Intan Dalam Debu – the web

Universitas Siao Yao Phay

Posted by IDB August 1, 2007, under Volume 25 | No Comments





Universitas Siao Yao Phay

Dari : Afu - Jakarta

 

Seorang ayah ditelepon oleh pihak yang berwajib dan diminta untuk datang ke kantor polisi dengan segera. Sesampainya di kantor polisi, sang ayah mendapati anaknya sedang dimintai keterangan sehubungan dengan kasus tabrak lari yang baru saja terjadi pagi itu.

Universitas Siao Yao PhayMelihat ayahnya datang, si anak dengan besar hati berkata : “Benar lho pa, bukan saya kok yang melakukan tindak tabrak lari ini, justru hati saya merasa tergerak untuk menolong setelah melihat ibu ini jatuh terkapar di jalan karena ulah tabrak lari tersebut, tetapi akhirnya malah saya yang menjadi pihak tersangka pelaku tindak kejahatan tersebut. Bukankah di sekolah para guru selalu mengajarkan tentang budi pekerti dan sikap saling tolong-menolong?”

Sang ayahpun menjawab : ‘Begitulah nak, kalau di sekolah hanya diajarkan 1 +1 = 2 dan selamanya selalu begitu, tetapi pada kenyataannya dalam kehidupan kita di masyarakat, 1 + 1 bisa saja sama dengan 1 atau bahkan 3.”

Si anak bertanya lagi : “Papa, adakah universitas di dunia ini yang subject / mata kuliahnya khusus membahas tentang masalah-masalah yang langsung kita temui di masyarakat dalam kehidupan ini?” Sang ayahpun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Bila kita mau mengkaji lebih jauh tentang kasus di atas, memang kadang-kadang kita, baik secara sadar maupun tidak, lebih sering terpaku pada segudang teori / ilmu yang kita pelajari di sekolah. Di universitas-universitas terkemuka dimanapun kita belajar, kita melulu hanya disuruh menghafal rumus dan teori serta mempraktekkan rumusan- rumusan kaku yang terkadang lebih sering salahnya jika diterapkan dalam kehidupan kita di masyarakat luas.

Pernahkan dosen kita membahas tentang : Bagaimana caranya agar kita tidak sampai ditipu orang dalam kehidupan ini? Bagaimana caranya agar kita bisa tahu apakah si X itu seorang teman sejati atau hanya berpura-pura ingin menolong karena suatu pamrih (imbalan tertentu)? Adakah mata kuliah yang khusus membahas tentang : Mau kemana kita setelah kehidupan ini berakhir?

Menurut pendapat saya pribadi, jika ada satu-satunya universitas yang mau mengajarkan, plus me-revisi para student -nya (murid-red) tentang masalah-masalah yang pasti kita temui dalam kehidupan ini, maka tak lain dan tak bukan adalah Universitas Siao Yao Phay kita sendiri. Sejak pertama kita di-Taoying, dalam menjalani proses Siutao dari hari ke hari, kita selalu ditemani oleh Fu Fak Shen sebagai “dosen pribadi” yang selalu siap membimbing kita kapan saja dan dimana saja.

Jika di UNSW atau di CAMBRIDGE university kita harus menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu US$ untuk bisa meraih gelar sarjana, maka di Universitas Siao Yao Phay kita ini para student-nya tidak pernah diminta untuk membayar uang semester satu sen pun, tetapi toh bagi yang dinyatakan lulus ujian tetap berhak mendapatkan “gelar ke-sarjana-an” mereka yaitu :

  • Huang Ie tingkat 1 bisa kita anggap setara dengan S-1
  • Huang Ie tingkat 2 bisa kita anggap setara dengan S-2
  • Huang Ie tingkat 3 bisa kita anggap setara dengan S-3 (Doctor/Ph.D)

Universitas Siao Yao PhayJam kuliahnya pun sangat fleksibel (tidak harus hadir di kelas) yaitu cukup Lienkung 2x sehari @ 30 menit di pagi hari dan malam hari sebelum tidur. Begitu sederhananya proses kuliah di Universitas Siao Yao Phay kita, tetapi tetap saja banyak sekali diantara kita yang Siutaonya masih malas-malasan (bicara sih gampang, tapi prakteknya kok rasanya susah banget!).

Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing karena pada prinsipnya didalam belajar ilmu apapun, Guru atau buku hanyalah sebagai pembimbing, sedangkan ilmu sejati akan menjadi milik kita sepenuhnya, tergantung dari kemauan, keuletan dan ketekunan kita sendiri dalam menjalankan dan mengamalkan-nya, tidak lupa “WU” kita masing-masing juga sangat berperan tentunya.

Salam Tao

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*