Intan Dalam Debu – the web

Tao dari Kaca Mata Saya

Posted by adminidb May 2, 2013, under Volume 3 | No Comments





Tao dari Kaca Mata Saya

Oleh : Hendra

 

KETUHANAN YANG MAHA ESA.

Boleh dikata hampir semua umat manusia di dunia sekarang ini adalah umat beragama. Didunia sendiri berkembang begitu banyak agama yang masing-masing mengakui adanya Tuhan. Ajarannya sendiri pada dasarnya secara umum hampir sama dengan tujuan mengajarkan kebajikan. Kalaupun dalam kenyataannya kita merasakan begitu banyak perbedaan dan pertentangan, maka semuanya itu pada mulanya hanyalah perbedaan-perbedaan yang timbul karena situasi kondisi lingkungan sosial budaya asal agama tersebut lahir yang berbeda, yang kemudian karena perkembangannya semakin memberikan nuansa perbedaan yang semakin jauh dikarenakan perbedaan dan pertentangan antara manusianya yang saling berkompetisi / bersaing mencapai tujuannya.

Setiap agama biasanya didalamnya berisi atau mencakup 5 (lima) inti bagian yaitu :

  1. Filsafatnya.

Merupakan hasil pemikiran orang – orang pandai, isinya mengandung pengaruh unsur                   kebudayaan bangsanya, biasanya selalu ada kelebihan dan kekurangannya.

  1. Ajaran Moralnya.

Berisi peraturan-peraturan untuk kehidupan dalam kemasyarakatan yang bertujuan agar manusia mengenal budi pekerti, belas kasih, norma-norma dan moral kemanusiaan supaya kehidupan manusia damai dan tentram.

  1. Perjanjiannya (sebab akibat)

Merupakan bagian untuk memotivasi dan mengendalikan kehidupan manusia supaya baik dan teratur dengan cara menjanjikan imbalan dan hukuman (sebab akibat).

  1. Ritual Keagamaannya.

Merupakan bagian yang mengajarkan tata cara kegiatan-kegiatan keagamaan seperti upacara-upacara, perayaan-perayaan keagamaan. Biasanya faktor kebudayaan dan adat istiadat juga ada pegaruhnya sedikit atau banyak.

  1. Hubungan Ke Tuhanan nya.

Hanya yang ada Cing Co (semedi/ meditasi) yang berisi ajaran cara-cara berhubungan dengan Tuhan nya secara langsung, secara umum caranya dengan menundukkan diri sendiri (jiwa dan raga), hening dan tenang sehingga mendapatkan kegaiban / hubungan Ke-Tuhanan.

Sebagai generasi yang hidup di jaman modern ini, bersamaan dengan arus kecenderungan dunia menuju ke alam yang global dan lebih universal dalam segala bidang penghidupan, maka kitapun tak bisa lepas dari dampak-dampak yang timbul / akan timbul. Menyikapi perkembangan seperti ini tentunya kita semua harus dapat menghadapinya secara terbuka dan positif. Harus kita sadari bahwa arus informasi dan komunikasi dewasa ini relatif sudah begitu cepat dan bebasnya, seakan tanpa batas lagi, ini tentunya membuka peluang  bagi kita semua membuka, menambah luas cakrawala dan wawasan serta kedewasaan kita. Kemungkinan adanya hal-hal yang negatif juga tidak bisa luput dari hadapan kita, tetapi ini justru harus menjadikan kita lebih jeli dan selektif.

Tao Yang Agung

Tao adalah ajaran berke-Tuhanan tertua di dunia yang sudah mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa sejak ribuan tahun sebelum masehi. Tao berkembang pesat didaratan Tiongkok, kemudian menyebar dan berkembang keseluruh penjuru dunia seperti di Taiwan, Thailand, Singapura, Malaysia, Philipina, Myanmar, Hongkong, Amerika, Inggris, Jepang, dll. Di Indonesia, Tao adalah salah satu unsur Tri Dharma yang meliputi Budha, Kong Hu Cu dan Tao.

“Tao” memiliki arti dan pengertian yang sangat luas dalam. Hanya dengan kesadaran dan nalar yang sangat tinggi baru bisa dipahami. Tao adalah yang ter Agung karena Tao menerangi, memberi jalan dan menolong umat manusia dari kegelapan. Tao ada di mana saja, tapi hanya memberikan jalan bagi yang mau menyeberangkan dirinya. Namun dibalik sedemikian luas dan dalamnya pengertian Tao tersebut sebenarnya menunjukkan ke sangat sederhanaan Nya.

