Intan Dalam Debu – the web

Ketulusan Tanpa Pamrih

Posted by IDB 1 February 8, 2009, under Volume 28 | 1 Comment





Ketulusan Tanpa Pamrih

(Welly Sanjaya, Jakarta)

 

Ketulusan Tanpa PamrihSuatu ketika ada seorang Dewa yang ingin menguji hati manusia, adakah manusia didunia ini yang masih memiliki ketulusan hati? Maka Dewa tersebut turun kedunia, menyamar sebagai seorang lelaki pengemis tua jelek yang kudisan, seluruh bagian tubuhnya banyak borok yang bernanah, baunya membuat orang yang berdekatan rasanya mual mau muntah saja .

Dia mengembara disebuah kota yang ramai, dia berjalan sambil meminta minta, sudah seharian dia berjalan, tak seorangpun yang mau memberi sedekah kepadanya, semua orang yang didekati dimintai sedekah makan atau minum, semua pada menjauh menutup hidungnya, banyak yang bermuka masam menatapnya sewaktu didekati, ada yang marah-marah mengusirnya, bahkan tak jarang memakinya dan mengusirnya tanpa belas kasihan .

Sampai waktu senja menjelang , dia belum juga mendapatkan barang seteguk air penghilang dahaga, jalannya tertatih-tatih sampailah dia didepan sebuah rumah seorang hartawan yang kaya raya, kebetulan waktu itu sehabis mengadakan pesta ulang tahun sang nyonya besar, pengemis tua itu berhenti memandang kedalam melalui pintu gerbang yang terbuka lebar, dilihatnya didalam sang hartawan dan istrinya sedang bersenang-senang bercakap-cakap dengan para saudara dan teman-temannya, si pengemis berjalan mendekati pintu dan duduk di tangga depan pintu sambil berkata menghiba, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya bolehkah hamba minta sedikit air dan makanan untuk menghilangkan dahaga dan lapar, hamba telah seharian berjalan belum mendapatkan seteguk air maupun sesuap nasi untuk menghilangkan dahaga dan lapar perut hamba".

Karena tenggorokannya yang kering dan badannya yang telah penat, suaranya yang serak tertelan oleh kebisingan suara mereka yang sedang bersenda gurau dan tertawa terbahak-bahak. Tetapi tak lama tuan dan nyonya rumah serta seisi penghuni rumah tersentak oleh bau tak sedap yang datang tiba-tiba ke hidung mereka .

Sang nyonya besar yang berulang tahun berteriak, "Hah! bau apa ini, kenapa tiba-tiba ada bau busuk dirumah ini! Pelayan...," teriaknya dengan keras. "Cari tahu barang busuk dari mana baunya memenuhi rumah ini, cepat!'

Seorang pelayan wanita yang mukanya hitam berjerawat, cepat-cepat mengiyakan dan pergi mencari tahu. Dicarinya sampai keluar pintu depan rumah, barulah sang pelayan tahu dari mana datangnya bau tak sedap itu, si pelayan lalu melapor ke majikannya si nyonya besar .

"Nyonya, bau tak sedap itu datangnya dari seorang pengemis tua yang minta-minta di depan pintu gerbang".

"Hah, kenapa tak cepat-cepat kamu usir dia...bodoh kamu, bisa sial aku di hari ulang tahunku kedatangan pengemis busuk" mulutnya mengumpat sambil berjalan ke depan pintu gerbang.

Huek...uek...karena tak tahan baunya sang nyonya besar sampai mau muntah, kemudian dia berteriak "Hai pengemis tua, cepat pergi! Kau mengotori rumahku dengan bau busukmu. Aku nyonya besarmu ulang tahun hari ini, kau telah membuat tamuku muntah sampai tidak selera makan, ceeeepppaaaattt peeerrrgiii!" teriaknya melengking.

Si pengemis tua menghiba, "Nyonya besar yang baik hati, berilah barang seteguk air dan sesuap nasi untuk menghilangkan dahaga dan laparku , telah seharian aku belum makan dan minum".

Bukannya merasa iba, si nyonya besar malah berteriak, "Hai penjaga...cepat usir dia seret jauh dari rumah ini, pengemis pembawa sial".

Datanglah si penjaga dengan mukanya yang garang membawa tongkat memukul dan mengusir pengemis tua itu, si pengemis dengan tertatih-tatih menyeret kakinya yang telah lelah berjalan meninggalkan pintu gerbang rumah mewah itu.

Ketika berjalan dengan sisa-sisa tenaga, sang pengemis melewati pintu samping rumah mewah itu, tiba-tiba si pelayan wanita yang buruk muka tadi menghampirinya, "Pak tua, istirahatlah dibawah pohon seberang jalan itu, ini ada sebungkus sisa makanan pesta yang saya kumpulkan dan semangkuk air. Makan dan minumlah dulu baru kau lanjutkan perjalananmu". Tanpa merasa jijik dan segan dipapahnya pengemis tua itu ke bawah pohon rindang ditepi jalan

Pengemis tua itu memandang dengan sinar mata yang merasa sangat berterima kasih, dengan suaranya yang serak dia berkata, "Nak, kau baik sekal, meskipun kau buruk rupa tetapi hatimu ternyata tak seburuk wajahmu. "Nak, bapak tak memiliki apapun sebagai balas budi kebaikan hatimu, aku hanya memiliki selembar sapu tangan kumal ini. Maukah kau menerimanya sebagai tanda terima kasih pengemis tua ini?"

