Intan Dalam Debu – the web

Kalau Semua Tidak Mau Jadi Pemimpin

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | No Comments





Kalau Semua Tidak Mau Jadi Pemimpin

(Daoren, Jakarta)

 

Kalau Semua Tidak Mau Jadi PemimpinAda satu artikel menarik yang pernah saya baca, yaitu tentang seseorang yang menolak kalau ia ditunjuk menjadi pemimpin. Dalam hati, saya berpikir kenapa orang ini tidak mau menjadi pemimpin kalau ditunjuk? Kenapa ia beranggapan kalau menjadi pemimpin haruslah seseorang yang perfect - yang sempurna? Padahal kita tahu, kalau tidak ada seorangpun di dunia ini yang sempurna. Juga jika semua orang menolak menjadi pemimpin, akan jadi apa dunia ini? Pastinya akan sangat kacau balau, karena semua orang pasti berhak melakukan semua kehendak mereka tanpa ada yang mengaturnya.

Kalau Semua Tidak Mau Jadi PemimpinSebelumnya saya ingin coba menguraikan pendapat saya dari si penulis tentang prinsip ekonomi yang dianggapnya menyesatkan terlebih dahulu, yaitu "Membeli dengan semurah-murahnya dan menjual dengan setinggi-tingginya". Menurut saya, prinsip ekonomi itu tidaklah menyesatkan, dan itu 100% benar adanya. Yang namanya hidup, memang harus begitu. Kita harus bisa mendapatkan suatu nilai lebih dalam hidup kita. Kalau dalam hidup kita ini, kita tidak mendapatkan nilai lebih, maka hidup kita ini pastilah sia-sia belaka. Nilai lebih ini, kalau dalam istilah ekonomi disebut dengan profit (keuntungan).

Jadi kalau kita bisa mendapatkan barang yang murah dan menjualnya lebih tinggi dari modal kita itu namanya kita mencari profit. Itu adalah nilai lebih yang kita dapat. Nilai lebih itu untuk apa? Untuk menghidupi keluarga kita misalnya, lalu apakah kemudian itu bisa dianggap menyesatkan?

Selain itu juga, kalau kita membeli harga murah lalu menjual dengan harga itu juga (non profit), itu namanya bukan berdagang. Itu namanya kerja sosial. Jika semua orang yang berbisnis atau berdagang melakukan kerja sosial seperti itu, apakah itu bisa dibilang tidak menyesatkan?

Sebagai ilustrasi, misalkan saja si Andi membeli sebuah komputer seharga Rp. 3,000,000.- Kemudian setelah menambahkan biaya ini dan biaya itu ke dalam komputer itu, akhirnya total si Andi harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 3,200,000.- untuk membeli komputer itu. Kemudian si Andi berpikir untuk menjual komputer itu ke temannya, Budi sebesar Rp. 7,000,000.- Lalu pertanyaannya adalah, apakah si Andi melakukan hal salah menjual komputer itu kepada Budi? Kalau saya menjawabnya 'TIDAK !!!'. Kenapa? Karena itu adalah kepintaran Andi untuk dapat menjual komputer itu dengan harga setinggi mungkin? Tapi di sisi lain, Andi juga mengambil resiko untuk dirinya sendiri, jika saja Budi tahu harga komputer itu tidak setinggi itu, maka ia tidak akan membelinya dari Andi, atau bahkan ia bisa menceritakan ke orang lain, kalau mau beli komputer, jangan ke Andi, beli saja ke orang lain, karena lebih murah.

Kembali ke soal pemimpin tadi. Pemimpin itu banyak macamnya. Menjadi mandor, juga disebut pemimpin, kepala bagian juga pemimpin, supervisor, manager, direktur, itu juga disebut dengan pemimpin, hanya saja namanya saja yang berbeda-beda. Tergantung tempat dan situasi. Yang memimpin sebuah departemen, disebut manajer. Yang memimpin sebuah negara itu namanya Presiden. Bahkan dalam sebuah pertandingan olahraga, sepakbola misalnya, dalam Liga Italia saat ini Juventus bisa disebut pemimpin, karena Juventus sedang memimpin klasemen sementara ini menggunguli saingan terdekatnya AC Milan. Kenapa Juventus bisa disebut pemimpin, karena ia sedang memimpin, kalau ia tidak memimpin, maka tidak disebut pemimpin, benar bukan?

