Intan Dalam Debu – the web

APA ITU QUO NIEN ?

Posted by adminidb May 4, 2013, under Volume 3 | No Comments





APA ITU QUO NIEN ?

Oleh Fung Ling

 

Dianatara jutaan orang Chinese yang ada di dunia ini, ternyata yang mengetahui sejarah dan asal usul tentang Tahun Baru Imlek memang tidak banyak. Biasanya mereka hanya merayakannya dari tahun ke tahun bila kalender tanggalan Imlek telah menunjukkan tanggal satu bulan satu. Jenis dan cara merayakannya pun bisa berbeda dari satu suku dengan yang lain. Hal ini dikarenakan luasnya daratan Tiongkok dengan beraneka ragamnya kondisi alam, lingkungan baik secara geografis maupun demografis, belum lagi secara etnis. Ada yang dimulai dengan sembahyang kepada Thian dan para Dewa, serta para leluhur, ada pula yang dimulai dengan makan ronde, maupun kebiasaan-kebiasaan lain, sebelum saling berkunjung antar sanak saudara sambil tak lupa membagi-bagi “Ang Pau’ untuk anak-anak yang tentu saja menerimanya dengan penuh kegembiraaan.

 

Sebenarnya kalender Chinese dipengaruhi oleh 2 sistem kalender yaitu sistem Gregorian dan sistem Bulan-Matahari, dimana satu tahun terbagi rata menjadi 12 Bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29 ½ hari. Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang amat erat hubungannya dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada alam, sehingga pembagian musin ini terbukti amat berguna bagi pertanian dalam menentukan saat tanam maupun saat panen. Di bawah ini adalah beberapa contoh dari pembagian 24 musim tersebut :

-          Permulaan Musim Semi

Hari pertama pada musim ini adalah tahun baru , atau saat dimulainya festival musim semi.

-          Musim Hujan

Dimana hujan mulai turun.

-          Musim Serangga

Serangga mulai tampak setelah tidur panjangnya selama musim dingin.

-          Dll. ( masih ada 21 musim lain yang terlalu panjang untuk dibahas satu persatu )

 

Selain dari pembagian musim di atas, dalam penanggalan Tiong Hoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun-tahun dalam hitungan siklus 60 tahunan. Masih ada lagi hitungan siklus 12 tahunan , yang kita kenal dengan ‘SHIO’ yaitu Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi.

 

Kesimpulannya, Penanggalan Chinese tidak hanya mengikuti satu sistem saja, tetapi juga ada beberapa unsur yang mempengaruhi yakni musim, 5 unsur, angka langit, shio dll. Walaupun demikian semua perhitungan hari ini dapat terangkum dengan baik menjadi satu sistem “ PENANGGALAN CHINESE” yang baik, lengkap dan harmonis bahkan hampir dikatakan sempurna karena sudah mencakup ‘Koreksi’nya juga sebagai contoh ‘Lun Gwe’ merupakan bulan untuk mengkoreksi setelah satu periode tertentu. Hal ini menunjukkan kecerdikan/ keahlian bangsa Tiong Hoa sejak zaman kuno.

 

Asal usul Tahun Baru Imlek.

Tahun baru Imlek juga dikenal dengan istilah “Quo Nien” atau ‘Festival Musim Semi’. Hal ini karena dimulai pada permulaan musim semi. Asal usulnya sudah amat kabur karena tradisi ini sudah teramat tua. Memang ada beberapa versi cerita mengenai ‘Quo nien’ ini. Tapi dari semua cerita didapat kesamaan bahwa kata “NIEN” yang dalam bahasa Chinese modern bearti ‘Tahun’, sebenarnya adalah nama dari seekor Monster binatang buas yang mempunyai kebiasaan mulai makan manusia tepat pada malam Tahun Baru (Imlek).

 

Ada sebuah legenda yang menceritakan lebih jauh tentang si Monster ‘Nien’ mempunyai mulut yang sangat besar yang dapat menelan banyak orang sekaligus dalam sekali lahap, sehingga tidak heran jika penduduk menjadi amat takut kepadanya. Pada suatu hari, ada seorang tua yang datang untuk menolong mereka. Beliau menawarkan diri untuk menaklukkan Sang Monster ‘Nien’.

 

Walaupun setengah percaya, penduduknya setuju. Maka orang tua itupun menunggu kedatangan ‘Nien’. Pada saat ‘Nien’ datang, orang tua itupun menyapanya : “Hai, Nien; Saya dengar bahwa kamu sangat hebat dan sakti sehingga dapat menelan banyak orang sekaligus. Tetapi, dapatkah kamu menelan binatang buas pemangsa manusia yang lain yang ada di dunia ini? Saya kira, manusia bukanlah lawanmu yang layak, mereka tidak dapat melawanmu. Kalau kamu menang dapat menelan binatang buas yang lain, barulah kamu dapat dikatakan dan dikenal paling kuat dan sakti di dunia ini”. Rupanya Sang Monster ‘Nien’ terkena juga kata-kata Orang Tua tersebut. Sejak saat itulah, Sang Monster ‘Nien’ hanya memangsa binatang, baik yang buas maupun binatang peliharaan, tidak pernah lagi dia makan manusia.

 

Konon setelah kejadian itu, Orang Tua itupun menghilang dengan menunggang Sang Monster ‘Nien’.

 

Barulah penduduk sadar bahwa Orang Tua tersebut adalah Dewa yang turun ke dunia guna menolong manusia.