Sambil berkata, pengemis tua itu menyodorkan tangannya, dalam tangannya ada selembar sapu tangan kuning yang sudah kumal dan kotor .

"Bapak tidak perlu begitu, aku hanya ingin sedikit membantu, hatiku tak tega melihat bapak yang kelihatan lelah dan dahaga"  jawabnya.

"Nak...hatimu baik, terimalah....hanya ini harta yang bapak miliki" kata sang pengemis mendesak.

Dengan perasaan tak tega menyinggung perasaan sang pengemis, si pelayan itu menerima sapu tangan tersebut dan dimasukan kedalam sakunya, kemudian dia meninggalkan sang pengemis masuk kembali ke rumah.

Setelah seharian bekerja, malamnya si pelayan beristirahat. Badannya yang telah lelah karena seharian mengurus segala keperluan pesta membuatnya mengantuk. Karena kelelahan dia tak sempat mandi, keringat yang membasahi muka hanya disekanya. Tanpa sadar dia menyeka mukanya dengan sapu tangan yang ada didalam sakunya, sapu tangan kuning kumal dan kotor pemberian pengemis tadi sampai akhirnya dia tertidur pulas.

Keesokan harinya seperti biasa, dia bekerja membersihkan rumah majikannya. Setiap kali mukanya berkeringat dalam bekerja dia menyeka mukanya dengan sapu tangan kuning itu .

Suatu saat , sang nyonya memperhatikan sipelayan, dia heran ada perubahan pada si pelayan buruk muka itu, wajahnya makin hari makin putih dan cantik. Kulit muka dan tangannya menjadi putih dan halus, jerawat dan bintik-bintik dikulitnya hilang. Dengan hati penasaran sang nyonya bertanya, "Eh buruk, engkau makan apa? Mencuri obat apa dirumah ini? Kenapa kulitmu jadi bersih dan putih?"

Si pelayan tersentak, "Nggak nyonya, saya tidak mencuri obat atau makan apa-apa, saya sendiri heran dan tak tau apa sebabnya. Hanya setiap kali aku menyeka keringat muka dan tubuhku dengan sapu tangan ini pemberian pengemis itu, menjadi berubah demikian".

"Aku tak percaya, mana aku lihat sapu tangan ajaib apa itu", sambil berkata direbutnya sapu tangan kuning kumal kotor itu dari tangan si pelayan. Lalu di gosok-gosokan ke mukanya, tetapi bukannya menjadi tambah putih, mukanya jadi belepotan kotor dan hitam.

Sambil mengumpat dengan hati mendongkol, dibuangnya sapu tangan itu. "Bohong kamu ya pelayan jelek".

"Nggak nyonya, mana berani hamba berbohong, sapu tangan itu pemberian dari pengemis yang bau busuk yang datang di depan gerbang rumah waktu nyonya ulang tahun itu. Dia memberi sapu tangan itu setelah saya kasih sebungkus sisa-sisa makanan pesta hari itu" kata pelayan itu dengan rasa takut kalau dipecat.

"Kalau begitu besok adakan pesta, undang semua pengemis yang ada dikota ini, saya mau minta sapu tangannya" kata sang nyonya besar dengan lantang.

Diadakanlah keesokan harinya pesta makan yang tamunya pengemis seluruh kota.

Pada saat perjamuan makan berlangsung si nyonya besar berdiri ditengah ruangan dan berteriak "Hai siapa diantara kalian yang memiliki sapu tangan kuning kumal? Berikan kepada nyonya besar kamu ini , akan saya beri imbalan makan dan minum satu bulan penuh".

Mendengar kata-kata si nyonya besar, mereka saling pandang dan bertanya- tanya, siapa gerangan yang punya sapu tangan seperti itu? Di tunggu-tunggu tiada jawaban, sang nyonya besar menyuruh tukang pukulnya mencari tahu dengan menggeledah para pengemis mencari sapu tangan yang dimaksud.

Para pengemis berangsur angsur pergi setelah kenyang makan minum, belum juga ada seorangpun memberikan sapu tangan yang dimaksud. Dengan tak sabar hati sang nyonya besar maju menghadang beberapa pengemis terakhir yang mau pergi, semua kantong baju dan bawaan mereka digeledah berhamburan. Akhirnya sang nyonya mendapatkan juga sebuah sapu tangan hijau kumal dan kotor. Dengan girang hati berteriak "Hah akhirnya dapat juga".

Dengan segera digosokkan ke muka dan kaki tangannya, semua orang memandangnya dengan menahan tawa. Bukannya tambah putih kulitnya dan tambah cantik wajahnya, sang nyonya jadi hitam dan kotor serta bau tak sedap. Semua kaki dan tangannya juga jadi hitam dan kotor, semakin digosok semakin hitam mukanya .

Nah, begitulah cerita yang pernah saya baca entah dimana, tentu pembaca tahu makna dari cerita diatas. Semoga berguna.(Welly Sanjaya, Jakarta)

Share

Currently have 1 Comment

Leave a Reply








*