Percakapan antara murid dan guru :

Murid 1 : “Katanya Tai itu tidak dapat dibicarakan dan jika sudah dibicarakan itu bukanlah Tao lagi.”

Murid 2 : “ Kalau begitu apa yang guru ajarkan selama ini bukanlah Tao yang sesungguhnya.”

Murid 3 : “ Jika benar demikian apakah Tao yang sebenarnya itu, guru?”

Guru     :  (tersenyum ...diam)

Tao Mencakup Segalanya Dengan Sangat Unik Antara Abstrak dan Nyata.

Tao dapat bersifat sangat sederhana maupun sangat kompleks sekalipun tanpa meninggalkan Keagungannya. Semuanya tergantung bagaimana cara kita memandang Nya, jika kita memandangnya dengan kesahajaan maka Tao akan terlihat begitu hakiki dan sederhananya, akan tetapi jika kita memandangnya dengan kompleks maka Ia akan terlihat jauh lebih rumit daripada apa yang mampu kita pandang. Hal ini membuktikan bahwa Tao itu memang tak berbatas. Jika demikian, lalu bagaimana mungkin Tao itu dapat dijelaskan secara keseluruhan ?

Tentunya untuk menjelaskan dan mengerti keseluruhan Tao secara langsung boleh dibilang tidak mungkin. Tapi bukan berarti Tao tidak dapat dibicarakan atau diajarkan. Untuk dapat mengerti Nya, tentunya melalui prose belajar, pembahasan, serta diskusi, dan untuk mendapatkan pemahaman yang luas dan dalam tentunya akan melalui tahap demi tahap yang semakin maju. Dapat dibayangkan jika adaseorang anak kecil yang dengan keyakinan dan semangat membabi-buta berusaha meneguk habis segentong besar air sekaligus.

Tao juga bersifat sangat universal yang padat berisi hal-hal yang kontradiktif tapi suplementif dan memiliki relatifitas yang tinggi. Untuk lebih mendalami pengertian-pengertian Tao, kita mungkin lebih mudah menangkapnya dengan pemahaman-pemahaman dari hal-hal sehari-hari yang bersifat praktis dengan mengikuti Nya secara tidak kaku dan selalu mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan keaslian Nya. Tao itu mempunyai sifat yang sangat unik, cakupannya meliputi segala hal dari yang abstrak sampai yang benar-benar nyata.

   “ Tao itu begitu luas dan Agungnya, bagaimana mungkin kita manusia dapat mencapainya “.

Tao tidak mempermasalahkan sesuatu tetapi lebih bersifat alami.

Tao menitik beratkan  pada ke-alami-an, rendah hati dan besifat universal. Karenanya tidak bertentangan dengan yang lainnya, bahkan merupakan yang memberikan kesempurnaan, maka Tao dapat hidup dan diakui secara luas. Dewasa ini dunia barat pun mulai mencoba belajar mendalami Tao. Tao diajarkan dalam bahasa sastra filsafat yang kulturik sehingga mengandung arti-arti mendalam dan seakan bernuansa kebudayaan. Padahal jika dikupas akan sangat universal dan sederhana adanya. Begitulah Tao, yang bahkan untuk mengembangkan dirinya sendiri pun begitu luwes tapi tidak pernah meninggalkan sifat alaminya.

Tao Sejati, Capai Jati Diri Yang Asli.

Belajar dan menjalani Tao (Siu Tao) bertujuan mencapai jati diri yang asli (sukma sejati) menuju kesempurnaan. Tao itu begitu Agungnya sehingga segala sesuatu yang jika berdiri sendiri-sendiri bisa menimbulkan pertentangan dengan yang lainnya, dihadapan Tao justru semua itu adalah bagian dari suatu kesempurnaan. Api dan air, gula dan garam mempunyai sifat bertentangan, dibawah racikan seorang juru masak yang handal justru semuanya menjadi bagian dari masakan yang lezat.