Untuk menjadi pemimpin juga tidaklah mudah. Kalau saya belajar waktu di SMA dulu, kalau tidak salah untuk bisa menjadi pemimpin, seseoarang haruslah memiliki salah satu dari 4K, yaitu : Kekuatan, Kekayaan, Kepintaran dan Koneksi.

Seseorang bisa dipilih jadi pemimpin, karena ia adalah yang terkuat di antara lainnya, sehingga dia dianggap mampu untuk melindungi yang lainnya dari segala marabahaya. Seseorang bisa dipilih jadi pemimpin, karena ia mempunyai kekayaan yang banyak, sehingga ia dianggap mampu dan mau mengeluarkan uang banyak untuk organisasi kalau dia dipilih. Seseorang bisa dipilih menjadi pemimpin, misalnya dalam kelompok diskusi waktu sekolah dulu, karena ia yang paling pintar, maka ia dipilih jadi pemimpin kelompok, jadi kalau di suruh maju untuk presentasi kelompok, ya pemimpinnya yang maju, kalau ditanya oleh kelompok lain punya pemimpinnya juga yang menjawab.

Seseorang bisa diangkat menjadi pemimpin, karena ia punya hubungan koneksi dengan banyak pejabat. Jadi kalau diangkat, pastilah segala urusan akan mudah dilaksanakan, karena si pemimpin tinggal menghubungi koneksi yang dikenalnya untuk menyelesaikan urusan itu.

Nah, dari 4 hal di atas, sudah jelas kalau untuk menjadi pemimpin, tidak cukup hanya mengandalkan wajah saja. Wajah ganteng tapi otak kosong, kalau dipilih jadi pemimpin ya juga tidak cocok. Untuk menjadi pemimpin, ya harus punya keunggulan. Tapi apakah seseorang pasti bisa punya 4 hal itu? Tidak mungkin menurut saya, karena paling banyak seseorang hanya bisa paling banyak 3 dari 4 hal yang ada. Misalnya seseorang yang punya kekayaan, pastilah ia punya banyak koneksi, kalau tidak punya koneksi, tidak mungkin ia bisa menjalankan usahanya dengan baik, atau dengan lancar. Lalu untuk bisa mendapatkan koneksi, ia haruslah punya kepintaran, kepintaran untuk bernegosiasi sehingga "ide"nya dapat diterima dengan baik oleh sang konektor. Lalu apakah ia pasti punya kekuatan? Tidak, ia malah butuh mencari orang yang punya kekuatan untuk melindungi dirinya. Ia malah berharap kepada orang yang mempunyai kekuatan untuk menjaga keselamatannya. Jadi semuanya saling membutuhkan.

Jadi kalau kita disuruh untuk memilih seorang pemimpin, maka kita pilihlah yang terbaik dari yang ada, walaupun di mata kita semuanya itu tidak ada yang baik, tapi sekali lagi tidak ada orang yang sempurna, maka memilih yang terbaik dari yang terburuk adalah langkah yang bijak daripada kita tidak memilih. Tidak memilih, artinya kita tidak punya komitmen untuk berbakti kepada organisasi, apalagi dalam Tao, bagaimana kita bisa bilang mau berbakti kepada Tao, disuruh memilih saja susah. Memilih juga harus objektif, tidak boleh subjektif. Jangan karena kita tidak senang dengan orang tertentu, lalu kita mengabaikan semua kemampuannya untuk menjadi pemimpin. Itu juga salah.

Sebaliknya, kalau yang terpilih, sebaiknya ya menerima tugas itu dengan baik, bukan malah menolaknya. Itu karena kita sudah dianggap yang terbaik dan dipercaya dibandingkan dari semua calon yang ada. Dan bagi yang tidak terpilih, yah sebaiknya legowo toh. Menerima dan bahkan kita harus mendukung langkah yang diambil oleh pemimpin yang terpilih. Bukannya malah mendirikan kelompok sendiri dan menamakan kelompok dengan nama yang aneh-aneh serta tidak mau ikut ambil pusing terhadap segala kegiatan yang dilakukan oleh pemimpin terpilih. Atau juga dengan menyebarkan isu-isu negatif tentang pemimpin yang terpilih. Kalau begini terus, organisasi tidak akan pernah maju, malah bisa bubar nantinya. Tidak ada pemimpin memang susah, tapi terlalu banyak pemimpin juga bikin pusing, jadi sebaiknya cukup hanya ada satu pemimpin saja. Salam Hangat Tao (Daoren, Jakarta)

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*