Intan Dalam Debu – the web

Anger Management : Pentingnya Mengontrol Emosi

Posted by adminidb June 8, 2012, under Volume 31 | 1 Comment




Anger Management : Pentingnya Mengontrol Emosi

Oleh :Willy Chiandra (Fut Kiun) - Bangka

 

Siang itu saya mendapat sebuah SMS dari teman saya yang isinya seperti ini:

 

"Ketika kita dilahirkan untuk datang ke dunia ini, kita menangis dan orang lain di sekitar kita tersenyum dan tertawa bahagia..... Jalanilah hidup dengan sebaik-baiknya agar kelak ketika kita tiada, hanya kita yang tersenyum bahagia dan orang lain di sekitar kita menangis atas kepergian kita.... "

 

Sebentar saya merenungi arti dari sms tersebut. Ternyata setelah dipikirkan isinya sangat mendalam sekali. Kita kaum Siu TaoAnger Management : Pentingnya Mengontrol Emosi sudah seharusnya hidup berdampingan tanpa adanya dendam satu sama lain. Namun dalam hidup sehari-hari tidak sedikit halangan yang timbul  ketika kita hidup dalam suatu kebersamaan. Entah itu timbul dari diri kita sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Salah satunya adalah sikap ego kita. Sifat ego sering kali mengundang amarah, untuk itu kita perlu adanya sikap untuk dapat mengendalikan amarah tersebut. Pengendalian amarah tersebut biasanya disebut "Anger Management". Apa sih "Anger Management" atau manajemen amarah itu ? Secara gampangnya dapat kita simpulkan bahwa managemen amarah adalah  kondisi dimana kita dapat menahan diri untuk marah kepada sesuatu  yang tidak kita sukai. Marah kepada sesama, hanya akan merusak hubungan kita dengan mereka. Ada sebuah cerita menarik mengenai pentingnya kita menjaga sikap dan mengatur amarah kita.

 

Ada seorang ayah tinggal bersama anaknya. Anaknya adalah seorang yang mudah sekali marah kepada orang lain walaupun disebabkan oleh masalah yang sebenarnya simple atau sederhana. Sampai suatu hari dia bercerita kepada ayahnya

 

"Ayah, kok saya ini gampang sekali marah kepada orang lain ya??? Biarpun karena masalah sepele saja, saya sudah dapat menjadikannya alasan untuk memarahi orang. Sedangkan ayah terkenal sangat sabar dan jarang marah. tolong ayah ajarkan saya bagaimana agar saya dapat menjaga diri saya dan mengendalikan amarah saya." kata si anak kepada ayahnya.

 

Sang ayah pun menjawab:

"Baik, akan ayah ajarkan bagaimana caranya. Mulai besok setiap kali kamu marah kepada orang lain, pasanglah paku di papan pagar kita, 1 paku untuk setiap kali kamu marah."

 

Sang anak memasang paku di papan setiap kali dia marah, hari berganti hari jumlah paku yang dipasang si anak juga semakin berkurang karena dia sudah bisa menahan diri untuk tidak marah. Karena menilai dirinya sudah berhasil menahan diri untuk tidak marah, dia memberi tahu ayahnya.

 

"Ayah, sekarang saya sudah berhasil untuk menjaga emosi saya, sekarang saya tidak gampang marah lagi dan sudah 2 hari saya tidak marah kepada orang lain." kata sang anak kepada ayahnya.

 

Dan ayahnya menjawab:

"Bagus anakku, sekarang tugasmu adalah setiap kali kamu dapat menahan diri untuk tidak marah kamu cabut kembali paku yang telah kamu pasang di papan pagar kita. Cabut 1 paku setiap kali kamu dapat menahan diri untuk tidak marah"

 

Sekarang setiap kali sang anak bisa menahan amarahnya kepada orang lain, dia mencabut 1 buah paku. Hari pun berganti sampai semua paku yang dulu dipasang oleh sang anak sekarang sudah tercabut semua karena dia telah berhasil menajaga amarahnya kepada orang lain. Kemudian dengan perasaan bahagia dia mencari ayahnya untuk memberitahukan hal ini.

 

Dengan bangga dia bercerita kepada ayahnya

"Ayah, sekarang saya sudah bisa menjaga emosi saya, saya tidak mudah marah kepada orang lagi. Semua paku yang dulu saya pasang telah tercabut semua."

 

Ayahnya yang senang akan keberhasilan anaknya kemudian berkata kepada anaknya. "Benarkah kamu telah berhasil menahan amarahmu dan sebanyak paku yang telah kamu pasang di papan pagar kita?"

 

"Ya, ayah. Saya telah berhasil bersabar dan menahan amarah saya" jawab anaknya.

 

"Bagus, sekarang kamu bawa ayah melihat papan yang dulu kamu paku." lanjut ayahnya. Dan kemudian sang anak dan ayahnya pergi menuju ke pagar rumah mereka.

 

"Sekarang kamu perhatikan papan yang dulu kamu paku. Apa yang dapat kamu lihat?" tanya ayahnya.

 

"Yang saya lihat hanya lubang bekas paku yang dulu saya pasang ayah." jawab anaknya.

 

"Sekarang kamu pikirkan kalau papan itu adalah hati orang yang dulu kau sakiti dan kamu marahi. Papan yang dulunya mulus tanpa lubang. Ketika mau marah kepada orang tersebut kamu telah melukai hatinya dengan menorehkan sebuah luka paku dan ketika kamu telah berbaikan dengan orang tersebut paku tersebut kamu cabut dari hatinya tetapi masih tetap meninggalkan luka yang tidak bisa sembuh biarpun waktu terus berjalan tetapi luka itu tetap akan terus tertinggal dan akan terus diingat oleh sang pemilik hati. Sehingga ketika kamu melakukan kesalahan kepadanya dia kan marah lebih besar daripada dulu yang kamu lakukan kepadanya."

 

Setelah mendenger penjelasan dari ayahnya, sang anak menjadi sadar dan berjanji untuk tidak mudah lagi melukai hati orang lain.

 

Dari cerita sederhana diatas dapat kita ambil suatu pelajaran penting dimana kita sedapat mungkin harus bisa menjaga emosi kita. Karena setelah kita menyakiti hati dan perasaan orang lain kita tidak akan bisa menyembuhkannya. Jadi kita sebisa mungkin harus menjaga sikap, perbuatan maupun ucapan kita agar kita tidak menyakiti hati orang lain. Jadi sebisa mungkin pikirkan dulu sebelum kita berbicara maupun bertindak karena setalah kita bertindak maupun berbicara baru kita pikirkan, itu sudah tidak ada gunanya lagi. Apalagi kalau yang kita utarakan telah menyakiti hati orang lain.

 

Salam Tao

 

If you can change the way you think, you will change your life......

(jika kamu bisa merubah cara berpikirmu, kamu akan merubah hidupmu)

 

 

Share

Currently have 1 Comment

  1. Willy Chiandra says:

    wow.. ternyata di muat juga di web IDB....^^

Leave a Reply








*