Intan Dalam Debu – the web

Arti Air Bagi Kehidupan

Posted by IDB 1 February 8, 2009, under Volume 28 | 2 Comments





Arti Air Bagi Kehidupan

(Tjan Ai Ling, Bali)

 

Arti Air Bagi KehidupanADALAH AIR

Adalah Air...

Yang melembab di pori akar

Yang mengendap di celah tanah

Yang mengalir di alur sungai

Yang menggenang di wajah danau

Adalah Air ...

Yang berabad-abad setia pada jalannya

Namun kita selalu mengkhianatinya

Dengan membabat akar, menguruk sungai

Dan menimbun danau

Lalu menabur besi, baja dan beton atas nama pembangunan

Adalah Air ....

Yang berabad-abad setia pada jalannya

Yang kini meminta air mata kita

Saya membaca untaian puisi ini dalam sebuah majalah mengenai banjir tahunan di Jakarta. Saat itu saya berada dalam penerbangan dari Denpasar ke Jakarta. Entah siapa nama pengarangnya. Karena tertarik dengan rangkaian katanya yang apik, saya langsung menyalinnya di buku diary kecil yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi.

Sesampainya di Bandara Cengkareng, sambil menunggu datangnya mobil yang menjemput, saya seperti tergugah untuk memperhatikan sekeliling tempat duduk saya lebih seksama. Tampak seorang bapak yang menuntun putrinya yang masih kecil sedang membuang botol minuman yang telah kosong di tempat sampah.

Lalu ada seorang ibu yang duduk tepat di sebelah saya, dengan sengaja meninggalkan begitu saja air minum gelas yang masih separuh berisi di atas bangku yang didudukinya, setelah melihat penjemputnya telah datang. Seorang gadis muda sedang membuang kotak kue yang diberikan oleh pramugari saat berada dalam pesawat ke tempat sampah, karena dia tidak berselera memakannya.

Beberapa anak remaja pergi sambil meninggalkan begitu saja plastik pembungkus snack di atas lantai bandara. Ketika pandangan saya beralih ke tempat sampah bandara, saya melihat begitu banyak kotak makanan dan botol minuman dari berbagai macam merek tertimbun di sana. Sebagian besar masih berisi. Ada juga botol minuman yang airnya merembes keluar, membasahi dan mengotori lantai bandara, diinjak orang yang lalu lalang, meninggalkan jejak kaki kotor sepanjang koridor bandara.

Tak lama kemudian datanglah dua orang petugas kebersihan bandara. Seorang petugas dengan cekatan membersihkan dan mengosongkan tempat sampah, sedangkan yang seorang lagi membersihkan dan mengepel lantai. Lima menit kemudian, tempat sampah kembali penuh berisi botol minuman dan kotak makanan. Yang tentu saja keadaannya kurang lebih sama dengan sampah yang telah dibersihkan petugas kebersihan tadi.

Dalam perjalanan menuju tempat penginapan, tanpa diduga salah seorang teman yang berasal dari Jawa Timur menceritakan sedikit

pengalaman pribadinya selama berada di Jakarta mengenai segelas air.

Suatu malam, ia bertemu di rumah kenalannya yang terletak di pinggiran kota. Di sana ia diajak mengobrol berjam-jam lamanya sampai tenggorokannya kering dan haus sekali. Tetapi si empunya rumah tidak menyuguhkan minuman apapun. Entah lupa atau bagaimana, yang pasti sampai pulang teman saya terpaksa harus terus menelan ludahnya agar tenggorokannya tidak kering.

Aduh ..... sengsara sekali waktu itu, katanya. Belum lagi saat menyetir, dinginnya AC mobil malah membuat kelenjar ludah dan tenggorokannya mengering. Yang sialnya tidak ada toko ataupun warung terdekat di sana.

Lengkaplah penderitaannya saat itu.

Dia benar-benar seperti orang menderita kehausan di Gurun Sahara. Beruntung setelah mendekati tengah kota, ia bisa menemukan sebuah toko kecil yang menjual minuman. Dan lucunya hal itu kerap terjadi setiap ia bertamu ke manapun juga. Untuk mengantisipasi terulangnya kembali peristiwa “Kehausan di Padang Pasir Jakarta” itulah, sampai kini ia selalu siap sedia membawa 1 dus botol air minum mineral ukuran besar di dalam mobilnya.

Setibanya di penginapan, begitu banyak teman dan sanak keluarga yang datang bertamu (berhubung akan diadakannya acara pesta keluarga).

