Intan Dalam Debu – the web

Kisah Pohon Apel dan Manusia

Posted by IDB 1 February 11, 2009, under Volume 28 | 4 Comments





Kisah Pohon Apel dan Manusia

(Yulian, Malang)

 

Kisah Pohon Apel dan ManusiaSuatu ketika hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjat hingga ke puncak pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi" jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya".  Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun setelah itu anak lelaki itu tidak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi" kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku? "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tetapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku, "kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar? "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senang. "Kemudian anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku, "kata pohon apel itu. "Aku sudah tidak memiliki buah apel lagi untukmu". Tak apa. Aku pun sudah tidak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu, "jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan pohon yang bisa kau panjat, "kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini, "kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tidak memerlukan apa-apa lagi, "kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ibarat kata, pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Mungkin banyak dari kita yang bersikap seperti anak lelaki tersebut. Kita lebih banyak meminta dan merepotkan orang tua kita. Namun, sebagai seorang taoyu kita sudah seharusnya sadar dan berbakti pada kedua orang tua kita. Karena merekalah yang melahirkan, merawat, mendidik, melindungi, dan mengajari kita banyak hal. Sehingga sudah sepantasnyalah kita membalas kasih sayang mereka dengan memberi lebih banyak daripada yang telah mereka berikan pada kita.

Luangkanlah waktu yang lebih banyak untuk bersama mereka walau kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita masing-masing, karena waktu mereka mungkin juga sudah tidak lama lagi.

Orang tua kita selalu ada disaat kita membutuhkan mereka. Mereka tidak pernah meminta kita untuk membalas jasa mereka, namun yang perlu kita lakukan hanya berbakti dan menyayangi mereka dengan sepenuh hati.(Yulian, Malang)

Share

Currently have 4 Comments

  1. Kisah yg mengharukan. Hutang terbesar kita adalah pd ortu. Jd selagi msh ada waktu marilah kita BAHAGIAKAN mereka.

  2. tanpa sdar kadang kita memang selalu mengutamakan kepentigan pribadi kita & menuntut ortu.cerita ini bs menyadarkan kita.

  3. hidup adalah suatu perjuangan...? Dimana kedua orang tua kita rela mengorbankan segala sesuatu untuk kebahagiaan putranya....maka dari itu, mari kita berbakti kepada ortu kita .................ocreeee

Leave a Reply








*