Intan Dalam Debu – the web

Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Posted by adminidb September 1, 2012, under Volume 32 | No Comments





Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Oleh : C.K. Ong

 

Di dalam kehidupan ini, hampir semua orang pernah ingin menjadi seperti seseorang yang dia idolakan, dan berpikir; "Aduh, kenapa saya tidak di lahirkan menjadi dia yach?"  Apakah Tao (Tuhan) itu sudah adil dalam menjadikan anda/saya seperti yang sekarang ini? Yang terlahir dalam kehidupan yang nyaman dan senang biasanya akan mengatakan; "Tao (Tuhan) itu sudah adil adanya", namun sebaliknya yang memiliki kehidupan yang kurang menyenangkan, mungkin tiap hari telah mencaci maki Tao (Tuhan) yang di anggap tidak adil.

 

Apakah Tao (Tuhan) sudah adil ?

Apakah Tuhan seperti seorang guru kesenian yang menunjuk aktor atau artis untuk sebuah pentas acara, yang tiba-tiba seseorang bisa ditunjuk menjadi seorang aktor utama, misalnya; anda jadi presiden, anda jadi boss, anda jadi penjahat, anda jadi ilmuwan, anda jadi orang idiot, anda jadi tukang becak dan sebagainya, tanpa adanya pertimbangan? Kalau memang begitu adanya, maka dapat kita katakan bahwa Tuhan itu tidak adil karena tanpa dasar menjadi kita seperti sekarang ini.

 

Jika dunia ini tidak ada proses reinkarnasi (kelahiran kembali), maka dapat kita katakan bahwa Tuhan itu mungkin tidak adil dalam menciptakan kita. Karena "Dia" tidak mempunyai dasar pertimbangan yang jelas (logika) untuk menjadikan kita seperti sekarang ini, asal tunjuk untuk memberikan peran bagi seseorang dalam kehidupan ini.

 Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Apakah berarti TAO (Tuhan) sudah tidak adil dalam membagikan peran bagi kita dalam kehidupan ini ?

Sebagai seorang yang Siu Tao, kita diajarkan untuk tidak menerima semua teori secara mentah tanpa diolah terlebih dahulu. Kenapa orang Siu Tao dapat selalu mengatakan bahwa TAO itu sangat adil? Karena kita meyakini bahwa; segala sesuatu dalam dunia ini pasti ada penyebab sehingga timbul akibatnya.

 

Apakah kehidupan sekarang ini sebab atau akibat ?

Seperti sebuah roda Thay Cik (Yin Yang) yang terus berputar, sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab dan akan berputar terus menerus. Adanya SEKARANG adalah akibat yang LALU dan SEKARANG juga adalah sebab yang AKAN DATANG. Karena Thay Cik selalu memiliki bagian hitam dan putih, maka dapat dianalogikan sebagai berikut; putih adalah piutang/sebab dan hitam adalah hutang/akibat. Jika kehidupan yang lalu mempunyai hutang maka sekarang adalah waktunya untuk membayar. Karena kehidupan yang sekarang maupun yang lalu mempunyai piutang maka sekarang dan yang akan datang adalah waktunya untuk menagih/ dibayar, dan seterusnya. Sebab akibat akan selalu ada dan terus berputar karena itulah yang dinamakan keseimbangan.

 

Kalau begitu, kapankah akan berakhir proses hutang piutang maupun proses sebab akibat ini? Karena dikatakan bahwa; semua adalah seperti Thay Cik (salah satu pengertian Thay Cik utk diri ), apakah roda ini tidak akan pernah berhenti berputar dan apakah kita akan terus terjebak dalam putaran kehidupan ini secara terus menerus? Satu-satunya cara untuk membuat “Efek Thay Cik Diri“ ini tidak lagi berputar adalah hanya dengan menghilangkan atau melenyapkannya menuju “Wu Cik”. Maka ini yang dikatakan dari Thay Cik menjadi Wu Cik, dari ada menjadi tiada.

 

Bagaimana menghilangkan Efek Thay Cik Diri atau dari Thay Cik kembali ke Wu Cik ?

Dalam pengertian kita, segala sesuatu adalah bersumber dari diri sendiri. Diri kita yang menjadikan sebab dan mendapat akibat, dan hanya diri kita yang bisa berhutang atau berpiutang. Nah, tanpa diri kita berhutang maka tidak akan ada orang yang bisa menagih, sebaliknya tanpa diri kita menagih maka tidak ada orang yang perlu membayar. Kalau tidak ada lagi yg menagih dan kita juga tidak membuat tagihan, bukankah dengan demikian kita sudah memutuskan hubungan hutang piutang tersebut? Menghilangkan Efek Thay Cik Diri atau dari Thay Cik menjadi Wu Cik.

Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Perlu diingatkan bahwa yang dimaksudkan “Hutang” disini adalah perbuatan kita yang merugikan sehingga membuat orang tersebut akan menagih; misalnya janji, perbuatan merugikan orang lain atau dalam agama lain disebut sebagai karma buruk. Sedangkan “Piutang” adalah perbuatan baik seseorang sehingga bisa meringankan beban seseorang atau dapat disebut sebagai karma baik.

 

Bagaimana mungkin menghapus semua hutang kita dan bagaimana melepaskan semua piutang kita ?

Di dalam salah satu Ciang Tao dari seorang sesiung senior, dianalogikan bahwa perbuatan jahat adalah ibarat secangkir kopi dan perbuatan baik adalah ibarat air, bagaimana cara menghilangkan kopi dengan air? Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan air sebanyak-banyaknya sehingga warna hitam dari kopi itu akan pudar dan hilang dengan sendirinya. Ibarat satu gelas kopi kalau dituang ke dalam teko air, maka pasti akan tetap ada hitamnya, tapi kalau dituang ke dalam danau, maka hitamnya kopi akan hilang dengan sendirinya.

