Intan Dalam Debu – the web

CERPEN: White Dream

Posted by adminidb September 3, 2012, under Volume 32 | No Comments





CERPEN: White Dream

Pengarang : C Lie

 

Seorang laki-laki muda tampak murung, terduduk di taman bermain anak-anak yang sepi. Suara angin yang berhembus terdengar sendu, menggambarkan suasana hati si laki-laki.

 

Ia duduk menunduk memandang kakinya di bangku taman, menyadari bahwa ia tak memakai alas kaki. Kemudian, disadarinya ia mengenakan jubah putih, tanpa membawa apapun lainnya.

 

"Apa yang kulakukan disini?" gumamnya, merogoh jubahnya mencari petunjuk seperti handphone, dompet, atau apapun.

 

"Kau tidak akan menemukan apapun mengenai jati dirimu,"

 

Seorang laki-laki tua tiba-tiba telah duduk disampingnya, menjawab dengan suaranya yang jernih. Pak tua itu juga mengenakan jubah putih, tampak serasi dengan janggut putih panjangnya dan rambut putihnya yang disanggul ke atas.

 

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini? Mengapa taman ini sepi dan mengapa aku juga ada disini?" berondong si laki-laki muda itu bingung. "Mengapa itu penting bagimu?" si pak tua menjawab tenang.

 

"Aku tahu namaku. Abe. Tapi aku tidak tahu mengapa aku disini."

 

Abe berdiri memandang sekeliling. Tidak ada seorangpun di taman itu, namun ayunan dan jungkat-jungkit terlihat bergerak dengan sendirinya. Semua tampak diselimuti kabut tipis.

 

"Menurutmu, mengapa kau ada disini, Abe?" tanya si pak tua.

 

Abe memandang ke langit, segalanya putih buram, tanpa ada tanda-tanda siang atau malam. Tiba-tiba semua terasa aneh. "Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Abe, "Semua yang ada disini tampak tidak masuk akal. Ini pasti bukan kenyataan."

 

"Orang berpikir, bahwa mimpi adalah dunia khayalan," jawab si pak tua, "namun bermimpi sebenarnya hanyalah melihat kenyataan melalui kacamata yang berbeda."

 

Abe berusaha mengenali pak tua itu, berusaha mengenali wajahnya, namun semua terlihat buram. Ia dapat melihat figur badannya, jubahnya, namun ia tak dapat melihat wajahnya betapapun kerasnya ia berusaha. "Kau selalu berusaha mencari jawaban atas kebingunganmu," kata si pak tua sambil berdiri dan berjalan perlahan menyusuri taman, tampak melayang.

 

Abe terkejut namun berjalan mengikutinya. "Apakah itu buruk?"

 

"Tidak sama sekali. Kau mencari jawaban, karena kau percaya bahwa jawaban itu memiliki arti bagimu. Selama manusia terus mencari jawaban atas hidupnya, maka hidupnya akan bermakna."

 

Mendengar itu, Abe merasakan rasa sedih yang tiba-tiba, tanpa tahu mengapa. Pak tua itu berhenti dan menoleh memandang Abe.

 

"Kau sedang menghadapi kesulitan, bukan?" tanyanya tenang.

 

Angin telah berhenti berhembus, namun Abe merasa dingin.

 

"Aku tidak tahu mengapa, pak tua, aku hanya merasa susah. Hati ini rasanya sedih dan putus asa, namun aku tidak bisa ingat mengapa."

 

"Berjalan bersamaku, Abe,"

 

Pak tua itu menuju ke sebuah kotak lumpur besar tempat bermain anak-anak. Kotak itu dalam dan luas. Tepat di tengah-tengah, terdapat seperti jembatan kayu sempit yang menghubung ke seberang kotak lumpur itu.

 

"Tidak ada apa-apa disini, hanya kotak lumpur tempat bermain anak-anak" komentar Abe.