Tanpa mengesampingkan maksud dan tujuan baik yang ada, rasanya terlalu muluk-muluk dan akan semakin jauh dari jangkauan kita, jika kita terus berkutat mengorek-ngorek pengertian-pengertian dalam kata-kata atau kalimat-kalimatnya saja, yang mengandung pengertian filosofi yang sangat dalam, tanpa mau peduli terhadap hal-hal sederhana yang ada dalam keseharian kehidupan kita. Tentunya persiapan bekal pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang mencukupi serta pengetahuan tentang latar belakang sejarah yang ada sedikit banyak akan membantu kita dalam pemahaman mengenai Tao. Bagi kita cara yang lebih realistis untuk mengejar kesempurnaan adalah melalui siutao secara “alami” (dibaca: realistis, wajar dan logis), maka segeralah memulainya da tidak ada kata terlambat dalam belajar. Kata “alami” diatas sengaja diarahkan ke pengertian realistis, wajar dan logis ( walaupun belum dapat mewakili secara bulat benar ) untuk meminimalkan kesalah pengertian kita mengenai maksud “alami” yang sebenarnya.

Tao Ying Suk jalannya, kejodohan bertemu Guru Sejati.

Tao Ying Suk adalah ilmu Tao yang mulia, merupakan kunci dalam Siu Tao menuju kesempurnaan. Dapat kesempatan mempelajari Tao Ying Suk maka terbuka lebar pintu Siu Tao karena mendapatkan guru dan pembimbing sejati. Tao Ying Suk yang kita pelajari adalah dari Thay Sang Men ( Maha Dewa Thay Sang Law Cin ) dan kita ini termasuk kelompok atau golongan Siaw Yaw Bay ( hidup alamiah dan bergembira ).

Tao Ying Suk adalah cara Siu Tao sejati, bagaikan sebuah pusaka yang dulunya hanya diajarkan turun temurun pada murid-murid pilihan. Sekian lama berkembang Tao mengalami pasang surut dalam perkembangannya. Tidak sedikit yang diselewengkan, tapi Tao yang Agung tetaplah Agung. Kalaupun ada yang menjelek-jelekkan / memfitnah Tao, maka sebenarnya hanyalah mencerminkan ketidak mampuan orang tersebut menyadari dan menerima Tao tersebut tanpa dapat mengurangi Keagungan Tao itu sendiri.

Taonya sendiri tidak pernah berniat dan bersikeras menuntut untuk diyakini dan diikuti, kalaupun ada jalan menuju Tao itu pun karena ada yang bersedia dan rela menjadikan dirinya sebagai jalan menuju Tao dengan segala resikonya. Walaupun jalan menuju Tao sudah tersedia dan terbuka pun, jika tanpa usaha yang terus menerus untuk mencari dan menemukannya maka dapat dipastikan kita hanya dapat sekedar “merasa” berdiri diatasnya.

Dalam suatu kesempatan diskusi :

  • Apakah jika sebelumnya saya tidak mengenal Tao, kemudian setelah mengenal dan belajar Tao, saya sudah dapat dikatakan mendapatkan Tao.
  • Ya, jika itu yang kamu maksudkan maka kamu sudah mencapai dan mendapatkan Tao itu, tapi kamu belum mencapai dan mendapatkan Tao tersebut.

“ Tao itu tidak ada tapi ada, didalam Tao ada Tao.”

      Jiwa Raga Sehat, Amal Baik, Sabar dan Ulet.

      Tujuan dari Tao Ying Suk adalah untuk menyehatkan dan memperkuat jasmani dan rohani sehingga panjang umur. Didalamnya kita belajar Thay Sang Sen Kung yang dapat dikatakan seperti suatu olah jiwa dan raga.

Yang dilatih :

Sen Kung : yaitu latihan gerakan-gerakan seperti olahraga yang berguna menyehatkan dan memperkuat badan kita.

Chi Kung : yaitu latihan olah pernafasan ( hawa inti ) yang menyehatkan dan melatih kekuatan organ tubuh bagian dalam.

Cing Co : yaitu latihan meditasi untuk menenangkan dan menyehatkan mental dan pikiran.

Amal baik adalah hal penting yang dianjurkan dalam Siu Tao. Berbuat amal memang terlihat nyata sebagai tindakan kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita, tetapi sebenarnya berbuat amal baik itu adalah untuk kebaikan dan keuntungan kita sendiri.

