yang dianggap waaah….

Cing Ciao Wo Tao… ya…!

RUWAT, RUWET, RAWAT

Klenteng-klenteng adalah pos-pos jalan Dewa - Dewa

harus singkat dan khidmat upacara-upacara

Memohon berdasarkan kemantapan hati anda,

sedikit barang sembahyangannya juga berfaedah

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*