Intan Dalam Debu – the web

Di Dalam Keterbatasan, Memberikan Dedikasi Tanpa Batas

Posted by adminidb July 5, 2012, under Volume 31 | 1 Comment





Di Dalam Keterbatasan, Memberikan Dedikasi Tanpa Batas

Part 1 by LTL

 
Tobelo 26 April 2010,

 

Tobelo adalah sebuah kota pelabuhan kecil di Halmahera Utara. Kebetulan karena pekerjaan saya sering tinggal di kota ini. Hari itu sore-sore, setelah turun dari kapal, saya makan di sebuah restoran di dekat pasar satu-satunya di Tobelo. Setelah selesai, saya berjalan melewati lorong sempit yang kumuh dan mendapati sebuah tumpukan baju-baju dan pakaian bekas yang diatasnya ada tenda kecil dari selembar seng. Karena tiba-tiba mulai turun hujan saya berteduh disebelah tumpukan baju itu.
 
Ditengah tumpukan barang-barang yang telah ditinggalkan dan dilupakan oleh pemiliknya yang terdahulu, saya melihat seorang nenek tua yang sedang mengamati saya. Tubuh nenek itu terlihat rentan & kurus. Baju sang nenek juga sudah lusuh dan tak terurus. Rambut putihnya yang tak rapi serta garis-garis di wajahnya menandakan kesusahan dan kesengsaraan yang saya tidak dapat bayangkan. Karena hujan bertambah deras, sang nenek berkata " Nyong!! Mari berteduh sebentar". Tanpa berpikir panjang saya berteduh dibawah tenda itu dengan sang nenek.

 

Nenek ini ternyata sudah berumur 86 tahun, ia telah menghabiskan 60 tahun hidupnya dipinggir jalan. Ia sudah tak dapat berjalan lagi, karena katanya 15 tahun yang lalu ia ditabrak oleh gerobak pengangkut besi. Waktu itu karena kerasnya ia tertabrak sang nenek langsung pingsan, dan saat ia terbangun orang yang menabrak sudah tidak ada lagi. Sejak saat itu ia lumpuh dan tidak dapat berjalan kembali. Sang nenek sudah 40 tahun hidup sebatang kara. Dulu katanya ia memiliki suami tetapi tidak memiliki anak.

 

Sang nenek juga bercerita tentang kesehariannya, ia juga berkata bahwa terkadang ia tidak makan sampai 2 hari. Dilihat dari ceritanya dan caranya ia menyampaikan cerita sang nenek sepertinya sudah kehilangan semangat untuk hidup. Ia beberapa kali berkata "Tuhan, biarkanlah saya yang sudah tua renta ini mati Tuhan".

 

Karena kondisinya yang memprihatinkan dan mendengar kata-kata sang nenek yang sudah tidak mengerti kenapa ia masih hidup. Saya, dengan hati yang menangis, berusaha memberikan sudut pandang yang berbeda dari kehidupannya.

 

Di Dalam Keterbatasan, Memberikan Dedikasi Tanpa BatasSetelah lama berbicara nenek itupun berkata bahwa setiap 3 hari ada seorang guru negeri yang selalu memberikannya sebungkus nasi, hal ini rutin dilakukan pak guru selama 5 tahun terakhir. Gaji guru negeri untuk Halmahera Utara itu Rp37.000,-/ hari, sedangkan harga nasi bungkus di Tobelo minimal Rp7.000,- (harga sembako ditempat ini memang mahal). Jika dicermati sang guru ini mengumpulkan uangnya setiap hari sedikit demi sedikit dan membelikan sang nenek makanan secara rutin diluar dari keperluan nya sendiri selama 5 tahun terakhir.

 

Menyadari hal ini saya terkejut, kagum, sekaligus heran bahwa masih ada orang yang memiliki dedikasi dan keteguhan hati untuk membantu sesamanya sampai tahap pengorbanan yang seperti itu. Terkadang kita lupa dengan kesibukan dan keterbatasan diri kita sendiri, sehingga kita tidak dapat melihat sekeliling kita, siapa yang sedang kekurangan dan siapa yang benar-benar membutuhkan uluran tangan kita. Kebanyakan kita selalu berpikir bahwa kita sudah bekerja keras setiap hari dan kita PANTAS untuk memanjakan diri kita. Sehingga kita melupakan bahwa disekeliling kita masih banyak yang butuh bantuan walaupun hanya 7000 rupiah setiap 3 harinya.

 

Mungkin karena 7000 rupiah ini setiap 3 hari, sang nenek dapat bertahan hidup sampai sekarang. Terlebih lagi hal ini memberikan sang nenek harapan untuk terus hidup, karena ternyata "masih ada yang perduli".

 

Kita sebagai orang yang sudah Siu Tao, sudahkah kita memberikan sebuah dedikasi sosial didalam segala keterbatasan kita? Sehingga kita dengan bangganya dapat berkata "Sayalah wajah dari seorang yang Siu Tao".

 

Membantu karena kita mampu itu adalah kewajiban.

Tapi berkorban untuk membantu..

Itu adalah sebuah nilai diri. Itu adalah arti dari dedikasi.

 

Karena hujan sudah mulai reda saya berkata kepada sang nenek, "Ibu, terima kasih atas atapnya. Mungkin ibu belum menyadari, tapi setiap 3 hari pak guru masih ingat dengan ibu, dan setiap hari ia berusaha menyimpan uangnya demi sebungkus nasi untuk ibu. Jadi ibu jangan sedih karena 3 hari lagi ia pasti datang." Mendengar kata-kata saya sang nenek yang baru menyadari hal ini tersenyum sambil berlinang air mata & berkata "Terima Kasih".

 

Salam Tao

Share

Currently have 1 Comment

  1. infonya bagus nie.
    sangat membantu bagi yang tinggal diluar jawa...

Leave a Reply








*