Alkisah di negeri Mimpi, ada sebuah toko yang menjual segala macam bibit dari bibit padi sampai bibit mobil, pokoknya semua bibit ada, dan langganannya adalah manusia. Semua bibit yang dijualnya adalah bibit unggul yang kalau ditanam akan cepat tumbuh dan berbuah super. Orang yang menanam bibit padi akan mendapat hasil beras super, yang tanam bibit mobil dapat mobil Super Babybez. Konon toko itu terdengar sampai ke negeri kahyangan, hingga pada suatu hari Ie Wang Ta Tie mengutus dewa perdagangan untuk menjalin hubungan kerjasama. Tentunya kedatangan sang Dewa disambut dengan baik oleh pemilik toko tersebut. Ceritanya sang dewa menawarkan toko itu menjadi distributor bibit super produksi negeri kahyangan. Mendengar itu kontan pemilik toko itu bersujud dan menjawab, “Mohon ampun Paduka Dewa, bukan hamba menolak tawaran Paduka, tetapi ‘bibit dari negeri kahyangan’ itu memang paling tidak laku dan tidak ada yang mau beli, bahkan kami masih menyimpan semua stok yang ada sejak toko ini dibuka”. “Sudah lama kami mau mengembalikannya, tapi tidak berani”. “Kebetulan  Paduka datang, kami mohon sekiranya Paduka mau bermurah hati menggantikan semua ‘bibit amal kebaikan’ itu dengan ‘bibit dollar’ yang lagi laku keras”. Sang dewa pun ngeloyor pergi sambil menggerutu, “Dasar...manusia...!!”

“Amal kebajikan begitu penting pengaruhnya dalam kemajuan Siu Tao kita, bahkan dapat dikatakan memupuk amal kebajikan  adalah memupuk kekuatan”

KEMANUSIAAN

Walaupun tahu pasti bahwa realita kehidupan yang harus dihadap itu penuh dengan gelombang pasang surut yang berat, tetap saja pada umumnya umur yang panjang dan kesehatan merupakan sesuatu yang diidam-idamkan semua orang. Tentunya tanpa suatu alasan kuat dan tujuan hidup yang mulia, semua usaha manusia untuk mempertahankan hidupnya selama mungkin, hanyalah merupakan refleksi ketakutan yang begitu besar dalam menghadapi kenyataan adanya akhir hidup.

Agama atau ajaran Ke Tuhanan diyakini merupakan alternatif jalan keluar untuk masalah ini. Walaupun dalam penjabaran yang kelihatan berbeda tapi pada dasarnya semua agama berusaha meyakinkan umatnya bahwa setelah kehidupan di dunia ini, masih ada dimensi kehidupan lain yang kondisinya sangat relatif tergantung hasil kehidupan kita sekarang. Oleh karena itu semua agama menganjurkan umatnya menjadi baik.

Kunci utama adalah di manusianya. Karena itu jaman sekarang ini mulai banyak yang menitik beratkan pada :

Revisi Diri ( Siu Sing Yang Sing )

Dengan berprinsip bahwa kehidupan di dunia ini adalah suatu berkah dan kesempatan yang mulia, maka kehidupan di dunia ini harus dijalani ( nikmati ) secara baik dengan tujuan yang lebih baik lagi di kemudian hari. Berpegang pada prinsip kehidupan yang dipandang secara positif, maka kita pun harus selalu merevisi diri kita menuju diri yang sempurna raga, pikiran dan jiwanya. Revisi diri ini meliputi hal lebih luas lagi dari pengembangan latihan Tao Yin Suk kita, sehingga menyentuh kehidupan bermasyarakat dalam keseharian kita sebagai manusia seutuhnya.

Moral dan Sosial

Berbicara moral dan sosial, akan lebih banyak mempermasalahkan bagaimana sikap dan tanggapan kita terhadap lingkungan sekitar kita.

  • Moral individu

Sebagai sesosok individu yang merdeka, kita mempunyai hak dasar sebagai manusia yang sama seperti yang dimiliki setiap orang yaitu hak asasi manusia. Hak asasi manusia yang paling dasar adalah hak untuk hidup dan mendapatkan kebebasannya sebagai manusia. Hak asasi manusia ini merupakan hak setiap orang dan dapat dipergunakan oleh setiap orang tanpa perkecualian dengan batasan adanya hak asasi orang lain. Jadi sederhananya kita mempunya hak asasi manusia yang memberikan hak hidup dan kebebasan pada kita sebagai insan manusia, tapi disisi lain kita juga dihadapkan pada hak asasi manusia dari dari orang lain yang hidup dalam lingkungan dan bersama kita. Dengan perkembangan kehidupan yang begitu cepat dan kompleksnya maka terciptalah suatu tatanan pola kehidupan yang memunculkan hukum sebagai perangkat pengatur agar kehidupan masyarakat manusia menjadi harmonis. Keadilan adalah merupakan dasar dan sekaligus tjuan dari keberadaan hukum.