 

Sebuah analogi ini dapat membantu kita mengerti bahwa hanya dengan menghentikan perbuatan jahat (sehingga tidak lagi menuangkan gelas-gelas kopi baru) dan berbuat kebajikan sebanyak mungkin maka kita ibaratkan seperti membuat air (kebajikan) se-danau untuk menghilangkan kopi (kejahatan) tersebut. Ini adalah cara untuk menghentikan hutang, dan itulah sebabnya semua agama di dunia mengajarkan dan mendorong umatnya untuk berbuat banyak kebajikan.

 

Bagaimana untuk tidak menagih piutang ?

Ini sisi yang sering dilupakan oleh banyak orang. Dapat mengerti untuk tidak membuat hutang sehingga tidak bisa ditagih oleh orang lain dan berbuat kebajikan sebanyak mungkin, tetapi melupakan sisi yang satu ini, tidak menagih piutang. Sehingga tanpa disadari roda kehidupan ini masih terus berputar, karena kita masuk lagi (datang kedunia) untuk menagih piutang tersebut. Untuk tidak menagih, maka di perlukan kerelaan dan jiwa besar kita untuk membakar semua catatan piutang (daftar orang berhutang dengan kita) dan tidak lagi membuat catatan baru akan piutang-piutang tersebut. Cara membakar catatan piutang tersebut adalah dengan merelakan, memaafkan dan tidak lagi berpikir akan balasan. Oleh sebab itu kita diajarkan untuk tidak mendendam, melakukan sesuatu tanpa pamrih, berjiwa besar dan sebagainya. Hanya dengan demikian maka kita tidak lagi memerlukan catatan, karena semua adalah kosong (Gong).

Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Apakah sudah cukup hanya dengan berbuat baik, tidak lagi berbuat jahat, tanpa pamrih, dengan jiwa besar memaafkan dan sebagainya? Apakah perbuatan-perbuatan tersebut sudah bisa menghilangkan putaran Efek Thay Cik Diri ini? Bagi sebagian orang mungkin mengganggap bahwa ini sudah lebih dari cukup, tetapi bagi seorang Taoyu yang sudah mengerti akan TAO yang adil, maka proses ini hanya sebagian saja dari proses Siu Tao. Menurut keyakinan orang yang Siu Tao, yang membuat seseorang bisa terlahir kembali adalah sukmanya. Sukma itu adalah sesuatu yang abadi yang mengalami proses reinkarnasasi dari waktu ke waktu dan selama ini belajar dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Sekarang, timbul pertanyaan bagaimana kita dapat menyentuh sisi sukma kita, yang selama ini tidak terasa tetapi ada?

 Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Proses inilah yang membuat Siu Tao merupakan ajaran yang paling lengkap. Karena Siu Tao bukan hanya menyentuh sisi fisik maupun mentalitas atau moralitas seseorang tetapi juga mengasah sisi sukmanya. Melatih sisi sukma hanya bisa dilakukan dengan Cing Co (meditasi) yang merupakan bagian dari Lien Kung selain Shen Kung dan Chi Kung yang kita peroleh dari TAO YING SUK (TYS). TYS ini hanya diajarkan / diberikan kepada para murid Tao (Taoyu) atau seseorang yang menjalani Siu Tao. Hanya dengan Cing Co, kita bisa membuat Efek Thay Cik Diri yang memutar kehidupan kita dari waktu ke waktu menjadi Wu Cik sehingga menjadi tiada, yang juga berarti kita menjadi Shen Sien.

 

Untuk itu sangatlah disayangkan kalau dalam kehidupan ini, kita sudah bisa berjodoh dengan ajaran Tao melalui Guru Sejati kita tetapi menyia-yiakannya karena kebodohan maupun kemalasan kita. Harapan terbesar adalah kita membebaskan diri dari proses reinkarnasi. Minimal, piutang kita harus lebih banyak daripada hutang sehingga di kehidupan berikutnya setidak-tidaknya bisa lebih banyak menagih daripada di tagih, dimana menagih adalah suatu pilihan.

 

Selain itu dengan mengerti kenapa saya harus menjadi saya dan anda menjadi anda, maka minimal dalam hidup ini kita akan lebih bersyukur dan menikmati kehidupan ini dengan penuh kesenangan. Kita tidak perlu iri maupun dengki dengan kehidupan orang lain, karena kita mengerti bahwa saya tidak mungkin menjadi dia dan sebaliknya. Saya hanya bisa merubah nasib saya yang belum terjadi dengan berusaha lebih keras untuk memperbaiki diri melalui Siu Tao yang lebih sungguh-sungguh sehingga hidup saya pun akan penuh dengan kesenangan dan kebahagiaan, seperti halnya kehidupan anda.

Mengapa Aku tidak menjadi Kamu dan Kamu tidak menjadi Dia ?

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga berguna dan Salam Tao.

 

Pemahaman yg sungguh-sungguh, mendalam dan tepat, pastilah akan diwujudkan didalam tindakan nyata. Tindakan yg bisa diwujudkan dan dilaksanakan dengan nyata, pastilah dilandasi oleh pemahaman yg benar. - Lie Hung

Lakukan perubahan-perubahan kecil yang positif dlm hidup kita, karena perubahan kecil inilah yang akan membuat karakter kita jauh lebih baik lagi....jangan harapkan lingkungan berubah utk kita, sebelum kita mengubah diri kita sendiri. - Lie Hung

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*