Intan Dalam Debu – the web

TAO, Cahaya Penerang Hidupku

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | 1 Comment





TAO, Cahaya Penerang Hidupku

Intan Dalam Debu

 

TAO, Cahaya Penerang Hidupku"Bagaikan berjalan di tengah hutan belantara

Tak tahu harus kemana kaki melangkah

Ketika ada jalan setapak di depan mata

Kucoba jalani walau hati terasa gundah..."

Itulah sepenggal kisah dari awal perjalanan hidup ini, ketika aku belum menyadari akan sebuah makna perjalanan hidup seorang manusia.

  • Mengapa lahir ke dunia?
  • Harus bagaimana bila sudah ada di dunia?

Berbagai pertanyaan demikian setiap kali muncul, tanpa tahu bagaimana jawab yang sebenarnya, meski telah kucoba untuk bertanya pada pengajarku, namun jawabnya tak pernah puas di hati. Namun begitu ajaran demi ajaran kujalani dengan sebaiknya karena semua terikat akan "takut dosa"

Aku dibesarkan dalam lingkungan pendidikan sekolah yang berorientasi pada dunia barat. Tahun demi tahun berlalu dengan rutinitas yang tak berbeda, semua berlalu tiada arti sampai suatu saat kusadari betapa hidup harus bermakna. Tetapi bagaimana caranya?

Malam itu langit tak segelap biasanya. Cahaya bintang di hatiku yang semula hanya kerlap-kerlip berubah menjadi cahaya emas bersinar cemerlang, menerangi hatiku yang gundah, yang kini jadi mengerti bahkan sadar apa arti hidup ini.

Seorang teman Taoyu menjelaskan tentang Tao dan apa itu Siu Tao. Kini semua keraguan yang selama ini membelenggu hatiku dan hidupku terjawab sudah. Juga pertanyaan-pertanyaan yang tanpa jawab pasti itu. Betapa bahagianya kini aku sudah mengerti dan menyadari.

Mengapa lahir ke dunia?

Ini karena hutang karma yang harus dibayar, tentunya untuk menyelesaikan masalah hutang piutang di masa lalu atau bisa dibilang lahir ke dunia untuk memperbaiki dosa kita dahulu. Dengan jawaban itu, aku jadi sadar mengapa seseorang terlahir kaya / miskin, sehat / penyakitan, dihormati / dihina, dan lain-lain.

Harus bagaimana bila sudah ada di dunia?

Tentunya merevisi diri dan meningkatkan mutu (kualitas) diri, sehingga kelak bila harus terlahir lagi sebagai manusia, maka akan menjadi manusia yang bahagia dan mulia.

Mendung hitam seakan berlalu, fajar merekah menyambut hari yang baru. Begitulah rasa yang mengisi relung hatiku waktu itu. Kini betapa bangga dan bahagianya aku telah menjadi Taoyu, menjadi muridnya Maha Dewa Thay Sang Lauw Cin.

Masih kuingat benar saat-saat aku ingin menjadi Taoyu. Betapa sulitnya bagiku untuk menjadi Taoyu pada waktu itu. Jangankan ikut penataran calon Taoyu, ingin melihat-lihat para calon Taoyu kumpul saja aku tak bisa. Bermacam-macam pekerjaan / rutinitas rumah tangga yang begitu banyak sampai soal lain yang menghalangi. Tapi walaupun demikian, aku tetap berusaha sampai akhirnya tibalah saat yang kutunggu.

Desember 1997 saat yang bersejarah bagiku karena saat itulah tonggak awal aku melakukan perjalanan Siutaoku. Seperti sebuah kapal lepas dari demaga menuju lautan luas, percikan ombak kecil yang semula tiada arti, semakin jauh ke tengah, ombak dan badai silih berganti menerjang, menghempas, dan menyerang. Tanpa pegangan dan tuntunan Maha Dewa, dipastikan hancur berantakan biduk rumah tangga ini. Tak tahu pasti arah melangkah, terombang-ambing tiada daya karena tiada kompas penunjuk arah yang pasti. Sementara batu karang menjulang siap menghadang dan meremukkan.

Rajin berdoa dan berusaha, dibimbing oleh para Dewa, diantar aku menuju pelabuhan bahagia. Sungguh suatu pertolongan yang mengagumkan, tak dapat kuucapkan dengan kata-kata. Begitu banyak keajaiban yang kuterima, sampai setiap kali air mata ini menitik karena bahagia yang tak terkira.

Sepuluh tahun sudah cahaya itu menerangi jalan hidupku dan aku melangkah dengan pasti. Kini aku sadar apa tujuan hidup dan pentingnya belajar Tao. Tao Ying Suk membuat sehat jasmani dan rohani. Hidup harus berarti, karena kutahu hidup adalah anugerah. Hidup adalah kesempatan. Kesempatan untuk meraih sebanyak-banyaknya ilmu yang berguna. Kesempatan membuat sebanyak-banyaknya jasa pahala di dunia ini agar berguna di kehidupan mendatang.

Semakin lama aku jadi semakin menyadari bahwa hidup harus dirasakan indah, walau rintangan datang silih berganti, yang penting bagaimana menyikapi hidup ini. Mohon pada Dewa dan berusaha. Jalan pasti akan terbuka.

Begitu hendaknya sebuah prinsip bahwa orang hidup harus merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan. Andai sudah mati, bagaimana mungkin meraih sukses di dunia ini. Oleh karena itu alangkah bijaknya membuat kebaikan sebanyak yang kita bisa, senantiasa berhati baik, mengertikan pada sesama, menghargainya, memberikan kesempatan berkarya tanpa melihat si kaya dan si miskin. Tentunya demi kemajuan Tao kita. Demikianlah sehingga hidup jadi bermakna, berguna bagi sesama. Salam Tao.(Tri Susilowati,  Semarang)

Tao bagaikan cahaya terang

Meyinari kegelapan

Di tengah kehidupan yang penuh jurang

Asalkan mau berusaha, tetap waspada

Dan mendapatkan pertolongan Dewa

Jalan hidup cerah menjadi milik kita"

Share

Currently have 1 Comment

  1. Dengan membaca tulisan ini, membuatku semakin yakin terhadap TAO.

Leave a Reply








*