Intan Dalam Debu – the web

Kalau Aku Menjadi…

Posted by adminidb September 26, 2012, under Volume 30 | No Comments





Kalau Aku Menjadi...

Oleh : Livia Eric L.Sim, Jambi

 

Suatu hari menjelang Imlek, kami Muda-mudi Tao Jambi beserta PUTI daerah Jambi mengadakan bakti sosial dengan memberikan makanan dan pakaian kepada keluarga-keluarga Suku Hua yang membutuhkan. Awalnya aku tidak begitu antusias, karena dalam pikiranku, "Mana ada lagi Suku Hua yang masih hidup dalam kemiskinan dan memerlukan bantuan kami?".

 

Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah seorang kakek tua yang katanya hidup sebatang kara dengan tangan yang telah cacat. Setelah kami ketuk pintu rumahnya agak lama, keluarlah seorang kakek yang masih agak gagah. Ternyata itu adalah teman dari kakek, yang sedang berkunjung juga. Tak lama kemudian, keluarlah kakek yang kami maksud dengan agak tergopoh-gopoh dipapah oleh tongkatnya, tangannya yang cacat membuatnya agak kesulitan memegang tongkat tersebut.

 

Beberapa saat kemudian kakek itu mulai bercerita mengenai kehidupannya selama ini. Dengan berlinang air mata, kakek tersebut menceritakan dia hidup sebatang kara setelah mamanya meninggal dunia dan saudaranya yang lain meninggalkannya karena tidak ingin direpotkan olehnya. Dia merasa sangat kesepian dan ingin mempunyai pasangan hidup untuk menjaga serta menemaninya, tetapi mamanya telah melarang dia menikah sewaktu dia masih muda dan kini semuanya telah terlambat.

 

Apa yang aku dengar membuatku berpikir, apa gunanya di dunia ini terdapat pria dan wanita kalau bukan untuk saling melengkapi? Kakek itu merasa senang dengan kunjungan kami dan menyuruh kami untuk sering-sering datang menemaninya. Dia begitu tabah menjalani kehidupannya dengan segala kekurangan dan kesendiriannya. Tak dapat kubayangkan bila hal ini terjadi, mungkin aku tak akan setegar kakek itu.

 

Perjalanan kami lanjutkan, sampailah pada suatu tempat yang disebut desa Kasang Pudak. Suatu desa yang masih sepi yang dikelilingi oleh hutan dan hewan ternak. Diiringi rasa takut terperosok karena kami melewati tanah-tanah berlumpur yang lembek, kami sampai di sebuah rumah, atau mungkin lebih cocok disebut gubuk. Aku seperti bermimpi masih melihat bangunan gubuk seperti ini dibanding bangunan-bangunan kokoh dan indah di sekitar rumah yang kami tinggali. Gubuk ini lebarnya sekitar 6 meter persegi dengan lantai tanah lembek. Didalamnya terdapat papan yang agak tinggi yang ditinggali sepasang suami istri dengan empat orang anak. Kondisi itu semakin memprihatinkan karena tidak ada kamar mandi, dapur, kamar tidur bahkan listrik.

 

Aku tidak dapat membayangkan bagaimana kalau aku berada dalam kondisi seperti itu. Hidup dalam kegelapan, tanpa kasur yang empuk, tanpa mainan untuk bermain, tanpa sesuatu yang bisa disebut hidup layak. Saat itu aku merasa sangat bersyukur akan hidup yang aku dapatkan. Aku teringat perkataan Mamaku yaitu shen zai fu zhong bu zhi fu, manusia harus puas dengan keadaan yang telah dia terima dari Thian karena diluar sana masih banyak orang-orang yang lebih serba keurangan daripada kita.
Ketika kami hendak pulang, keempat anak tersebut melambaikan tangan pada kami. Aku ingin cepat-cepat berlalu karena aku merasa tak bisa berbuat lebih banyak dari pada sekedar memberi 2 karung beras, beberapa helai baju dan mie instant. Kalau aku adalah orang kaya, aku ingin sekali membawa mereka ke kondisi lingkungan yang lebih layak dari itu.

 

Memang semua keluarga mempunyai masalahnya sendiri-sendiri yang berbeda-beda. Dari perjalanan ini, aku dan muda-mudi Tao yang lain mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan terlupakan. Meskipun dana yang kami sumbangkan tidak banyak, tetapi menurutku bukanlah besarnya dana yang dipentingkan namun sebuah hati yang tulus untuk membantu sesama. Marilah kita bersama beramal dan berbuat kebajikan serta berbagi kasih antara sesama.

 

Berterima kasihlah kepada orang tua kita karena mereka telah memberikan kita suatu keluarga yang utuh dan sekolah untuk kita menuntut ilmu. Berterima kasihlah kepada Shen karena Shen selalu melindungi dan memberkati kita. Sadarlah bahwa kita harus bisa mensyukuri apa yang telah kita miliki itu.

 

Salam Tao

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*