Intan Dalam Debu – the web

Tao Bagian dari Diriku

Posted by adminidb September 3, 2012, under Volume 31 | 4 Comments





Tao Bagian dari Diriku

Oleh : LMS

 

Rasanya kok begitu hebatnya bahwa Tao adalah sudah merupakan bagian dari diriku. Memang itulah yang nyata yang kita punyai. Tetapi justru terkadang kita-kita yang Siu Tao ini sedikit kelewat batas / berlebih mengartikan dan menerapkan Tao ini pada diri sendiri.

 

Tidak perlu berlebihan, nilai diri yang begitu luas misalkan, kita ambil secuil saja, seperti sikap diri terhadap guru.

 

Kalau kita mau menjaga dan mendalami nilai0nilai diri ini, maka setiap kita belajar sesuatu pada seseorang, beliau / dia adalah guru kita. OK lah, ini mungkin terlalu naïf, kita melihat sosok guru yang sesungguhnya, dimana kita betul-betul belajar kepadanya. Beliau mengajari kita, mulai dari yang kita tidak tahu menjadi tahu, yang belum kita alami diajak untuk mencoba dan mengingatnya, dan akhirnya kita mulai mengerti apa-apa saja yang telah kita pelajari.

 

Jangan salah, disini bukan berarti bahwa apa yang sang guru berikan, kita sudah dapat mengerti semuanya. Mungkin karena si A cerdas dan punya "Wu" (daya nalar dan kesadaran yang tinggi) dia dapat 80% dari apa yang diberikan oleh sang guru. Tetapi, ada murid yang lain hanya bisa menangkap 20% dari apa yang diberikan oleh sang guru.

 

Nah… masalahnya adalah…. Diantara kita-kita ini, rambut boleh sama hitamnya, tetapi sikap diri, pola pikir dan pola tindak kita berbeda. Kalau yang menerima 80% dari materi yang ada, kemudian dianggapnya ia sudah menerima 100% dari ajaran sang guru dan merasa apa yang di catat merupakan omongan dan maksud sang guru 100%, kemudian memakai nama sang guru untuk menggurui orang lain. Ini adalah awal penyimpangan ajaran-ajaran yang murni sang guru.

 

Kalau yang menerima 20% dari materi yang ada, dan kita menganggap kita sudah menerima 100% dari ajaran sang guru, dan bertindak sama seperti diatas. Maka bisa dibayangkan… Rusak ajaran sang guru, juga rusak nama sang guru, yang terkadang kita tida sadar bahkan berbangga diri bahwa apa yang kita sampaikan ke orang lain membantu sang guru menyebarkan ajarannya. Ironis memang. Disinilah bahwa satu nilai diri diuji tapi kita tidak sadar.

 

Kasus lain… kalau yang menerima 80% dari ajaran sang guru tersebut itu nilai dirinya rendah, maka nilai ajaran itupun menjadi rendah nilainya. Sebaliknya, meskipun kita menangkap 20% dari ajaran sang guru, tetapi kalau kita memiliki nilai diri yang cukup, maka ajaran yang 20% ini akan juga diterapkan dan menjadi 20% ajaran tersebut bernilai juga. Jadi.. sedikit demi sedikit, nilai diri kita pupuk, kita tempa. Maka sebenarnya tao/TAO sudah ada dalam diri kita.

 

Salam Tao

Share

Currently have 4 Comments

  1. artikelnya mantaap

  2. Guru yang baik tentu harus membina spy muridnya mendapat kemajuan. Kalau sudah di angkat kemudian ditelantarkan apakah guru itu baik ?

  3. Murid seharusnya yang mau belajar, ingin mengejar ilmu. Jika murid hanya duduk diam dan inginnya di cekokin saja ilmu nya, Ngapain jadi murid ? Cari lah ilmu, jgn cuma mw di cekokin saja.

    Belajar Tao seperti d universitas, kamu tidak mencari, kamu tidak akan maju. Belajar Tao sifatnya pribadi, kamu mau maju, ya kamu kejar.

    @ q : Kenapa guru yang di salahkan ?

  4. "Guru yang baik tentu harus membina spy muridnya mendapat kemajuan. Kalau sudah di angkat kemudian ditelantarkan apakah guru itu baik ?"

    @q: maaf kk, kenapa bisa muncul pemikiran dan tulisan seperti itu dalam menanggapi artikel ini?
    Saya sangat menyayangkan munculnya pemikiran dan tulisan tsb.

    Mohon untuk review kembali arti dari tulisan kk tsb...benarkah kenyataanya demikian?
    Terimakasih sebelumnya kk.

Leave a Reply








*