Memang keberadaan hukum yang kuat menjadi modal utama dalam mencapai kondisi kehidupan masyarakat manusia yang baik dan teratur, tetapi adanya moral individu yang kuat akan jauh lebih baik didalam suatu kehidupan manusia, karena merupakan hukum dasar yang lebih hakiki dalam diri masing-masing manusia yang akan mengatur dirinya dalam keberadaannya masin-masing.

Pemahaman mengenai moral itu sendiri haruslah dilihat dari sudutpandang yang universal sehingga akan didapat pandangan moral dalam pengertian yang lebih hakiki. Pada umumnya dalam sudut pandang yang sempit ( bagi budaya timur ), moral selalu dipandang dari sudut nilai-nilai tabu yang berhubungan dengan masalah sexual. Padahal keberadaan moral hampir dapat dikatakan jauh lebih luas dan universal dari hanya sekedar permasalahan tersebut. Moral merupakan suatu cakupan menyeluruh mengenai hal-hal perikemanusiaan, kesusilaan, dan kebajikan yang ada pada diri kita. Sebagai seorang taoyu kitapun dituntut untuk selalu berpijak pada kemoralan yang tinggi.

  • Mencapai kehidupan yang sejahtera

Merupakan hal yang diidam-idamkan oleh setiap insan manusia dan termasuk kita sebagai Tao Yu adalah mencapai kehidupan yang sejahtera. Kehidupan yang sejahtera dalam pengertian yang ideal adalah tercukupinya semua kebutuhan hidup kita baik yang dalam bentuk materi maupun rohani. Tentunya ukuran sejahtera itu sendiri sangatlah relatif karena begitu kompleksnya cara pandang dari setiap orang. Selain itu standar sejahtera dari setiap orang itu sendiri senantiasa berubah dan cenderung meningkat seiring dengan pencapaian yang telah diraih masing-masing individu.

Banyak orang membaca Tao Tek Cing yang mengatakan “Mencapai Kekosongan” adalah mendapatkan Tao Sejati. Mendengar kata “kekosongan” sering diantara kita segera menafsirkan dan dalam benaknya membayangkan kehidupan yang menjauh dari keduniawian. Sebagai manusia normal tentu dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengejar kebahagiaan duniawi yang tidak terlepas dari materi.

Bersandar pada kenyataan bahwa kemampuan masing-masing individu dalam alam kompetisi yang berbeda-beda, maka pada akhirnya terciptalah suatu pola tingkat kesejahteraan hidup antar manusia yang berbeda-beda dalam suatu rentang jarak yang sangat relatif. Kalau kita melihat dari sudut pandang terciptanya kondisi yang ada sekarang ini, maka kelihatannya ini adalah hasil dari suatu proses yang alamiah. Akan tetapi suatu proses yang alamiah itu sendiri pada kenyataannya tidak dapat mempertahankan kelangsungan penampakan kealamiahannya tanpa suatu titik keseimbangan yang mampu dipertahankan.

Demikian juga dalam usaha mencapai suatu tingkat kehidupan yang sejahtera kita sebagai Tao Yu selalu berpatokan pada proses yang alamiah, dan yang mungkin juga harus kita “sadari” bersama adalah agar dapat menjaga keseimbangan didalamnya sebagai usaha menajaga kealamiahan itu sendiri.

Selain itu kita harus akui bahwa keberadaan materi dalam kehidupan duniawi sekarang ini memang penting dan jika kita dapat menguasainya tentunya akan sangat membantu meringankan beban kehidupan kita. Akan tetapi tentunya pemahaman kita mengenai keberadaan materi ini jauh lebih penting, sehingga tidak mempengaruhi atau merubah tujuan hidup kita yang positif  menjadi kabur dan kehilangan kadarnya.

  • Bermasyarakat dan sosial.

Sebagai makhluk sosial kita tentunya tak dapat lepas dari serba keterkaitan kita dengan masyarakat dan lingkungan sekitar kita. Dalam Siu Tao, pandangan kita sebagai Tao Yu terhadap masyarakat dan alam sekelilingnya dapat diklasifikasikan dalam beberapa sudut pandang yang tergantung tingkatannya, yaitu sebagai berikut :

  • Ada aku baru ada kamu.

