Intan Dalam Debu – the web

Tao dan Hidupku

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | No Comments





Tao dan Hidupku

(Cen Cu Ie, Lampung)

 

Tao dan HidupkuAku dilahirkan ke dunia dengan garis hidupku. Entah apa rahasia langit kepadaku, terhadap hidupku di dunia ini. Dan menangislah aku disaat hirupan udara pertama ke paru-paru segarku.

Bermula dari tak bernoda, bersih seperti kertas tanpa coretan. Aku mulai belajar dari waktu ke waktu, dari peristiwa ke peristiwa, dari pengalaman pahit sampai pengalaman yang membahagiakan di setiap jenjang usiaku. Tiap kisah hidupku, kuambil hikmahnya sebagai kenangan, pengalaman, dan pelajaran bagiku untuk menata hidupku ke depan supaya lebih baik lagi.

Semakin lama aku mulai tahu apa itu kebaikan dan keburukan. Lingkungan, pendidikan, ajaran hidup, hukum, dan agama TAO mengenalkan aku perbedaan baik dan buruk. Menganjurkan aku untuk tetap di jalur yang benar. Memperlihatkan kepadaku rasa sakit dan sesal akibat keluar dari jalur kebenaran tersebut.

Banyak kebahagiaan kukecap dari dinamika hidupku. Tak luput jua aku terpuruk oleh rasa kecewa, sedih, ketidakadilan yang menimbulkan rasa putus asa. Disinilah aku merasa seperti berada di roda yang sedang mengarah ke bawah. Tak jarang jua aku dibantu dan ditunjukkan jalan yang benar oleh SEN untuk keluar dari masalah hidupku. Salah satunya Fu Fak Sen sebagai guru pribadiku sekaligus sahabat setiaku. Semakin sering belajar Tao Ying Suk, semakin dekat aku dengan-Nya, semakin mantap aku ditiap langkah hidupku beserta-Nya.

Inilah hidupku, ibarat roller coaster (permainan yang disebut Kereta Halilintar), penuh kejutan, tak terduga kapan naik (di atas roda kehidupan), kapan turun (di bawah roda kehidupan). Tapi ada satu yang selalu kuingat : hidupku ada di tanganku, entah apa itu nasibku, entah apa rahasia langit padaku. Usaha maksimalku untuk yang terbaik bagi diriku sudah menjadi kepuasanku atas hidupku.

Ibarat kupu-kupu yang melalui masa metamorfosis, dari telur-ulat-kepompong, dan terus berusaha lepas dari bungkusan kepompong tersebut menjadi kupu-kupu cantik yang terbang bebas. Begitu pula aku yang terus digembleng dan ditempa di setiap jenjang hidupku. Derita dan rintangan hidup tidak menyurutkan semangatku, tidak menggoyahkan ketegaran dan ketabahan hatiku. Terus belajar dan belajar mengisi kehidupanku. Belajar TAO sampai batas yang tak berujung.

TAO seperti lentera dalam kegelapan, sebagai kapal ferry di lautan yang selalu membimbing dan menyelamatkanku; untuk menjadi lebih baik dalam moral dan hidupku; untuk menjadi aku yang sejati, sepolos kertas putih tanpa coretan. Salam Tao.(Cen Cu Ie, Lampung)

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*