Aneka snack dan minuman kami sajikan di atas meja tamu dan meja makan. Para tamu yang hadir mengambil snack dan minuman sesukanya.

Setelah mereka pulang, saya melihat banyak sekali kemasan gelas dan botol air minum yang sudah diminum tetapi ditinggal begitu saja di atas meja oleh peminumnya. Padahal isinya semuanya masih setengah.

Esoknya begitu lagi. Malah tanpa sengaja saya sempat melihat salah seorang teman yang bertamu, lupa di mana menaruh minumannya dan mengambil lagi sebotol air yang baru. Ia hanya meminum dua atau tiga teguk saja lalu meninggalkan begitu saja di atas meja tamu, tidak dibawa pulang. Saya hanya menggeleng-geleng kepala saja melihat kelakuannya.Malamnya saat berlatih Shen Kung, saya seperti digugah oleh Shen untuk merenungkan kembali peristiwa yang terjadi selama beberapa hari ini. Benar juga, belakangan ini pikiran saya banyak tertuju pada masalah air. Dimulai sejak saya tiba di bandara sampai malam ini, malam kedua saya di Jakarta.

“Menurutmu apa arti segelas air minum?”, tanya Beliau. Saya sempat termenung sebelum menjawab pertanyaan Beliau.

Seketika saja saya teringat dengan sebuah peraturan unik, tegas tapi tidak tertulis di Bali. Yang ditujukan bagi para taoyu dan para Huang Ie yang menghadiri acara CIANG TAO / pertemuan khusus lainnya.

Yang bunyinya seperti ini :

“Mengambil segelas air mineral harus diminum sampai habis !!! Tidak boleh sembarangan meninggalkan / membuang gelas air yang masih berisi di tempat pertemuan ataupun di tempat sampah”

Bahkan salah seorang Secie kami menganjurkan untuk memberlakukan denda sebesar Rp 2.500 / gelas bagi yang melakukannya. Ternyata peraturan tersebut membawa dampak yang positif bagi kami semua, antara lain :

  1. Tempat pertemuan terjaga kebersihannya.
  2. Belajar untuk tidak sembarangan menyia-nyiakan makanan / minuman.
  3. Ikut berpartisipasi (secara tidak langsung) membantu meringankan tugas dan pekerjaan para Sesiung dalam menyiapkan, membereskan dan membersihkan tempat pertemuan. Sekaligus sebagai wujud rasa menghargai atas pelayanan penyediaan hidangan oleh para Secie yang bertugas di seksi konsumsi.
  4. Membantu menghemat biaya konsumsi.

Bahkan setelah terbiasa menjalankan peraturan ini, banyak diantara kami yang sampai merasa tidak nyaman setiap kali akan membuang dan meninggalkan sembarangan gelas air yang masih berisi. Baik itu di tempat pertemuan, di rumah dan di mana saja. Entah bagaimana dengan daerah lainnya. Apakah ada diantara kalian yang mau meniru, menerapkan dan memberlakukan Peraturan Segelas air mineral dari Bali ini di daerah masing-masing ?

Bila direnungkan lebih dalam lagi, bagi sebagian orang segelas air minum seharga Rp 500,- bagai tak berharga dan tak berarti apa-apa. Tetapi pernahkah kita membayangkan bagaimana berharga dan berartinya segelas air tersebut saat kita sedang berada dalam situasi dan kondisi serba ‘sulit’ untuk mendapatkannya? Misalnya bagi para korban bencana alam.

Bencana alam yang maha dahsyat telah memporak-porandakan instalasi air bersih dan aliran listrik yang tersedia di daerah itu. Padahal tanpa air bersih, daerah pasca bencana alam tersebut bisa berubah menjadi daerah yang rawan dengan munculnya berbagai penyakit. Belum lagi bagi penduduk yang berdiam di daerah / di negara yang letak geografisnya minus dengan sumber air (seperti Afrika, misalnya).

Atau bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah yang sedang dilanda kemarau panjang. Segelas air bisa berharga lebih dari Rp 500,-. Bahkan bisa seharga nyawa. Tetapi kita di sini membuang air / makanan dengan seenaknya tanpa pernah memikirkan bagaimana dan dari mana air / makanan itu bisa kita dapatkan dan bisa kita nikmati dengan semudah ini.