 

"Lihat dan pelajari. Ini adalah hidup." Abe memandang bingung. Namun sebelum ia sempat bertanya, seorang anak kecil berlari melewatinya, menuju kotak lumpur itu. Ia memandang ke seberang, dan memutuskan untuk menyeberang. Anak itu ragu-ragu melangkah. Langkahnya goyah saat menyusuri jembatan kayu sempit itu sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke dalam lumpur.

 

"Apa maksud..," Abe hendak bertanya, namun si anak bangkit dari gundukan lumpur itu, memanjat ke atas jembatan, mencari keseimbangan, dan mulai lagi berjalan. Belum lagi sampai tiga langkah, ia kembali tersungkur ke dalam lumpur. Ia terlihat sebal, dan tidak lagi berusaha memanjat naik, sebaliknya, dengan gusar berusaha menyusuri lumpur untuk menuju ke seberang. "Apakah ia tidak apa-apa?" kata Abe kasihan, "lumpur itu seperti menghisapnya. Kurasa kita perlu menolongnya."

 

"Menolong tidak akan menolongnya, jika ia tidak menginginkan. Lebih baik menunggunya menyadari dan berubah dengan sendirinya."

"Tapi.," Abe menyergah, namun dilihatnya anak itu tidak lagi memberontak dalam lumpur, sebaliknya ia terdiam dan memandang sekeliling. Ia berusaha menerjang maju, namun lumpur menghisapnya semakin dalam. Anak itu memandang ke atas dan melihat jembatan kayu. Dengan lumpur yang telah menghisapnya sampai pinggang, ia menggapai kayu itu dan menarik tubuhnya ke permukaan, tergelincir saat memanjat kembali ke atas jembatan. Gusar dengan upayanya yang terus membuatnya terjatuh, ia berdiri, dan berlari menyusuri jembatan itu, berharap melewati jembatan itu dengan cepat. Namun dengan berlari, ia tidak melihat permukaan kayu yang tidak rata dan memiliki gundukan. Ia terssandung dan lagi-lagi terjatuh ke dalam lumpur. Anak itu berteriak frustasi dan menangis marah.

 

Abe tertunduk. Tiba-tiba seluruh ingatannya terlihat begitu jelas. Masa kecilnya, saat ia berselisih dengan orang tuanya, saat kejamnya hidup merenggut nyawa ibunya, saat ayahnya terjerumus, saat ia terpuruk sendirian, saat kariernya tampak tersendat dan hilang arah, saat ia dikhianati sahabatnya, saat beradu mulut dengan kekasihnya, saat ia ditinggalkan, saat hidupnya tampak gelap dan sendirian. Abe mendesah dan memejamkan mata seakan ingin lenyap, lepas dari segala yang ia alami.

 

"Setiap manusia hidup di dunia dengan beban masa lalu yang harus ia pikul," Suara pak tua itu begitu jernih. Abe mendongak namun ia telah menghilang tanpa bekas.

 

"Pak tua?" panggil Abe, merasa kehilangan dan takut, "Jangan pergi!"

 

Abe berlari berkeliling mencari dengan putus asa, "Aku ingin jawaban! Tolonglah! Bantu aku!" jeritnya.

 

"Jawaban itu ada dalam dirimu. Buka pikiranmu, buka matamu," suara itu seakan berasal dari dalam kepalanya.

 

Abe menjerit ke langit, "Aku berusaha! Aku sudah berusaha! Tetap. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat."

 

Tidak ada jawaban, Abe hanya bisa terdiam.

Dengan langkah gontai ia menyusuri taman itu, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kemudian, ia ingat si anak kecil di dalam lumpur, dan Abe pun berlari kembali, berharap anak itu belum menghilang. Dijumpainya kotak lumpur yang luas itu, dan si anak kecil telah berhenti mengangis. Melihat Abe datang, anak itu memandangnya dalam diam.

 

"Apa kau bisa melihatku? Kemarikan tanganmu, akan kutarik kau kesini," ujar Abe, mengulurkan tangannya.

 

Anak itu tidak menjawab melainkan menatap Abe tanpa ekspresi, sorot matanya tajam. Beberapa saat dalam keheningan, anak itu akhirnya berpaling. Ia menerawang ke sisi lain dari kotak lumpur itu, dan Abe pun mengerti, anak itu ingin kesana dan bukannya kembali.