Merupakan tingkat terendah dari kemampuan cara pandang seseorang terhadap masyarakat dan lingkungannya dengan penempatan diri sendiri sebagai subyek dan orang serta lingkungan sekeliling kita sebagai obyek. Pada taraf ini seseorang biasanya belum mampu meredam segala kekuatan ego dan subyektifitas dirinya sehingga jika terjadi benturan / konflik tujuan dan keinginan dengan subyek lain yang kebetulan pada taraf yang sama, maka akan terjadi penyelesaian dengan adu kekuatan.

  • Ada aku dan kamu.

Pada tingkat ini pemahaman pribadi mengenai keberadaan dan hubungannya dengan individu lain didalam masyarakat dan lingkungan mencapai titik sosialisasi yang masih berstruktur subyek dan obyek dimana pribadi masih mengambil figur subyek sebagai predikat dirinya. Secara sekilas tahap ini kelihatannya tidak banyak berbeda dengan tahap sebelumnya diatas, tapi pada kenyataan praktisnya keadaan di taraf ini sudah jauh berbeda dengan taraf sebelumnya pada penerapannya di lingkungan yang ada . Yang membuat begitu nyatanya perbedaan yang ada adalah adanya kemampuan kontrol ego dari masing-masing individuserta adanya pengakuan atas keberadaan ego-ego dari pribadi-pribadi yang lain yang dalam kondisi bersinggungan satu sama lain diadakan kompromi antar individu dengan masing-masing pribadi mengambil alternatif yan paling menguntungkan dari sudut pandangnya masing-masing.

  • Ada kamu baru ada aku.

Taraf ini adalah taraf paling tinggi dimana sesosok pribadi sudah mencapai kesadaran yang tinggi serta kemampuan menyatu dengan masyarakat serta alam dan lingkungannya. Berkemampuan untuk “menguasai diri sepenuhnya” sehingga mempunyai sudut pandang dan wawasan yang sangat luas dan jauh yang berpijak dari titik kehakikian, sehingga menghasilkan ide-ide serta pola tingkah laku yang serasi dan harmonis mencapai taraf obyektifitas yang universal.

ALAM SEMESTA.

Karena kita ini hidup didalam alam dan kita sendiri juga adalah bagian dari alam itu sendiri, maka sudah selayaknya kita harus bisa memanfaatkan dan mengembangkan alam ini untuk kepentingan ( kesejahteraan kehidupan ) kita dengan sebaik-baiknya.

Alam dan segala kekayaan yang terkandung ini seakan memang sudah disediakan untuk manusia, sehingga alam sendiri selalu membebaskan manusia untuk memanfaatkannya sehingga manusia merasa alam ini adalah miliknya. Oleh karena itu menjaga dan pelihara alam dan lingkungan otomatis menjadi tanggung jawab dari manusia.

Manusia itu adalah bagian alam itu sendiri maka keberadaan manusia itu sendiripun harus bisa dijaga dengan baik. Ironisnya justru manusialah bagian alam yang paling sukar untuk diatur selain juga paling berbahaya, oleh karena itu menjaga keseimbangan dan keselarasan kehidupan antar manusia secara harmonis kelihatannya jauh lebih penting dari sekedar memelihara dan mengembangkan sumber daya serta kelestarian alam yang ada.

Sebabnya manusia adalah makhluk yang mempunyai pikiran dan perasaan yang tinggi sehingga selalu timbul benturan yang jika sudah mencapai skala besar justru benturan antar manusia inilah yang lebih banyak mengakibatkan  dampak negatif pada alam serta lingkungan selain pada dirinya sendiri. Jadi kalau mau dunia ini baik ( mencapai keseimbangan yang alami ) maka masing-masing individu manusia ini ( kita ) lah yang harus bisa “mengerti” ( Wu ) serta bisa mengontrol pikiran dan perasaannya.

Demikian tadi pembahasan “ Intan Dalam Debu “ dalam sudut pandang saya secara praktis dan garis besarnya, tentunya masih banyak lagi pemahaman-pemahaman yang kita perlukan untuk mencapai suatu kesempurnaan. Akan tetapi hanyalah dengan suatu penerapan yang dilakukan dengan penuh “kesadaran” lah yang akan menyatukan diri kita dengan Tao secara alami.

Oleh karena itu bersihkanlah debu-debu yang masih melekat pada diri kita, kemudian gosoklah dengan halus sampai indah berkilau menjadi berlian sesungguhnya.

“ Ada pepatah yang mengatakan untuk mancapai jarak ribuan kilometer dimulai dari satu langkah yang pertama “

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*