Intan Dalam Debu – the web

Kebiasaan Manusia

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | 1 Comment





Kebiasaan Manusia

(Bernard, Jakarta)

 

Kita sebagai manusia bisa dikatakan senantiasa dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan yang kita miliki (creatures of habits). Mulai dari corak menggosok gigi, berpakaian, mengikat tali sepatu, mengunyah makanan, berpangku tangan, berjalan, sampai pola / cara berpikir, berbicara dan berperilakunya pun dikendalikan oleh kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki.

Yang perlu kita perhatikan dan sadari (Wu) adalah apakah kebiasaan-kebiasaan yang kita miliki itu membawa dampak yang positif dan baik bagi kita saat ini atau tidak? Apakah keadaan dan kondisi kita di beberapa bidang kehidupan seperti Siu Tao, sekolah, karir, bisnis, rumah tangga, hubungan keluarga, persahabatan, kondisi emosi, kesehatan, dan sebagainya sudah baik ataukah belum pada saat ini? Bila belum baik, sangatlah mungkin kebiasaan-kebiasaan kita yang kurang baik dan negatif-lah yang menjadi penyebabnya.

Kebiasaan-kebiasaan kita yang kurang baik dan negative di masa lalu berpotensi besar menjadi penyebab tidak terlalu baiknya kondisi kita saat ini. Dan bila kita masih mempunyai banyak kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik dan negatif pada saat ini, maka kemungkinan besar keadaan dan kondisi kita di masa depan pun akan menjadi tidak terlalu baik dan malah sangat memungkinkan menjadi semakin parah dikarenakan kondisi yang tidak baik telah berlangsung secara terus-menerus. Sama seperti orang yang kecanduan minum minuman keras. Saat ini mungkin tidak begitu terasa dampaknya.

Tapi dalam jangka panjang biasanya akan muncul dampak-dampak negatif dari minum minuman keras yang terus-menerus, seperti rumah tangga yang berantakan, keadaan ekonomi yang tersendat, kesehatan yang memburuk, anak cucu yang mencontoh, kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya. Jadi bisa dikatakan kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang (kita = kebiasaan kita) dan pada akhirnya kita akan menjadi (memiliki karakter dan perilaku) seperti apa yang kita lakukan secara berulang-ulang tersebut.

Misalkan kita mempunyai kebiasaan suka mabuk, maka pada suatu saat kita akan menjadi pemabuk bila kebiasaan mabuk berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Demikian juga dengan kebiasaan bermalas-malasan, marah-marah, menipu, mencuri, dendam, dan sebagainya. Dengan MENGERTI dan MENYADARI (WU) apa dampak dari sebuah kebiasaan buruk dalam jangka pendek maupun panjang, kita akan dapat tergerak untuk merubah dan memperbaiki kebiasaan buruk tersebut.

Merubah kebiasaan sering sangat sulit dilakukan karena kita sudah sangat terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan yang sekarang kita miliki. Bisa dikatakan kita mempunyai kecenderungan untuk merasa nyaman dan senang bila kita selalu berada di zona nyaman (comfort zone) kita. Zona nyaman ini dapat dianalogikan seperti air conditioner (AC) yang memiliki thermostat yang akan secara otomatis mengaktifkan / mematikan AC bila terjadi perubahan temperature di luar yang telah ditetapkan.

Demikian juga dengan zona nyaman kita. Bila kita melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan kita (baik atau buruk), biasanya kita akan merasa tidak nyaman pada mulanya. Oleh karenanya banyak sekali orang yang tidak mau berubah dan tetap terus berada di zona nyamannya meskipun konsekuensi yang akan ditanggungnya pun akan tidak baik pada saat ini ataupun dikemudian hari.

Untuk merubah kebiasaan, kita perlu memiliki sikap yang proaktif dengan mengambil inisiatif sendiri. Kita tidak bisa hanya menunggu dunia atau orang lain di sekitar kita yang berubah. Bahkan jangan sampai kita dipaksa oleh dunia / keadaan di luar (external) untuk berubah yang biasanya bisa dalam wujud sakit parah / kronis, pertentangan yang makin ruwet dan parah, tidak lulus sekolah / kuliah, karir atau bisnis yang mandek, perceraian, permusuhan, kecanduan, dan sebagainya. Akan lebih baik bila kita dapat merubah kebiasaan karena didorong oleh KEMAUAN dan KESADARAN (WU) diri kita sendiri.

Untuk merubah keadaan saat ini dan juga masa depan, kita perlu introspeksi diri dan menyadari (Wu) apa sajakah kebiasaan-kebiasaan negatif dan kurang baik yang masih kita miliki, diikuti dengan mengambil satu langkah kecil positif tapi berkesinambungan. Satu langkah kecil positif yang dilakukan secara terus-menerus akan jauh lebih efektif dalam membentuk kebiasaan baru dibandingkan dengan satu langkah besar (giant leap) tapi hanya sesaat saja. Terbentuk atau tidaknya kebiasaan baru akan tergantung pada kedisiplinan, ketekunan dan keteguhan komitmen kita. Dengan berdisiplin, tekun dan komitmen untuk membentuk pemikiran (pola pikir) dan tindakan (prilaku) yang baru dan baik secara berkesinambungan, maka pada akhirnya kita akan dapat membentuk sebuah kebiasaan baru yang baik nantinya. Hanya dengan merubah dan memperbaiki kebiasaan-kebiasaan negatif dan kurang baik inilah kita akan dapat memperbaiki (turn around) keadaan kita saat ini dan juga di masa depan. Dengan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda barulah kita akan dapat memperoleh hasil yang berbeda pula.

Membentuk kebiasaan baru yang positif sama seperti menggelindingkan sebuah roda. Pada awalnya tentu lebih sulit untuk menggelindingkan roda tersebut. Tapi setelah roda sudah mulai bergulir, akan jauh lebih mudah karena roda sudah mendapatkan momentum untuk terus bergulir. Kita hanya perlu mengarahkan dan sambil sesekali memberikan dorongan tambahan bila roda sudah mulai melambat bergulirnya. Demikian juga dengan kebiasaan baru yang ingin dibentuk. Diperlukan kemauan (tekad) dan kesadaran yang kuat (Wu) diikuti oleh langkah-langkah kecil yang konsisten dan berkesinambungan. Agar dapat terus maju dibidang apapun, kita perlu terus berkembang (expand) dan bertumbuh (grow) dengan selalu melakukan introspeksi dan memperbaiki kebiasaan-kebiasaan kita. Semakin banyak kebiasaan yang baik, positif, dan produktif yang kita miliki, maka kita akan senantiasa melakukan tindakan yang baik dan positif pula. Dan kumpulan (akumulasi) dari tindakan-tindakan yang baik dan positif ini dalam jangka pendek dan panjang tentu akan dapat memperbaiki peta nasib (destiny) kita.

Ketika kita melakukan sebuah tindakan (perilaku) secara terus-menerus, kita akan membentuk sebuah kebiasaan. Ketika kita melakukan sebuah kebiasaan secara terus-menerus, maka kita akan membentuk sebuah karakter nantinya. Ketika kita sudah memiliki karakter tertentu, pada akhirnya karakter yang kita miliki akan menentukan jalan hidup (nasib) kita nantinya. Jadi kita perlu menyadari bahwa kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang (kita = kebiasaan kita) dan pada akhirnya kita akan menjadi (berkarakter dan berprilaku) seperti apa yang senantiasa kita lakukan secara berulang-ulang (kebiasaan) kita. Salam Tao (Bernard, Jakarta)

Share

Currently have 1 Comment

  1. menurut saya sudah sangat bagus.

Leave a Reply








*