Intan Dalam Debu – the web

Sai Weng Shi Ma (Bersukacita dan Berdukacita Apa Adanya)

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | No Comments





Sai Weng Shi Ma (Bersukacita dan Berdukacita Apa Adanya)

ditulis oleh Lei Wei Ye

 

Sai Weng Shi Ma (Bersukacita dan Berdukacita Apa Adanya)Ada seorang lelaki tua yang hidup bersama anak laki-lakinya dan seekor kuda jantan. Lelaki tua itu bernama Zhou. Suatu hari anaknya pergi menunggang kuda, seperti yang biasa dilakukannya. Namun, kali ini ketika anaknya beristirahat sebentar, kuda itu hilang. Pulanglah anaknya ke rumah dengan raut muka muram karena sedih kehilangan kuda kesayangannya. Kuda itu sudah seperti sahabatnya karena setiap hari mereka pergi bersama.

Orang-orang di desa itu ingin menghibur kakek Zhou. "Tuan Zhou. kami ikut bersedih karena Anda kehilangan kuda kesayangan dan satu-satunya harta berharga kalian." Demikian ungkapan dari tetangga -tetangga mereka. Kakek Zhou pun menjawab, "Saya belum tahu sekarang apakah kehilangan kuda merupakan suatu kerugian besar atau malah sebaliknya. Saya berterima kasih atas simpati kalian, tetapi saya tidak bisa memutuskan apakah ini peristiwa yang mendatangkan dukacita bagi kami atau malah sebaliknya."

Jawaban kakek Zhou terdengar aneh bagi sebagian besar warga desa. Namun,mereka menyimpan perkataan itu dalam hati sambil menunggu apa sebenarnya maksud kakek Zhou mengucapkan perkataan seperti itu. Bebebapa bulan kemudian, terdengar suara gemuruh segerombolan kuda melintasi jalan utama di desa itu, ternyata kuda yang hilang itu kembali dan membawa kuda-kuda lain yang bagus-bagus.

Kejadian ini tentu saja menyebabkan warga desa segera memperbincangkan jawaban kakek Zhou beberapa waktu lalu. Mereka pun berpendapat bahwa kakek Zhou sungguh bijaksana. Mereka lalu berbondong bondong ingin mengucapkan selamat atas kembalinya kuda yang hilang itu, juga atas kuda-kuda yang baru, dan atas jawaban Kakek Zhou yang dulu mengatakan bahwa kuda yang hilang belum tentu merupakan kesialan - terbukti benar adanya.

Kakek Zhou pun tersenyum atas ketulusan hati mereka. Ia tersenyum karena warga desanya rukun dan punya empati. "Wah Kakek Zhou sungguh benar dan juga beruntung!" demikian salah seorang mengucapkan selamat kepada kakek Zhou.

Kakek Zhou pun menjawab, "Saya tidak tahu sekarang, apakah kuda kembali serta membawa kuda-kuda lain ke rumah kami merupakan suatu keuntungan dan sukacita atau sebaliknya. Terima kasih buat simpati kalian, tetapi sungguh peristiwa ini belum bisa dikatakan sebagai keuntungan atau sebaliknya. Sungguh saya belum tahu sekarang."

Sekali lagi warga desa terkejut atas ungkapan Kakek Zhou yang terkesan tidak bisa dimengerti, namun merekapun hanya menyimpannya dalam hati.

Dikutip dari '101 Kisah Bermakna dari Negeri China'. (The Powerful Wisdom from Ancient Stories)' yang ditulis oleh Lei Wei Ye

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*