Intan Dalam Debu – the web

Cuen Se Cung Tao

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | 2 Comments





Cuen Se Cung Tao

(Fei Shen)

 

Cuen Se Cung TaoHormat pada guru / pemimpinnya, setia / menjunjung Tao-nya. Kalimat ini bukan hanya slogan semata, mestinya harus tertanam atau ditanamkan dalam hati sanubari setiap taoyu. Kalau sudah demikian, mestinya wujud nyata penerapannya ditunggu masyarakat dan lingkungan sekitar.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa kita harus menerapkan / memahami CUEN SE CUNG TAO tersebut ?


Cuen Se Cung TaoSalah satu tujuan Siu Tao kita adalah menggembleng diri, menuju nilai diri sempurna, hakiki dalam koridor Tao, maka Cuen Se Cung Tao harus bisa kita gapai dan kita terapkan untuk maksud di atas. Sering kita dengar pembicaraan-pembicaraan formal saat ciang tao, maupun informal saat bergurau.

Mari kita telaah satu persatu.
Apa itu Cuen Se ?
Cuen Se itu ‘Hormat pada Guru / atasan / pimpinan'. Sederhana bukan ? Ya, tapi bagaimana kita menjalankannya. Satu contoh, bila kita sebagai bawahan dalam organisasi, kerja, anggota keluarga. Bisakah kita tetap menjunjung tinggi cuen se tersebut? Sederhananya misalkan ketua organisasi memutuskan A, bisakah kita sebagai anggota mendukung & melaksanakan keputusan ‘A' tersebut?

Banyak diantara kita masih sulit melaksanakannya. Sering dari kita merasa pandai/ lebih pandai dari ketua terpilih, sehingga meremehkan keputusan yang telah diambil oleh ketuanya dan bahkan lebih berani lagi dengan dalih demokrasi, keputusan ketua dianggap tidak sah. Begitukah? Ini dia, pandai tapi tidak ada nilainya. Orang Jawa sering mengatakan ‘Pinter tapi keblinger' Bahasa gaulnya ‘Kebablasan Bok!'.
Apa yang harus disikapi ?

  • Sebelum keputusan itu keluar/ dibuat, debat, diskusi, sounding-sounding, lobbying-lobbying perlu dan sah-sah saja dilakukan agar kita tidak ketinggalan atau telat mikir, bila kita sebagai anggota atau bawahan. Jangan lantaran salah kita sendiri, beberapa kali pertemuan-pertemuan terdahulu tidak ikut, masuk pada pertemuan-pertemuan lanjutan, merasa diri jagoan, salah menempatkan diri, menjadikan anggota lainnya jadi bingung. Sebagai buahnya, rasa antipati-lah yang kita peroleh, lantaran ulah kita seperti di atas tadi.
  • Tahu menempatkan diri di manapun kita berada, itulah salah satu modal sukses kita bermasyarakat , berbisnis dan juga siutao.
  • Bagaimana mungkin akan berhasil siutao ( merevisi diri ) kita bila hubungan horisontal saja terganjal dengan duri-duri yang kita ciptakan / bawa / letakkan di depan kita sendiri. Padahal masyarakat ini sudah begitu kompleks, seperti hutan belantara, pasti duri-duri pun banyak di sana. Kalau kita juga bagian dari masyarakat, seharusnya bukan turut andil menebarkan duri-duri baru , tetapi justru harus berusaha mengikis duri-duri yang ada. Minimal diri sendiri tidak berduri.

Dilanjut dengan CUNG TAO = Memikul / membela / menjunjung tinggi Taonya.
Kalau horizontal saja sulit, bagaimana bisa ke arah vertikal ? Rasanya kok hanya slogan belaka. Kalau bermasyarakat, berteman saja masih bermasalah, bagaimana kita bisa menghadap yang Empunya - Sembahyang menghadap Thian / Tuhan / Taonya?

Untuk itu Cung Tao yang terbaik dimulai dari ‘SILENT IS GOLDEN' (Diam itu emas ). Diam, sambil terus belajar dan belajar. Berubah dan berubah menuju Tao diri yang hakiki. TAO yang maha esa. Niscaya tanpa disadari ‘Ketebalan Spiritual Tao' kita akan tumbuh dengan alamiah. Itulah ‘JING CING WU WEI' (= Kealamiahan Hakiki / Kealamiahan yang Maha Esa) Salam Tao (Fei Shen)

Share

Currently have 2 Comments

  1. Selamat atas penggunaan nama domain sendiri http://www.intandalamdebu.com
    Semoga dengan penggunaan nama sendiri, Intan Dalam Debu Online bisa semakin maju dan berkembang...

Leave a Reply








*