Intan Dalam Debu – the web

Surat Pembaca

Posted by IDB August 1, 2007, under Volume 25 | No Comments





Surat Pembaca

Dari : Redaksi Intan Dalam Debu

 

Surat PembacaSaya ingin berterima kasih karena dengan dimuatnya surat saya pada kolom pembaca IDB No. 23, saya berhasil mendapatkan IDB yang komplit dari seorang Taoyu Temanggung (Sdr. Adi Mulyawan Srikuning yang berkedudukan di Semarang).
Karena di daerah saya (Pleiwari) tidak ada Tao Kwan, dan rekan-rekan Taoyu pun hanya beberapa orang, sehingga majalah IDB ini sangat membantu sekali bagi saya, dan saya mengakui adanya kemajuan dalam latihan saya sehari-hari.

DA JIA XUE DAO HAO

Salam Tao,
Arifin Yahya
Di Pleiwari - Kal Sel

DA JIA XUE DAO HAO
Kami sangat gembira karena kolom ini ternyata selain menjadi wadah untuk memperbaiki IDB kita, melalui kritik dan saran dari para pembaca semua, ternyata juga dapat membantu Taoyu kita.
Kami sangat menghargai apa yang telah dilakukan oleh Se Siung Adi, dan turut senang karena apa yang dilakukan dapat membantu kemajuan Siutao dari teman-teman Taoyu di Pleiwari.

Salam Tao,
Redaksi

Setelah membaca 3 edisi IDD, edisi 22, 23 & 24, baru sekarang saya memberanikan diri untuk mengirimkan artikel saya. Sebagai seorang Taoyu yang baru saja di Taoying, saya merasa sangat bersyukur dan bangga karena IDD adalah salah satu wadah dapat mempererat Taoyu-Taoyu. Saya sendiri langsung jatuh hati, saat pertama menemukan dan membaca IDD.
Sehingga timbul suatu keberanian dan keinginan saya untuk turut serta bersumbangsih mengisi artikel IDD. Sekiranya nanti tulisan ini belum berkenan dan tidak termuat dalam IDD edisi mendatang, saya tetap berbangga hati dapat berpartisipasi memberikan sedikit coretan pena, dalam bentuk wawasan tertulis. Semoga petunjuk dan bimbingan Sesiung & Secie selalu memberikan angin segar bagi kita untuk ikut lebih aktif dan berpartisipasi dalam IDD.
Sebagai pemula yang masih awam tentang TAO, harapan saya semoga dengan berjalannya waktu, saya dapat mengerti, memahami, semakin bijak dan arif dalam mendalami TAO. Yang terpenting tentunya dengan tulus hati menerima TAO sebagai satu-satunya pegangan hidup. Hingga akhirnya dapat mencapai apa yang disebut rasa kebahagiaan yang sesungguhnya.

Salam Tao
Tjoeng Djauw Hui
Di Magelang

Da Jia Xue Dao Hao
Sebelumnya kami sangat menyambut baik keinginan Se Siung untuk turut berpartisipasi dengan mengirimkan artikel dan surat pembaca ini. Semoga isi dari majalah IDD ini dapat menginspirasi anda dan pembaca lainnya dalam meningkatkan kualitas hidup dan kualitas Siu Tao kita.Dan tentunya juga dapat menyemangati Tao Yu-Tao Yu lainnya untuk berbagi pengalaman dan pengertian yang dituangkan dalam bentuk artikel. Cia You !!!!!

Salam Tao,
Redaksi

Saya adalah orang awam yang biasa bersembahyang di klenteng. Suatu kali saya mendapat satu majalah ‘Intan Dalam Debu’ edisi ke 21 yang kebetulan di taruh di meja klenteng. Saya sangat tertarik akan isinya dan saya ambil satu.
Dalam kesempatan ini saya ingin bertanya mengenai sembahyangan :
1. Apa ada bedanya menggunakan hio satu dengan hio banyak-banyak? Bagaimana Hio besar?
2. Apakah perlu membakar lilin-lilin besar?
Mungkin ada yang bisa memberi penjelasan pada saya, karena selama ini saya selalu bertanya-tanya dalam hati. Apakah Dewa yang kita sembah melihat banyak atau besarnya hio atau besarnya lilin?
Terima kasih dan sebelumnya saya minta maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung?

Hormat saya,
Sin Sin
Jakarta

Da Jia Hao,
Saudara S in Sin yang terhormat, terima kasih atas perhatiannya terhadap majalah ini dan juga atas pertanyaannya yang sangat bagus.
Memang banyak di antara umat klenteng yang tidak tahu makna Hio & Lilin, karena memang sangat sedikit sekali orang yang bisa memberikan keterangan tentang sembahyang, sehingga banyak umat yang hanya sembahyang tapi tidak mengerti.
Sebenarnya penggunaan Hio sudah rancu antara keagamaan dan tradisi. Ada beberapa versi penggunaan Hio, terserah pada umat mau memakai cara yang mana. Umat Khong Hu Cu misalnya menggunakan 3 Hio sebagai lambang Thian, Ti & Ren. Sedangkan Umat Tao hanya menggunakan 1 batang Hio karena hio hanya sebagai lambang kita mengetuk pintu demensi keDewaan. Juga karena Umat Tao mempunyai prinsip hemat tidak menghambur-hamburkan.
Begitu pula lilin memang banyak digunakan sebagai lambang penerangan, Umat Tao biasanya hanya menggunakan sepasang lilin bila Sembahyang di rumah, sedangkan pada saat sembahyang di Klenteng kalau sudah banyak lilin yang menyala sebagai penerangan tidak perlu lagi. Banyak Umat yang menggunakan sepasang lilin saat sembahyang dan pada saat Sin Cia beramai-ramai menggunakan Lilin yang besar- besar dengan maksud berbuat amal atau menyiasati Ciong.
Kwalitas sembahyang seseorang bukan dipengaruhi oleh penggunaan banyak & besarnya Lilin dan Hio, melainkan dari ketulusan hati orang tersebut. Dewa-Dewi kita sangatlah pengasih dan pengertian, bila ada rejeki lebih hendak memakai Hio atau Lilin besar agar klenteng kelihatan semarak juga tidak apa, bila sedang paceklik, tidak pakai hio atau lilinpun doa tetap didengar. Jadi tidak perlu ragu dan takut kalah besar atau kalah banyak Hio atau Lilin yang digunakan. Tidak ada yang lebih berharga dari pada hati yang tulus dan bersih. Bila memang mempunyai Hokgie yang lebih, apakah tidak lebih baik digunakan untuk berbuat amal , menolong orang lain, pasti lebih bermanfaat.
Salam Tao

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*