 

Nien telah pergi, binatang buas lainnya pun takut berkeliaran, mereka masuk ke hutan-hutan. Sejak saat itu, penduduk mulai dapat hidup tenang dan damai.

 

Sebelum pergi Sang Orang Tua pun berpesan agar penduduk menaruh dekorasi yang terbuat dari kertasmerah pada pintu-pintu dan jendela pada setiap akhir tahun, guna menangkal kembalinya si ‘Nien’, karena Nien takut pada warna merah.

 

Sejak itulah, ‘Pengalaman dalam menaklukkan ‘Nien’ menjadi sebuah tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Istilah “QUO NIEN” yang berarti ‘Selamat dari Nian’ pun sekarang berubah menjadi ‘Merayakan Tahun Baru’ karena ‘Quo’ berarti ‘lewat atau menjalankan/merayakan’. Kebiasaan untuk menempel kertas warna merah dan memasang petasan untuk menakuti ‘Nien’, walaupun sudah memudar tapi masih ada yang melakukannya. Meskipun demikian, banyak orang yang sudah lupa mengapamereka harus menempel kertas dan memasang petasan. Mereka rata-rata hanya suka kemeriahan warna dan suasana yang mereka anggap dapat lebih menyemarakkan tahun baru.

 

Tradisi Tahun Baru Imlek.

Walaupun puncak acara Tahun Baru Imlek /Quo Nien hanya berlangsung 2-3 hari termasuk malam tahun baru, tetapi masa tahun baru sebenarnya berlangsung mulai pertengahan bulan 12 tahun sebelumnya sampai pertengahan bulan pertama dari tahun yang baru tersebut.

 

Sebulan sebelum tahun baru merupakan bulan yang bagus untuk berdagang, karena orang biasanya akan dengan mudah mengeluarkan isi kantongnya untuk membeli barang-barang keperluan tahun baru.

 

Transportasi pun terlihat mulai padat karena orang biasanya akan pulang ke kampung halamannya untuk merayakan tahun baru bersama sanak saudara.

 

Beberapa hair menjelan tahun baru kesibukan dalam rumah mulai terlihat dimulai dengan pembersihan rumah secara besar-besaran bahkan ada yang mengecat baru pintu-pintu dan jendela. Hal ini dimaksudkan untuk membuang segala kesialan serta hawa kurang baik yang ada dalam rumah dan memberikan kesegaran dan jalan bagi hawa baik serta rezeki untuk masuk. Acara dilanjutkan dengan memasang hiasan-hiasan tahun baru yang terbuat dari guntingan kertas merah maupun tempelan kata-kata harapan seperti KEBAHAGIAAN, KEKAYAAN, PANJANG UMUR, serta KEMAKMURAN. Beberapa keluarga masih melakukan acara sembahyang pada arwah leluhur, bermacam-macam buahpun ditaruh di depan altar.

 

Pada malam tahun baru, setiap keluarga akan mengadakan jamuan keluarga di mana setiap anggota keluarga akan hadir untuk bersantap bersama. Makanan populer pada jamuan khusus ini adalah ‘Jiao Zi’ (semacam ronde). Setelah makan,biasanya mereka akan duduk bersama ngobrol, main kartu maupun game ataupu hanya nonton TV. Semua lampu akan dibiarkan menyala sepanjang malam. Tepat tengah malam, langitpun gemuruh dan gemerlap karena petasan. Semua bergembira.

 

Keesokan harinya, anak-anak akan bangun pagi-pagi untuk memberi hormat dan mengyalami orang tua maupun sanak keluarga dan merekapun diberi Ang Pau. Acarapun dilanjutkan dengan mendatangi saudara yang lebih tua maupun tetangga. Ini adalah saat ang tepat untuk saling rekonsiliasi / berdamai, melupakan segala ketidak cocokkan.

 

Suasana tahun baru berakhir 15 hari kemudian, berbarengan dengan dimulainya ‘Festival Lentera’. Lentera warna-warni aneka bentuk dan rupa akan dipasang memeriahkan suasana, tarian tradisional pun digelar di lapangan. Makanan khas pada saat ini adalah ‘Tang Yuan’ semacam ronde yang lain.

 

Walaupun tradisi dan kebiasaan boleh berbeda tapi ada satu spirit / semangat yang sama dalam merayakan Tahun Baru yaitu suatu harapan akan kedamaian, kebahagiaan untuk keluarga, teman-teman ataupun penduduk dunia lainnya.

 

Nah, pembahasan ini dapat menambah wawasan kita ataupun sebagai wacana pengingatan kembali bagi yang sudah tahu akan tradisi kita ini.

 

Ada baiknya kita tahu akan asal-usul tradisi nenek koyang kita sendiri dan tidak menjadi asing atau bahkan menganggap tradisi orang sebagai tradisi kita, karena tradisi hanyalah sebagai suatu kebiasaan yang dilakukan terlepas dari agama maupun politik. Dang dengan pengertian mengenai penanggalan di atas, diharapkan akan semakin berkurangnya orang-orang yang mudah dibodohi karena ketidak-tahuannya seperti contoh isu ‘ Pengajuan Tahun Baru akhir-akhir ini ‘. Kata orang Jawa ‘Apa tumon?’. Selama ribuan tahun Quo Nien tidak bisa dan belum pernah dimajukan, apapun alasannya, atau sudah kena wabah Millenium ???

 

Diterjemahkan dan disadur bebas

Oleh Fung Ling

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*