Intan Dalam Debu – the web

Tumbuh Bersama Tao

Posted by IDB 1 August 27, 2008, under Volume 27 | No Comments





Tumbuh Bersama Tao

(Stephanie Listyaningsih, Semarang)

 

Sulit rasanya untuk begitu saja melupakan saat-saat sebelum mengenal Tao. Penuh kecemasan, pikiran-pikiran kalut dan perasaan-perasaan lain yang mengganjal. Namun, semua itu adalah bagian masa lalu yang patut dikenang dan dijadikan kisah dalam hidup. Sejarah yang selalu diingat dan menjadi guru kehidupan.

Lembaran baru dalam kehidupan saya dimulai sejak saya dan keluarga mulai mengenal Tao. Kira-kira 10 (sepuluh) tahun yang lalu orang tua kami mulai mengajarkan kami agama Tao. Mulanya saya tidak begitu tertarik dan tidak merasa ada yang berbeda dari agama ini. Anggapan saya pun layaknya orang pada umumnya, biasa saja., Mereka mengajar kami tentang Tao walaupun saat itu orang tua saya pun baru mulai belajar Tao. Tiap kali selesai dari pertemuan di kelenteng, mereka berbagi cerita tentang apa itu Tao, bagaimana sejarahnya, apa yang dipelajari dan apa kegiatan-kegiatan didalamnya.

Kemudian saya mulai berpikir, apa yang ada di dalam agama ini masuk akal dan tidak mengada-ada. Semuanya bernafaskan alami dan sejalan dengan alam. Tiap kali dipikirkan, semakin ada yang berbeda dan tak berujung. Rasanya sungguh berbeda dengan ajaran-ajaran yang lain. Perbedaan inilah yang memicu rasa penasaran saya tentang agama Tao ini.

Tao itu unik tak terdefinisikan, tak terbatas, tak berbentuk, dan tak berujung. Satu kata "ajaib". Tak pernah habis rasanya memikirkan kehidupan yang berdasarkan Tao. Sepintas mungkin terlihat mudah, tapi bila coba untuk dijalankan, sulitnya pasti terasa luar biasa. Tapi sulitnya itulah yang membuat kita menjadi berbeda dalam hal kualitas bila dibandingkan dengan individu lain. Sulitnya itulah yang membuat kita lebih kuat, lebih paham tentang arti kehidupan.

Belajar sedikit demi sedikit, akhirnya saya tahu apa itu "kung tek", apa itu "siu sin yang sin", apa itu "sen kung", dll. Semua ajaran ini belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Ajaran-ajaran yang bisa dimengerti, kami coba terapkan mulai dari keluarga, misalnya mencoba ber-kung tek dengan membantu saudara, orang tua, hingga akhirnya ke masyarakat.

Sejak resmi menjadi Taoyu pada bulan Juli 2002, sungguh ada sesuatu yang terasa berbeda. Rasanya hidup ini lebih bermakna dan terasa ada pedoman untuk berjalan. Tiap langkah dibimbing, tidak gegabah dalam memutuskan sesuatu. Ada tempat untuk berbagi, untuk berpegangan. Masalah-masalah yang rasanya sulit untuk dipecahkan, terselesaikan secara tiba-tiba. Tak ada kata yang bisa terucap selain decak kagum.

Tahun demi tahun berlalu, akupun tumbuh dalam lingkungan agama Tao. Jalan pemikiran yang sederhanapun berganti dengan pikiran yang lebih dewasa, yang mulai memakai nalar dan logika. Tahu mana yang penting dan benar, yang terbaik untuk semua.

Saya bersyukur sekali bisa mengenal dan tumbuh dalam ajaran Tao sejak dini. Itu berarti kesempatan kita untuk memperbaiki diri dalam kehidupan ini menjadi lebih banyak, sehingga kelak dilain kesempatan kita bisa menjadi orang yang lebih berkualitas. Dengan menjadi orang yang berkualitas, kehidupan kitapun akan menjadi lebih baik dan dapat merasakan apa yang disebut "Cen San Mei" yang merupakan tujuan akhir dari Siu Tao. Salam Tao (Stephanie Listyaningsih, Semarang)

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*