Intan Dalam Debu – the web

Sudah "BIJAKKAH" Kita Terhadap Orang Lain

Posted by IDB August 1, 2007, under Volume 25 | No Comments





Sudah "BIJAKKAH" Kita Terhadap Orang Lain

Dari : Tjoeng Djauw Hui – Magelang

 

Yoi… Taoyu yang terkasih.
Kalau membaca sekilas mata, itu cuma sederet kata-kata yang sangat sederhana, yang timbul dalam benak saya ketika berada dalam perjalanan pulang dari Pantura kembali ke kota Magelang. Akan tetapi jika dicerna lebih dalam, kita biasanya cuma dapat membayangkan, tanpa mau melakukan suatu tindakan.

Terkadang seseorang kurang dapat berfikir jernih, dibalik semua karunia yang diberikan oleh “THIAN” kepada kita yang begitu besarnya…..tetapi pernahkan terpikir barang sejenak “sudahkah kita mensyukurinya”. Hasrat dan ego manusia untuk mementingkan dan memuaskan diri itu selalu timbul dalam diri manusia itu sendiri. Ini sangat “MANUSIAWI”, satu patah kata yang sangat cocok tentang penggambaran akan hal ini. Sehingga manusia kadang “lupa” bahwa kita tidak hidup sendirian di muka bumi ini.

Dalam lingkup skala kecil, contohnya dalam keluarga kita sendiri. Kita biasanya sangat kritis dalam mengutarakan pendapat, berani berdebat dalam bicara, ataupun lebih mudah emosi dalam menyampaikan ego kita ke saudara-saudara, famili dan juga yang terhormat orang tua kita maupun Pho-Pho dan Kung-Kung. Sori deh mungkin lebih gaulnya “semau gue gitu loh” hehehe. Ok lah saya masih berpikir ini semua masih dapat ditoleransi dan masih dalam skala realistis. Tapi ingat, bahwa kita hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan beraneka ragam karakter, janganlah lepas kontrol, menjadikan pendapat kita yang “terbaik”.

Sudah "BIJAKKAH" Kita Terhadap Orang LainSebenarnya didalam kontek yang ada dalam pergaulan sehari-hari masih banyak masukan- masukan dari orang lain yang harus didengarkan, direnungkan, dan diserap menjadi suatu kepribadian yang menarik untuk dipelajari. Terkadang kita sendiri jarang menyadari, dan hanya terpacu pada “EGO” diri untuk tetap memaksakan, selalu ada pembenaran pada pendapat dan perilaku kita.

Timbul satu pertanyaan dalam benak hati??
Sangat “cerdaskah” kita?!? Maka dengan ego yang setiap insan miliki, sering tanpa sadar seseorang melakukan tindakan memonopoli pembicaraan terhadap orang lain. Maaf, tanpa bermaksud mencela… tetapi itu hakekatnya sudah Sudah "BIJAKKAH" Kita Terhadap Orang Lainmerampas hak orang lain, yang sebenarnya ingin memberikan masukan dan pendapat buat semuanya, tetapi tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginannya. Selalu keinginan diri sendiri yang sering kita argumentasikan kepada orang lain agar dapat menerima dengan “keterpaksaan” pola pikir kita.
…demi kepuasan batin semata, yang sebenarnya jika dikaji lebih dalam ataupun kita pikir lebih bijak belum tentu orang lain meskipun menerima, mendengarkan pendapat kita, akan dengan tulus dan ikhlas menerimanya??

Sangat disayangkan bukan!!!
Coba sesaat kita renungkan???

Maaf ya… ini bukan menghakimi, sorry deh…
Yup… coba pikirkan barang beberapa waktu, mengingat-ingat apa yang telah kita perbuat terhadap orang lain?!? Sudah benarkah perbuatan kita? Bukankah kadang kita terjebak pada keinginan diri sendiri?? Sorry, saya sebagai penulis juga merasa prihatin, dan menyesal… andai saja saya mengenal Tao dari dulu dulu, kenapa waktu yang sangat berharga dulu, tidak saya gunakan untuk mulai bisa menjalankan kaidah Taoyang lebih tinggi,‘ADA KAMU BARU ADA AKU’??? . Mengikis selapis demi lapis ‘EGO’ kita? Tapi dalam hati yang terdalam, prinsipnya tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Inilah awal dari seseorang menemukan jalan “TAO”nya.

Semoga menjadikan setiap insan sadar dan lebih mengerti bahwa, seharusnya kita harus BISA MENJADIKAN DIRI kita sendiri sebagai yang TERBAIK DI MATA hati ‘SHEN’, bukan ‘BEREBUT menjadi yang terbaik di mata manusia’.

Oke lah Taoyu yang budiman…
Semoga sekelumit tulisan ini menggugah hati dan perasaan semua saudara-saudara kita, untuk lebih bisa bertindak bijak, lebih bisa mengerti dan menerima dan mendahulukan orang lain, serta tidak hanya mengandalkan dan mengedepankan ego kita.

Diakhir kata...
Jangan tunggu dan menunggu, mulai sekarang berlombalah menanam benih-benih langkah yang baik dalam kita men - SIU (REVISI) DIRI kita. Yang terpenting langkah tersebut harus dijalankan dengan ketulusan hati tanpa “MEMAKSA” ataupun “TERPAKSA”.

Jangan hidup di negeri khayalan, negeri dongeng 1001, jikalau nanti tersadar dan kembali di alam nyata, kita baru sedih dan menyesal… ‘Aduh, kenapa “TUTUR KATA” kita telah menyakiti hati orang lain tanpa kita “sadari”.

Salam Tao.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*