Padahal, demi seteguk dan segayung air, banyak orang bersusah payah berjalan jauh naik turun gunung, menggali dan mengebor tanah sedalam mungkin. Bahkan ada yang harus menunggu sekian hari demi mendapat kiriman air dari mobil tangki air minum pemerintah, yang sangat dibatasi pembagiannya.

Ada pula yang harus menadah air hujan lalu diendapkan beberapa hari dulu sebelum digunakan untuk minum, masak, mandi dan mencuci. Itupun jika hujan turun setiap hari. Bagaimana kalau hujan hanya turun sesekali saja? Mau tidak mau mereka harus meminum dan menggunakan air keruh bercampur lumpur untuk keperluan sehari-hari lantaran hanya air bersih seperti itulah yang masih tersisa di dekat tempat tinggalnya.

Kemudian, demi sebutir nasi para petani bersusah payah menanamnya di sawah. Berjuang melawan panas, hujan dan angin. Menjaga dan memelihara dari masih berupa bibit sampai bisa menjadi bulir-bulir padi. Naiknya harga beras saat ini ternyata tidak membuat kehidupan para petani menjadi lebih makmur dan sejahtera, malah sebaliknya. Justru yang menikmati hasil kerja keras merekalah yang hidupnya lebih makmur dan sejahtera. Ironis sekali, bukan?

Sadar atau tidak, disengaja atau tidak, kita harus jujur bahwa banyak diantara kita yang memiliki kebiasaan sering menyia-nyiakan makanan dan minuman. Sedikit banyak kita pasti pernah melakukannya, bukan?

Padahal semua itu adalah berkah dan karunia dari Tuhan dan alam untuk kita semua. Sebenarnya di sini kita tidak boleh hanya bertindak sebagai pemakai saja. Tetapi harus berlaku dan berperan aktif sebagai pemelihara dan pemakai yang bijak. Bijak dalam menghargai dan memahami dari mana / bagaimana setetes air dan sebutir nasi bisa kita dapatkan. Tidak peduli apakah kita berasal dari keluarga yang hidup berlebih ataupun keluarga yang tidak mampu.

Keluarga sebagai komunitas dasar terkecil di alam raya ini, bisa kita manfaatkan sebagai wadah dasar bagi pembinaan serta pendidikan awal bagi anak-anak, agar bisa menghargai “ARTI SEGELAS AIR” dan “ARTI SEBUTIR NASI” sebagai pondasi terpenting bagi pembentukan watak, sifat, kepribadian serta kebiasaan bagi mereka kelak di kemudian hari. Mereka diharapkan bisa menjadi generasi muda yang berkepribadian luhur, berkesadaran diri yang tinggi untuk bisa menghargai alam dan penciptaNya. Juga bisa menjadi ‘penjaga’, ‘pemelihara’ dan ‘perawat’ yang aktif dan kreatif bagi kestabilan alam di masa yang akan datang.

Ingatlah selalu :

  • Segelas air bukan hanya untuk menghilangkan dahaga bagi si peminumnya tetapi dia juga menjadi sumber rejeki yang menghidupi banyak orang. Yakni, bagi para produsen, para konsumen, dan para pemulung.
  • Sebutir nasi bukan saja mengenyangkan perut bagi si pemakannya, tetapi dia ada karena hasil kerja keras dari para petani. Juga diyakini sebagai pembawa berkah dari 3 Dewa bagi seluruh umat manusia yang memakannya. Yakni berkah dari Dewa Tanah, Dewa Air dan Dewa Matahari.
  • Manusia tidak bisa lepas dari alam. Kita sangat bergantung pada alam, Alam adalah sumber kehidupan bagi kita. Alam yang ramah dan bersahabat bisa memberikan kesejahteraan dan kemakmuran kepada semua umat manusia. Tetapi amarah alam yang terluka, membawa bencana, duka dan penderitaan bagi kita semua. Keasrian, kestabilan dan kelanggengan alam tergantung kepada kemampuan manusia untuk mengendalikan diri. Kesadaran diri yang tinggi yang dibarengi dengan adanya tidak nyata penyelamatan / pelestarian alam di sana sini, membuktikan bahwa kelangsungan hidup manusia di masa yang akan datang sangat bergantung kepadanya.
  • Berusahalah untuk bisa berhemat dan bertindak bijak dalam mengkonsumsi maupun dalam menggunakan sumber daya alam di keseharian hidup kita.(Tjan Ai Ling, Bali)
Share

Currently have 2 Comments

  1. alvii manies says:

    iya klo gak ada air manusia gak bakalan hidup

Leave a Reply








*