 

Pada akhirnya Abe pasrah, dan duduk bersila di sisi kotak lumpur itu, mengamati si anak kecil yang hanya termenung memandang ke seberang. Beberapa menit berlalu saat si anak kembali memandang Abe, kali ini dengan sorot mata yang berbeda, penuh tekad dan percaya diri, membuat Abe tertegun.

 

Sekali lagi, anak itu memanjat naik, mengabaikan rasa lelah di lengan dan kakinya. Penuh perhitungan, anak itu berjongkok di atas jembatan, berdiri perlahan seraya mengembangkan kedua lengannya, tubuhnya direndahkan, dan ia pun berjalan pelan namun mantap. Matanya terpaku pada sisi seberang kotak lumpur, dimana ada taman yang berbeda dari sisi dimana ia berasal. Seakan merasakan tekad si anak, Abe memandang penuh harap dengan jari terkait agar kali ini si anak dapat lolos. Ia telah berjalan separuh jalan dan masih terus melangkah, kali ini tanpa ragu. Saat tubuhnya tampak hilang keseimbangan, ia cepat menyesuaikan lengannya ke arah berlawanan dan kakinya mencengkeram kuat. Langkah demi langkah bukan lagi langkah kecil takut-takut, juga bukan langkah cepat dan tergesa, namun langkah yang penuh perhitungan dan mantap, menghindari gundukan-gundukan pada jembatan itu. Perlahan namun pasti, anak itu sampai di sisi lain jembatan itu, dan menoleh memandang Abe di sisi lain, yang kini hanya bisa balas memandang dengan sinar mata menari-nari.

 

"Giliranmu," bisik anak itu, namun dengan suara orang dewasa, seperti si pak tua. Abe terkesiap dan berusaha memanggilnya, namun anak itu telah berlari dan menghilang ke dalam cahaya putih. Abe mengernyit sedih. Kilasan-kilasan hidupnya kembali muncul, dan ia memeluk lututnya, gemetar dalam taman sepi itu. "Aku tidak tahu apa aku sanggup bangkit lagi, pak tua," bisik Abe, "Aku takut untuk menghadapi lebih banyak kesulitan. Semua ini telah begitu berat. Aku tidak tahu apa aku sanggup membawa beban yang lebih berat."

 

Tiba-tiba angin bertiup kencang membuat suara ribut dan membawa kabut putih. Abe tersentak dan melihat segalanya telah tertutup oleh kabut. Abe berusaha bertahan mencengkeram rerumputan, namun angin begitu kencang, dan tubuhnya perlahan terbawa angin ke dalam pusaran kabut.

 

"Bangkit, Abe," suara pak tua menggelegar, mengalahkan suara angin ribut itu dengan Abe masih berusaha meronta keluar dan menggapai-gapai.

 

"Setiap manusia memiliki beban yang harus ia selesaikan dan atasi. Jaga keseimbangan dalam hidupmu, maka kau tidak akan terpuruk. Buka mata dan pikiranmu, pelajari sekelilingmu dan rasakan dunia di bawah kakimu berputar. Berjalanlah maju, sampai akhirnya kau menyeberangi kotak lumpurmu. Berputus asa dalam lumpur hanya semakin menelanmu dalam keterpurukan. Gapai jembatan kayu itu! Berjalanlah diatasnya! Gunakan sebagai panduanmu ke seberang sana!"

 

Dalam pusaran itu dan suara angin yang semakin memekakkan telinga, Abe menitikkan air mata dan akhirnya berhenti meronta, menerima pasrah, dan tertelan dalam pusaran kabut. Pandangannya dipenuhi cahaya putih menyilaukan sebelum akhirnya semua hening dan gelap. Dibasuh keringat yang membasahi kaosnya dan telinga yang berdengung, Abe bangun dari tidurnya, terengah, dengan pikiran yang berkecamuk.

Share

No comment yet.

Leave a Reply








*